Oleh : Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm.

Said Nursi Hoca Efendi, seorang ulama dari Turki, menjawab dengan cara yang unik ketika ditanya mengapa dalam Islam laki-laki dan perempuan harus menikah dulu sebelum melakukan hubungan seksual. Menurut beliau, “Ketika seorang pria hendak menikmati kenikmatan yang berlangsung selama delapan menit, paling-paling dia hanya rugi delapan lira. Adalah tidak adil jika akibat kenikmatan yang dialami bersama antara laki-laki dan perempuan selama delapan menit tersebut hanya ditanggung perempuan seorang diri selama delapan bulan.”[1]

Pernikahan dengan demikian mempunyai fungsi moral spiritual dan sosial agar seorang anak dapat tumbuh kembang dalam asuhan bersama ayah dan ibunya. Fungsi ini juga agaknya yang bisa didapatkan dari tradisi nasab dengan mematri nama ayah pada nama anak. Dalam sistem sosial seperti ini, seorang laki-laki tidak bisa mengingkari tanggungjawabnya sebagai ayah karena masyarakat dengan mudah mengetahui kedudukannya sebagai ayah melalui nama seorang anak. Poin penting dalam penisbatan seorang anak pada ayah meski tanpa mematrikannya pada nama anak adalah tanggungjawab ayah atas anak.

Alquran sendiri menceritakan secara langsung dialog antara anak dengan orang tuanya. Menariknya adalah fakta bahwa dialog antara dengan ayah justru dominan. Dari 17 rumpun ayat yang tersebar di 9 surat, 14 rumpun ayat adalah tentang dialog antara anak dengan ayah, 2 rumpun dialog dengan ibu, dan 1 rumpun dialog dengan keduanya. Rumpun ayat tentang dialog antara anak dan ayahnya terdapat di Qs. Al-Baqarah/2:130-133 antara Nabi Ibrahim As dengan ayahnya dan antara Nabi Ya’qub As dengan anaknya, Qs. Al-An’am/6:74 antara Nabi Ibrahim As dengan ayahnya, Qs. Hud/11:42-43 antara Nabi Hud As dengan anaknya, Qs. Yusuf/12:4-5 antara Nabi Yusuf As dengan ayahnya, 11-14, 16-18, 63-67, 81-87, 94-98 memuat kisah dialog Nabi Ya’qub As dengan anaknya, 99-100 antara Nabi Yusuf As dengan ayahnya, Maryam/19:41-48 antara Nabi Ibrahim As dengan ayahnya, Qs. Al-Qashash/28:26 antara Syaikh Madyan dengan anak perempuannya, Qs. Luqman/ 31:13-19 antara Luqman dengan anaknya, Ash-Shaffat/37:102 antara Nabi Ibrahim As dengan anaknya yaitu Ismail. Dua rumpun ayat tentang dialog antara ibu dengan anaknya adalah Qs. Maryam/9:23-26 antara Maryam dengan janinnya dan Al-Qashash/28:11 antara Ibu Musa dengan anak perempuannya dan satu rumpun ayat tentang dialog antara anak dan kedua orang tuanya adalah Qs. Al-Ahqaf/46:17 antara kedua orang tua dengan anak yang tidak disebut namanya.

Tokoh legendaris terkait pendidikan anak oleh orang tua dalam Alquran juga adalah seorang ayah, yaitu Luqman yang terekam dalam Qs. Luqman/31:12-19 sebagai berikut:

