+ posts

“Kekerasan bukanlah anugerah. Kekerasan bukanlah kodrat dari Tuhan. Namun kekerasan dipelajari dari situasi sosial budaya kita yang sarat dengan nilai patriarki.”

Selama ini laki-laki telah diajarkan bahwa menjadi pelaku kekerasan adalah sah, dan perempuan diajarkan untuk menerima apa pun bentuk kekerasan yang dia alami. Hal tersebut terbukti salah. Laki-laki selalu menjadi pelaku dan perempuan selalu menjadi korban kekerasan bukanlah sesuatu yang harus kita lestarikan.

Pesan-pesan dalam Islam mengenai kesetaraan kedudukan manusia (lelaki dan perempuan) semestinya menjadi kesadaran utama. Sebab derajat seseorang diukur hanya berdasarkan ketakwaannya kepada Allah. Oleh karena itu, di dalam Islam, perempuan mendapatkan perlakuan yang mulia. Penyebutan “Ibumu, ibumu, ibumu (sebanyak tiga kali), baru kemudian ayahmu” saat Rasulullah mendapatkan pertanyaan dari salah seorang sahabat tentang siapa yang layak untuk terlebih dahulu mendapatkan penghormatan.

Peran ayah dalam pengasuhan anak sejatinya dalam Alquran juga telah dinarasikan dengan baik pada kisah Luqman dan anaknya. Di mana Luqman mengajarkan pada anaknya tentang bertauhid (mengesakan Tuhan) ketika berinteraksi sebagai khalifah di muka bumi di mana seseorang dilarang mengembangkan sikap sombong, menepuk dada, dan mengatakan “ah” pada orang tua (terutama pada ibu yang telah mengandung). Serta juga diajarkan untuk menghargai peran-peran reproduktif perempuan yang selam ini diabaikan dan tidak menanamkan sikap permisif terhadap kekerasan—termasuk kekerasan verbal.

peran aktif laki-laki dalam mencegah kbg

Dalah salah satu kisah lain, disebutkan pula bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi Muhammad SAW sambil membawa anaknya yang masih bayi. Rasulullah lalu menggendongnya, namun tak berapa lama si bayi pipis di pangkuan Baginda Rasul. Si ibu bergegas hendak merenggutnya, namun Rasulullah melarangnya seraya berkata padanya, “najis bekas air kencing bayi ini masih bisa dibersihkan. Namun, perlakuan kasarmu padanya akan membekas sepanjang hidupnya.” Kisah tersebut mengajarkan pada kita agar kita tidak melakukan kekerasan terhadap anak, karena mereka belajar kekerasan dari perilaku orang dewasa yang ada di sekelilingnya.

Dalam hadis lain, Nabi juga melarang untuk melakukan tindak kekerasan seperti memukul kaum perempuan. “Jangan lah kamu pukul perempuan-perempuan hamba Allah” yang populer disebutkan dalam hadis No.2148 Kitab HR. Sunan Abu Dawud yang menyiratkan pesan agar kaum musilmin tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Dengan mengoptimalkan peran ayah untuk bekerja sama dengan ibu dalam mengasuh dan mendidik anak, serta berbagi peran secara adil berdasarkan kesepakatan bersama dalam mengelola urusan rumah tangga dan menggali narasi-narasi tentang maskulinitas positif untuk diterapkan dalam kehidupan keseharian, insya Allah upaya membangun relasi adil gender dan mencegah kekerasan berbasis gender sejak dini bisa diterapkan.

Bila dunia yang sarat dengan kekerasan akibat budaya patriarki ini adalah konstruksi sosial yang dibangun manusia, maka sejak saat itu pula kita harus bertekad untuk mengubahnya. Sebab dunia yang adil, setara, damai, dan nir kekerasan adalah harapan kita semua.

“Tidak memuliakan perempuan kecuali orang yang mulia. Dan tidak menghinakan perempuan kecuali orang yang hina,” riwayat hadis Ali bin Abi Thalib.

 

Fokus 1: Pelibatan Laki-laki dalam Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender
Fokus 2: Feminis Laki-laki: Adakah?
Fokus 3: Urgensi Pelibatan Laki-laki dalam Penghapusan Kekerasan
Fokus 4: Revitalisasi Peran Ayah dan Membangun Maskulinitas Positif
Fokus 5: Islam dan Pesan Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Similar Posts:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here