+ posts

 

Lantunan Asma’ al Husna dari santri Pondok Pesantren (PP) Darul Falah Besongo menggema hingga ke sudut-sudut jalan perumahan. Ritual itu untuk mengawali kegiatan mengaji, belajar kitab dan berbagai literatur karya ulama klasik. Ngaji pagi adalah sarana untuk membangun motivasi santri sebelum menjalankan aktivitas di hari yang akan dijalani.

Menjelang petang, para santri berduyun-duyun menuju Mushala Raudlatul Jannah, yang letaknya tidak jauh dari pondok. Setiap Ahad malam Senin, para santri  mendendangkan Maulid adz Dziba’ bersama warga sekitar. Kebersamaan tersebut merupakan bukti bahwa tak ada sekat antara santri dengan warga; justru keduanya saling bersinergi menciptakan harmoni.

PP Darul Falah Besongo terletak di Perumahan Bank Niaga Blok B-9 RT 02 RW 14 Kelurahan Tambakaji, Ngaliyan, Semarang. PP ini merupakan pesantren mahasiswa yang berbasis salaf. Pendiriannya dilatarbelakangi fakta bahwa tantangan modernitas bagi mahasiswa dari waktu ke waktu semakin besar. Banyak kaum muda termasuk mahasiswa UIN yang  aktivitas kesehariannya  kurang sesuai dengan ajaran agama, semisal, pergaulan yang cenderung bebas, berfoya-foya hingga kurangnya etika dan bertata krama yang sesuai dengan norma sopan santun yang berlaku. Atas dasar itulah, tumbuh semangat untuk memperbaiki citra moralitas mahasiswa Islam dengan menghadirkan model pendidikan pesantren di tengah masyarakat perumahan yang heterogen.

 

Kepedulian pada Mahasiswa

Nama Darul Falah merupakan bentuk tafa’ul-an dari PP Darul Falah Jekulo Kudus besutan KH. Ahmad Basyir yakni ayah dari Dr. Hj. Arikhah M.Ag. g. Sementara Besongo adalah alamat (asrama pertama) pondok yang berlokasi di Blok B nomor 9 (sekarang telah berkembang menjadi 5 asrama/rumah). Selain itu Besongo berasal dari “be”(English) artinya menjadi, dan “songo” artinya sembilan. Menjadi Sembilan adalah angka terbesar, bermakna berprestasi menjulang setinggi-tingginya berkarya dengan maslahah sebanyak-banyaknya. “Songo” juga sebagai simbol walisongo yang menyebarkan Islam dengan kesantunan dan kedamaian.

“Berdirinya pesantren ini sebagai konsentrasi dan kepedulian kami terhadap pemuda, khususnya mahasiswa,” terang Prof. Dr. KH. Imam Taufiq M.Ag, Pengasuh PP, suami Umi Arikhah. Lokasinya memang sangat strategis karena dekat dengan kampus UIN Walisongo Semarang. Kurikulum Pesantren dibuat oleh Pengasuh dengan mengombinasikan hard-skills, soft-skills maupun life-skills. Kombinasi ilmu pesantren salaf dengan tradisi kitab kuning, ilmu-ilmu kekinian yang mendukung studi santri di kampus seperti manajemen, jurnalistik, resolusi konflik, kebahasaan, juga ilmu-ilmu life-skills seperti memasak, menjahit, membuat baki lamaran, sulam pita, sablon juga kimia rumah tangga. Tujuannya, agar kelak santri baik putra maupun putri dapat berkhidmat lebih banyak di masyarakat.,

Pelatihan Pengarusutamaan Gender (PUG), Kesehatan Reproduksi (Kespro), penguasaan Teknologi Informasi dan sebagainya juga diberikan secara berkala dan terukur di setiap semester/kelas. Dalam proses belajar, tidak ada pembedaan para santri berdasarkan jenis kelaminnya. Semua mendapat ilmu yang sama sesuai dengan tingkat kelasnya, mulai dari kelas 1 sampai 4. Rentang waktu belajar santri dibatasi paling lama 4 tahun (8 semester).

Pembelajaran kesetaraan gender kepada  santri diberikan dengan  contoh dan teladan  langsung oleh pengasuh, baik oleh Abah Imam maupun Umi Arikhah. Mereka  bersinergi dalam menjalankan roda kepemimpinan pesantren. Pembelajaran tentang relasi yang setara juga didukung dengan upaya pemberdayaan perempuan, salah satunya dengan mengamanahkan kedudukan Lurah pondok kepada santri perempuan. Berbagai jajaran kepengurusan lainnya juga banyak dijabat oleh santri perempuan. Ini untuk menghapus stereotipe bahwa perempuan lebih lemah daripada laki-laki, karena yang membedakan manusia hanyalah soal ketakwaannya kepada Allah semata.