وَلَقَدۡ اٰتَيۡنَا لُقۡمٰنَ الۡحِكۡمَةَ اَنِ اشۡكُرۡ لِلّٰهِ​ؕ وَمَنۡ يَّشۡكُرۡ فَاِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهٖ​ۚ وَمَنۡ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِىٌّ حَمِيۡدٌ‏  وَاِذۡ قَالَ لُقۡمٰنُ لِا بۡنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِاللّٰهِ ؕ اِنَّ الشِّرۡكَ لَـظُلۡمٌ عَظِيۡمٌ‏ وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسٰنَ بِوَالِدَيۡهِ​ۚ حَمَلَتۡهُ اُمُّهٗ وَهۡنًا عَلٰى وَهۡنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِىۡ عَامَيۡنِ اَنِ اشۡكُرۡ لِىۡ وَلِـوَالِدَيۡكَؕ اِلَىَّ الۡمَصِيۡرُ‏  وَاِنۡ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنۡ تُشۡرِكَ بِىۡ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهٖ عِلۡمٌ ۙ فَلَا تُطِعۡهُمَا​ وَصَاحِبۡهُمَا فِى الدُّنۡيَا مَعۡرُوۡفًا​ وَّاتَّبِعۡ سَبِيۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَىَّ ​ۚ ثُمَّ اِلَىَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَاُنَبِّئُكُمۡ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ‏ يٰبُنَىَّ اِنَّهَاۤ اِنۡ تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٍ مِّنۡ خَرۡدَلٍ فَتَكُنۡ فِىۡ صَخۡرَةٍ اَوۡ فِى السَّمٰوٰتِ اَوۡ فِى الۡاَرۡضِ يَاۡتِ بِهَا اللّٰهُ ​ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَطِيۡفٌ خَبِيۡرٌ‏ يٰبُنَىَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَاۡمُرۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَانۡهَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَاصۡبِرۡ عَلٰى مَاۤ اَصَابَكَ​ؕ اِنَّ ذٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ الۡاُمُوۡرِ​ۚ ‏ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِى الۡاَرۡضِ مَرَحًا ​ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُوۡرٍۚ وَاقۡصِدۡ فِىۡ مَشۡيِكَ وَاغۡضُضۡ مِنۡ صَوۡتِكَ​ؕ اِنَّ اَنۡكَرَ الۡاَصۡوَاتِ لَصَوۡتُ الۡحَمِيۡرِ

Artinya:

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Luqman berkata, “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Teliti. Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, Sesungguhnya seburukburuk suara ialah suara keledai.”

Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’an al-Adhim menuliskan riwayat turunnya kisah ini berkaitan dengan Qs. Al-An’am/6:82:

الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لٰٓئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

 Artinya:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ketika Rasulullah saw. membacakan ayat ini, para sahabat kemudian menyampaikan kesulitan mereka untuk menjaga keimanan dari kezaliman (syirik). Ayat tentang Luqman dengan demikian turun untuk memberi petunjuk bagaimana mendidik anak agar terhindar dari prilaku tersebut.[2] Iman kepada Allah yang mendorong prilaku manusiawi dan mencegah kezaliman mesti ditanamkan sejak dini.

Kisah Luqman ini berisi nilai fundamental yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah dan dengan makhluk-Nya. Kisah diawali dengan pesan bersyukur kepada Allah, namun manfaat sikap ini tidak kembali pada Allah, melainkan pada manusia sendiri. Menurut Musthafa al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi rasa syukur dengan memuji Allah mengarahkan manusia pada hal-hal yang benar, cinta kebaikan pada sesama manusia, dan mengarahkan manusia untuk memanfaatkan seluruh anggota tubuh dan semua nikmat yang diperolehnya untuk ketaatan pada-Nya.[3]

 Rasa syukur Luqman pada Allah karena dikarunia anak, mendorongnya sebagai ayah untuk mendidik langsung anak tentang nilai fundamental hidup, yaitu Tauhid (hanya menuhankan Allah) yang terjalin berkelindan dengan kemaslahatan. Karenanya, menuhankan apapun seperti harta, tahta, seks, kesempurnaan fisik, suku, bangsa, jenis kelamin, dll dan siapapun selain Allah seperti raja, tokoh, orang tua atau anak, suami atau istri bisa melahirkan kezaliman besar, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain dan alam. Syirik menjadi identik dengan kezaliman besar (dzulmun adhim). Luqman mengajarkan anaknya bahwa Tauhid sebagai dasar relasi spiritual (hubungan antara anak dengan Allah) juga menjadi dasar relasi parental (antara anak dengan orang tua) dan relasi sosial (antara anak dengan masyarakat dan lingkungan hidupnya) yang positif.

