I Gusti Agung Ayu Jackie Viemilawati adalah seorang psikolog berdarah Bali-Jawa. Jackie bergabung di Yayasan pulih sejak 2004. Ia mengenyam pendidikan S1 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (2002) dan meraih gelar S2 di universitas yang sama pada 2004. Pada 2014, Jackie lulus mendalami bidang Antropologi Medis di School of African Studies (SOAS), Inggris. Berikut wawancara Swara Rahima terkait pelibatan laki-laki dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan bersama Jackie Viemilawati.

 

T: Menurut Anda, mengapa laki-laki penting untuk mendukung gerakan perempuan dan apa alasannya?

J: Kalau boleh saya flash-back sedikit tentang adanya wacana pelibatan laku-laki, itu juga terkait gerakan perempuan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan yang merupakan hak asasi manusia. Tujuannya untuk menghapus segala bentuk diskriminasi dan kekerasan yang dialami perempuan sebagai akibat budaya patriarki, yang menempatkan perempuan sebagai kelompok nomor dua. Situasi ini akan menjadi lebih kompleks bila dilekatkan dengan status sosial perempuan lainnya. Seperti usia, disabilitas, dari ekonomi yang kurang. Saat gerakan perempuan muncul, sering kali hal ini dianggap hanya sebagai isu perempuan, padahal nilai-nilai yang diperjuangkan adalah nilai-nilai kesetaraan. Bila ini yang diperjuangkan, semestinya kelompok yang termarginalkan bisa terakomodir, karena yang mesti diotak-atik adalah konstruksi gendernya akibat dari semua hal yang dilekatkan pada perempuan.

Laki-laki sebagai makhluk sosial, sebenarnya dia juga ter-gender-kan mengingat sebenarnya isu gender berdampak pada manusia, tanpa memandang jenis kelamin. Akan tetapi, konstruksi gender yang sedemikian rupa ini menempatkan laki-laki pada posisi lebih tinggi. Menurut saya, ini isu universal manusia sehingga laki-laki perlu dilibatkan. Dan tujuan dari gerakan ini adalah untuk mendukung kesetaraan gender. Mendukung tidak sekedar mendukung, tapi dia harus menjadi bagian dan ini harus merupakan panggilan yang muncul dari dalam.

T: Melalui kegiatan atau aktivitas apa saja upaya-upaya itu bisa dilaksanakan?

J: Selama ini kami menggunakan kerangka berpikir perubahan perilaku. Dan ini erat kaitannya dengan teori psikologi, bagaimana perilaku seseorang dibentuk, tidak sekedar dari faktor gendernya saja, tapi juga dari faktor sosial, bagaimana hal ini dilakukan. Karena tujuannya adalah sebuah perubahan, di mana dia sendiri adalah bagian dari perubahan tersebut. Kami melihat perubahannya menggunakan pendekatan psikologi yang diintegrasikan pada tiga hal. Kalau di ekologi ada tingkat individu. Individu dipengaruhi oleh keluarganya, dan keluarganya dipengaruhi oleh komunitas atau sistem komunitas yang berlaku, dan negara serta sistem sosial budaya yang lebih luas. Upaya mendukung perubahan itu bisa lebih cepat bila intervensinya dilakukan di semua level tersebut.

Kalau kita melihatnya dari subjeknya, laki-laki, kita bisa melihatnya sebagai klien atau individu, dia sebagai pasangan, dan dia sebagai agen perubahan. Pada dasarnya pelibatan laki-laki ini mengarah pada upaya transformasi gender.

T: Apa yang dimaksud dengan pendekatan transformasi gender?

J: Pendekatan transformasi gender merupakan sebuah pendekatan yang sering kali dipakai sebagai pendekatan program untuk lebih kritis melihat konstruksi gender. Tidak hanya memahami demikianlah keadaannya tetapi memahami lebih dalam dampaknya apa, dan bagaimana perubahannya. Karena transformasi gender pada dasarnya memahami bahwa gender itu konstruksi, sehingga bisa diubah.

Jadi, perubahan seharusnya menguntungkan laki-laki dan perempuan yang terdampak konstruksi gender tersebut. Supaya tidak ada lagi isu-isu sosial seperti kekerasan yang muncul akibat dari konstruksi gender tersebut. Secara psikologis adalah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.

T: Ikhtiar apakah yang selam ini Anda lakukan melalui Yayasan Pulih terkait dengan pelibatan laki-laki dalam penghapusan kekerasan berbasis gender?

J: Hal ini terkait dengan lingkup pekerjaan Yayasan Pulih yang bergerak di pelayanan. Jadi pencegahan yang dilakukan sebenarnya adalah pencegahan sekunder. Seseorang biasanya datang ke kami sebagai korban atau pelaku, lalu dia mengikuti konseling. Nah, pada proses konseling tersebut kami menggunakan perspektif transformasi gender.

Kepada klien perempuan, konseling dimaksudkan agar dia mampu mengambil keputusan pribadi dan menentukan sendiri relasi apa yang sebenarnya ia inginkan.

Untuk pencegahan yang sifatnya bukan pelayanan klinis atau konseling, kami juga memperkenalkan literasi, edukasi, konten, dan pengembangan kapasitas yang sifatnya menggunakan pendekatan transformasi gender. Karena sebenarnya Pulih itu bergerak di isu kekerasan, baik yang berbasis gender maupun struktural.