 

Tradisi Kutub al-Turats

Pesantren Besongo senantiasa mengkaji tradisi literatur klasik Islam melalui kajian kitab kuning . Model pengajian khas pesantren salaf seperti bandongan (guru membaca kitab sementara santri memaknainya) dan sorogan (santri membaca kitab di depan guru) tetap eksis di pesantren ini. Semuanya dipertahankan oleh pesantren sebagai upaya menjaga tradisi baik yang sudah lama terbentuk. Namun, ada juga ngaji model halaqah dan bahtsul kutub untuk menambah daya kritis dan ketajaman analisis para santri.

Pengkajian kitab kuning sesuai dengan kelas santri yang ada. Dari kelas satu sebagai pemula sampai kelas empat di tingkat akhir. Kajian meliputi banyak disiplin ilmu. Seperti bidang ilmu Tauhid ada kitab Tijanud Durari, Aqidatul Awam, dan Kifayatul Awam; bidang Fiqh seperti kitab Fathul Qarib, Sullamut Taufiq, dan Bidayatul Mujtahid; di bidang Akhlak dan Tasawwuf ada kitab Ta’limul Muta’allim, Minhajul Abidin dan Ihya Ulumuddin; di bidang al-Quran dan Tafsir ada kitab Mukhtasor al-Itqon fi Ulumil Qur’an dan tafsir tematik (maudhu’i); dan kitab Arbain an Nawawi serta Bulughul Maram di bidang hadis.

 

Berkhidmah di Masyarakat, Kembangkan Life Skills dan Berbahasa Asing

“Salah satu ciri pesantren adalah dengan berkhidmad,” begitu penggalan kalimat Umi Arikhah dalam satu kesempatan kegiatan pasca liburan. Beliau juga menekankan Tujuane urip kuwi ming golek ganjaran lan seduluran. (tujuan hidup itu sejatinya hanyalah mencari pahala -nilai di depan Tuhan- dan persaudaraan). Kalimat ini mengandung falsafah yang tinggi, yakni menjalani hidup dimotivasi oleh Allah, dengan cara-cara Allah (syari’at) dan tujuannya untuk ridla Allah. Dalam kenyataan hidup bersosial sesama manusia semua santri dimotivasi untuk persaudaraan, artinya dalam menjalani hidup jangan pernah ada niatan untuk menyakiti apalagi memperdayai sesama manusia, sehingga kita mendapatkan saudara sebanyak-banyaknya.

Berkhidmah berarti menjadi pelayan di masyarakat, oleh karenanya para santri harus bisa memainkan perannya (berkontribusi secara maslahah) di tengah masyarakat. Siap dan tanggap dengan kebutuhan masyarakat. Ada beberapa program Pesantren yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti pengkaderan juru pemantau jentik (Jumantik) yang mengadakan pemantauan jentik nyamuk setiap minggu di rumah warga sekitar, konservasi lingkungan, pelayanan kesehatan (pos yandu),  pengajian bagi warga yang diawali dengan pemeriksaan kesehatan, pengentasan buta huruf Alquran bagi masyarakat sekitar, dll.

“Ilmu itu tidak berjenis kelamin, tidak ada ilmu wedok (perempuan) atau lanang (laki-laki). Oleh karenanya semua santri harus bisa segala macam keterampilan, tidak membedakan jenis kelaminnya, selagi dia mau belajar,” begitu dhawuh Umi Arikah. Semua program keterampilan dilaksanakan pada hari Sabtu dan Ahad saat kegiatan akademik kampus libur, diikuti oleh semua santri sesuai dengan jadwal dan kelas masing-masing.

Sebagai upaya mengembangkan literasi, Pesantren Besongo memberikan perhatian lebih pada penguasaan bahasa asing (Inggris dan Arab). Intensifitas bilingual diadakan tidak lain karena sebagian besar literatur yang dikaji berbahasa Arab dan Inggris, sehingga santri diharapkan dapat memahaminya dengan baik. Selain itu, dalam interaksi sehari-hari antara santri dengan Pengasuh dan sesama santri juga menggunakan kedua bahasa tersebut.

Penunjang lainnya adalah latihan public speaking dengan empat bahasa seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris. Kegiatan mingguan ini dilakukan supaya santri dapat belajar bagaimana menyampaikan informasi atau pesan di depan umum dengan baik mulai dari materi yang disampaikan, pelafalan dan mental santri. Melalui berbagai upaya ini, diharapkan Pesantren Besongo kelak akan melahirkan santri dan alumni yang dapat bersaing dalam menghadapi tantangan zaman serta bermanfaat bagi masyarakat, agama dan bangsa. Tentu dengan senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang damai, santun dan egaliter. {} Muhammad Aniq & M. Badruz Zaman, Santri Besongo Asrama B17.

Similar Posts:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here