Tauhid memberikan tuntunan dalam membangun relasi parental yang proporsional di mana orang tua dan anak-anak saling memperlakukan pihak lainnya secara manusiawi. Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah pemilihan kata yaidhuhu yang bermakna memberi nasehat tentang kebajikan dengan cara yang menyentuh hati dan kata Ya Bunayya (wahai anakku) meneladankan cara komunikasi orang tua dengan anak yang penuh kasih tanpa bentakan.[4] Orang tua memperlakukan anak dengan penuh kasih. Namun Luqman sebagai ayah juga menasehati agar anak berbakti pada kedua orang tua, terutama telah mengalami rasa payah berlipat ganda (wahnan ‘ala wahnin) karena tubuhnya menjadi tempat berprosesnya sel telur dan sperma menjadi janin dalam kandungan selama berbulan-bulan hingga lahir sebagai bayi lalu memberikan susu selama dua tahun. Bakti seorang anak adalah cara berterima kasih pada orang tua yang telah melahirkannya, sebagaimana bakti seorang hamba pada Allah sebagai cara bersyukur karena telah menciptakannya. Relasi parental berbasis Tauhid melarang bakti anak pada orang tua dalam syirik. Anak tidak boleh berbakti dalam hal ini, meskipun tetap harus santun pada orang tua. Sayyid Quthub menegaskan bahwa perbedaan dalam hal akidah dengan orangtua tidak menggugurkan kewajiban anak untuk berbuat baik dalam hal muamalah dengan mereka.[5]

Luqman juga mengajarkan anaknya Tauhid sebagai dasar relasi sosial yang proporsional. Iman melahirkan kesadaran bahwa setiap tindakan manusia selalu diawasi oleh Allah sehingga sekecil apa pun ada balasannya. Karenanya, manusia diperintahkan shalat untuk peneguhan iman dan pada yang sama diperintahkan menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Iman dan shalat yang baik terefleksikan oleh prilaku sosial yang baik. Dalam melaksanakan peran sosial ini, Tauhid membatasinya agar dilakukan dengan penuh kesabaran dalam menerima konsekuensinya, tanpa keangkuhan misalnya dengan menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang, dan dengan menjaga keseimbangan agar tidak justru melahirkan kerusakan.

Luqman memberikan teladan bagaimana seorang ayah mesti terlibat langsung menanamkan nilai-nilai fundamental pada anak sejak dini agar tidak terjerumus pada prilaku mempertuhankan Allah dengan apapun dan siapapun atau syirik. Jika sejak dini anak dididik untuk tidak syirik, maka mereka dapat terhindar dari kezaliman yang besar. Kedekatan seorang ayah dengan anak sebagaimana ditunjukkan oleh Luqman juga ditunjukkan oleh sikap Rasulullah Saw. Kesibukan beliau dalam membimbing umat manusia, sama sekali tidak menjadi alasan untuk mencegah beliau terlibat langsung dalam pengasuhan anak. Bahkan, sikap baik pada keluarga adalah fondasi bagi sikap baik pada masyarakat.

Rasulullah saw. diriwayatkan aktif membangun kedekatan emosional dengan putra-putri dan juga cucu-cucu beliau dengan mencium, memeluk, memangku, dll sampai menimbulkan keheranan karena masyarakat belum terbiasa. Misalnya kesaksian Aisyah ra. tentang kedekatan Rasulullah saw. dengan putrinya yang bernama Fatimah ra. berikut ini:

“مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَشْبَهَ بِالنَّبِيِّ كَلاَمًا وَلاَ حَدِيْثًا وَلاَ جِلْسَةً مِنْ فَاطِمَةَ .قَالَتْ :كَانَ النَّبِيُّ إِذَا رَآهَا قَدْ أَقْبَلَتْ رَحَّبَ بِهَا ثُمَّ قَامَ  إِلَيْهَا فَقَبَّلَهَاثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهَا فَجَاءَ بِهَا حَتَّى يُجْلِسَهَا فِي مَكَانِهِ، وَكَانَتْ إِذَا أَتَاهَاالنَّبِيُّ رَحَّبَتْ بِهِ ثُمَّ قَامَتْ إِلَيْهِ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ”

Artinya:

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Nabi saw. dalam cara bicara maupun duduk daripada Fatimah.” ‘Aisyah berkata lagi, “Biasanya apabila Nabi saw. melihat Fatimah datang, beliau mengucapkan selamat datang padanya, lalu berdiri menyambutnya dan menciumnya, kemudian beliau menggamit tangannya hingga beliau dudukkan Fatimah di tempat duduk beliau. Begitu pula apabila Nabi saw. datang padanya, maka Fatimah mengucapkan selamat datang pada beliau, kemudian berdiri menyambutnya, menggandeng tangannya, lalu menciumnya.” (HR. Bukahri No. 947).