T: Apa tantangan bagi semua proses tersebut?

J: Karena upaya ini terkait dengan mengubah konstruksi gender, tantangannya adalah perempuan sudah melakoni peran gender yang sedemikian rupa, sehingga tantangan itu tidak hanya dari perempuan tapi masyarakat yang menganggap bahwa peran itu sudah takdir. Kalau di kalangan perempuan itu lebih mudah karena mereka merasakan ketidakadilan. Sementara, kalau di kalangan laki-laki itu lebih sulit, maka masuknya melalui isu pengasuhan. Selain itu, di ruang-ruang klinis mereka sudah cukup sering terpapar dengan apa yang diakibatkan dari konstruksi gender yang sedemikian rupa yang muncul dalam bentuk keluhan, seperti pekerjaan, makna, identitas diri, dan orientasi seksual. Jika mereka datang dengan permasalahan yang dihadapi, akan lebih mudah memberikan pemahaman bagaimana konstruksi gender itu sedemikian mempengaruhi bias gender.

T: Bagaimana Anda berupaya menggali semangat penghapusan kekerasan berbasis gender dari perspektif ilmu psikologi?

J: Terkait dengan kekerasan berbasis gender, ilmu psikologi banyak sekali yang membahas tentang kesehatan mental. Yayasan Pulih sering diminta bicara soal itu bila terkait dengan dampak, trauma, dan sebagainya. Pergerakan ilmu psikologi bukan hanya bicara soal dampak dari kekerasan berbasis gender, namun juga dari pencegahannya.

Di kalangan psikolog, kini sudah muncul konseling-konseling yang berperspektif feminis. Akan tetapi hal tersebut menyebabkan muncul kalangan psikolog yang melihat gender ya as it is. Namun itu tidak cukup.

Di samping itu ada juga gerakan psikolog yang tidak bias gender lagi. Misalnya, ada seorang istri yang tidak suka berhubungan seksual dengan suaminya, suami istri dianggap sama. Jadi harus diperbaharui adalah komunikasinya. Bukan cara pandang kita yang harus diubah tentang melihat relasi kuasa antara suami istri.

Semangat dari teori psikolog adalah mendobrak atau memberi ruang bagi seseorang untuk membebaskan diri dari konstruksi gendernya.

T: Apa kontribusi ilmu psikologi dalam melihat persoalan gender ini?

J: Pendekatan psikologi juga memperkenalkan bahwa gender memang konstruksi sosial yang seakan-akan oleh setiap orang itu akan dihayati sama. Namun, hakikatnya psikologi berkontribusi untuk melihat bahwa bagaimana relasi kuasa ini dihayati dan dipraktikkan dalam level mikro. Sehingga dia memberikan ruang untuk mendapatkan kesimpulan bahwa tidak semua laki-laki sama dan tidak semua perempuan sama. Karena pada hakikatnya gender tidak hanya socially constructed tapi juga personally constructed.

Mengenai pelibatan laki-laki—terlepas apakah dia menyatakan diri sebagai feminis laki-laki atau laki-laki pro feminis—di kalangan aktivis perempuan Indonesia memang ada sikap setuju dan tidak setuju.

T: Bagaimana tanggapan Anda terhadap beragam reaksi tersebut?

J: Menurut saya wajar saja. Wajar karena selalu ada tesis dan antitesis. Selagi cukup kuat untuk memperjuangkan ruang ini ya sah saja. Menurut saya, ini bagian dari kebebasan berpendapat.

T: Menurut Anda, seberapa penting untuk melibatkan tokoh agama yang mayoritas berjenis kelamin laki-laki dalam program penghapusan kekerasan berbasis gender ini?

J: Hal tersebut sebenarnya menjadi target yang oke banget dalam perubahan sosial, karena mereka menempati posisi-posisi kunci yang penting dalam struktur sosial di masyarakat. Tokoh agama dan tokoh masyarakat sering kali dijadikan teladan kehidupan keagamaan yang baik, jadi mereka adalah aset, sepanjang dia memiliki perspektif gender yang baik.

T: Bagaimana cara Anda menghadapi resistensi yang beragam dari kelompok yang juga beragam terhadap kehadiran feminis laki-laki yang berlatar belakang tokoh agama?

J: Kalau kita belajar dari negara-negara lain yang sudah melaluinya, setara gender itu sebenarnya bisa meskipun ada juga faktor-faktor sosial ekonomi lainnya. Karena sebenarnya itu permasalahan manusiawi. Cuma menurut saya yang sangat dibutuhkan adalah tokoh-tokoh agama yang punya pandangan progresif itu sudah ada dan sudah banyak. Tapi suara mereka perlu lebih bergema.

T: Apa harapan Anda terhadap para tokoh agama laki-laki, terutama terkait dengan upaya penghapusan kekerasan berbasis gender?

J: Menurut saya, kajian progresif yang mempromosikan kesetaraan gender itu sudah banyak. Namun bagaimana agar para tokoh agama laki-laki itu bisa lebih gencar untuk mempromosikan nilai-nilai itu kepada para jamaahnya. Sehingga menjadi kesadaran masyarakat yang lebih luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here