Oleh : M. Sofiyan Hadi

Kedekatan  saya dengan ketiga anak kami, bukan datang tiba tiba tetapi perlu proses yang cukup panjang baik dari sisi saya maupun anak-anak. Semula, kesibukan kerja dan ego sebagai laki-laki (yang juga seorang ayah) menjadi alasan saya menyerahkan sepenuhnya pengasuhan dan pendidikan anak kepada istri. Bukankah hal itu merupakan sebuah kewajaran dalam masyarakat? Itu juga yang berlaku di keluarga besar kami. Alasannya, Suami  adalah kepala keluarga dan pencari nafkah utama, sehingga tidak perlu lagi dibebani dengan urusan dalam rumah tangga.

Tetapi hal itu berubah sejalan dengan beberapa kegiatan yang saya ikuti, dan juga dari obrolan santai dengan kawan-kawan yang sudah sama-sama berkeluarga. Obrolan tentang keluarga menarik bagi saya, terutama bagaimana mereka (suami – istri) berbagi peran dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Ternyata mereka saling membantu dari mulai merawat bayi, penyediaan perlengkapan bayi/anak, bermain, mendidik, mengasuh, bahkan untuk hal yang tampak sepele seperti mengobrol dengan anak Hasilnya, anak-anak mereka terlihat lebih berani mengungkapkan hal yang dirasakan atau diinginkan dengan cara yang baik, menurut penilaian saya.

Hal baik itu lalu saya bawa ke rumah. Saya mulai membangun kedekatan emosional dengan anak-anak. Mulai dari obrolan ringan, mendengar cerita mereka di sekolah, atau cerita tentang teman sepermainan di sekitar rumah atau topik apa saja yang mereka inginkan, kemudian meningkat kepada obrolan yang serius. Cara sederhana tersebut ternyata efektif untuk membangun komunikasi yang baik. Cara ini memunculkan rasa ketersalingan antara ayah dan anak: saling percaya, saling menguatkan, saling terbuka dan saling melengkapi. Ada yang saya dapatkan dari kebersamaan itu. Saya bukan lagi hanya menjadi ayah tetapi menjadi teman mereka.

Harus saya akui waktu untuk kebersamaan saya dengan anak-anak tidaklah banyak, namun kami memaksimalkan waktu yang ada untuk selalu bersama. Selain bercerita, kami juga bergotong-royong membersihkan rumah. Melalui gotong-royong itu, saya ingin menyampaikan pesan kepada anak-anak bahwa pekerjaan rumah tangga bukanlah kewajiban Ibu (perempuan), tetapi  kewajiban bersama antara laki-laki dan perempuan, antara anggota keluarga.

 Hal lain yang kemudian saya juga sadari, kemauan dan kemampuan untuk menjadi ayah yang baik tidak hanya didasarkan pada teori dan teknik saja, tetapi sangat penting untuk melibatkan hati, niat dan kasih sayang di dalamnya. Menjadi ayah sejati bukanlah kewajiban semata, tetapi merupakan suatu kenikmatan ketika melihat anak anak tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Saya merasakan betul manfaat dari kedekatan ayah dan anak ini. Dari sisi anak, mereka menjadi mampu meminimalisir perilaku yang bermasalah, mereka dapat memperluas lingkungan sosial, meningkatkan kualitas  interaksi dengan teman sebaya, menunjukkan kemampuan pemecahan masalah yang optimal, berkembangnya kompetensi sosial-emosional pada akhir masa anak dan remaja. Hal yang lain, anak lebih antusias memberi salam atau menunjukkan kesantunan, dan memiliki kesehatan mental yang baik.

Ketika anak pertama kami duduk di kelas 11 (saat ini kelas 12, red). Ia telah mampu mengambil keputusan yang  tidak mementingkan dirinya sendiri. Justeru ia memberikan kesempatan kepada temannya untuk menjadi Sekretaris OSIS, padahal  teman temannya mencalonkan dan mendukungnyanya. Menurutnya, pertemanan lebih penting daripada sikap mau menang sendiri.Yang lainnya, ia berani mengambil resiko mengikuti lomba yang dia sendiri belum pernah mengikutinya. Hal itu dilakukan agar teman satu kelas tidak mendapatkan hukuman karena tidak ada satu pun yang mau.Dan dia berhasil. Satu kelas tak jadi dihukum. Sebagai ayah, hati saya bahagia. Buah yang kami tanam ada hasilnya{}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here