Demikian pula sikap beliau saw. pada cucunya sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:

قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

Artinya:

Nabi saw. mencium Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah saw. pun melihat kepada Al-‘Aqro’ dan bersabda: “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi, maka ia tidak akan dirahmati” (HR Bukhari No. 5997).

            Di samping memberikan teladan secara langsung, Rasulullah saw. juga menegur msyarakatnya yang memperlakukan anak-anak dengan cara yang tidak adil dan mengingatkan perlunya menjaga ketaqwaan pada Allah dengan memperlakukan anak secara adil. Penuturan sahabat Nabi yang bernama An-Nu’man bin Basyir ra. menunjukkan hal ini:

تَصَدَّقَ عَلَيَّ أَبِي بِبَعْضِ مَالِهِ، فَقَالَتْ أُمِّي عَمْرَةُ بِنْتُ رَوَاحَةَ :لاَأَرْضَى حَتَّى تُشْهِدَ رَسُولَ اللهِ .فَانْطَلَقَ أَبِي إِلَى النَّبِيِّ لِيُشْهِدَهُ عَلَى صَدَقَتِي، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ :أَفَعَلْتَ هَذَا بِوَلَدِكَ كُلِّهِمْ؟ قَالَ :لاَ .قَالَ :اِتَّقُوااللهَ وَاعْدِلُوا فِي أَوْلاَدِكُمْ .فَرَجَعَ أَبِي فَرَدّ تِلْكَ الصَّدَقَةَ

Artinya;

Ayahku pernah memberikan sebagian hartaya padaku. Berkatalah ibuku, ‘Amrah bintu Rawahah, “Aku tidak ridha hingga engkau meminta persaksian Rasulullah saw. atas pemberianmu itu.” Pergilah ayahku menghadap Nabi saw. untuk meminta persaksian beliau atas pemberiannya padaku. Rasulullah saw. pun bertanya, “Apakah engkau lakukan hal ini pada semua anakmu?” Dia menjawab, “Tidak!” Beliau berkata, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anak kalian!” Ayahku pun kembali dan mengambil kembali pemberiannya itu. (HR. Bukhari No. 2447)

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan kedekatan dengan anak yang diteladankan Rasulullah saw. menunjukkan bahwa pendidikan dan pengasuhan anak tidaklah menjadi tanggung jawab ibu semata, melainkan juga tanggung jawab ayah. Setiap orang tua termasuk ayah yang menginginkan anaknya sukses di dunia dan akherat mesti terlibat langsung dalam menanamkan dan meneladankan nilai-nilai fundamental kehidupan pada anak sebagai konsekuensi logis harapan tersebut.

 

Baca Juga
Tafsir 1 : Ayah, Mari Mengasuh Anak Bersama Ibu
Tafsir 2 : Ayah dan Pengasuhan Anak
Tafsir 3 : Keseimbangan Peran Ayah dan Ibu
Tafsir 4 : Community Parenting

 

Foot Notes
[1] Bediuzzaman Said Nursi, Tuntunan Bagi Perempuan, penerjemah Fauzi Faisal Bahreisy dan Joko Prayitno, Jakarta, Anatolia Prenada Media Group, 2009, h. 23.
[2] Abil Fida Ismail bin Katsir Ad-Damasyqi, Tafsir Al-Quran al-‘Adhim, Singapura, Kutanahazu Pinag, j. 3, h. 443-444.
[3] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, 1974, j. 19, h. 78-79.
[4] M. Qurais Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Jakarta, Lentera Hati, 2002, j. 11, h. 121.
[5] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Kairo, Darus Syauq, 1968, j. 5, h. 2781.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here