Oleh : Nurkhayati Aida

Orang mengenalnya dengan Mullah Sadra, peletak dasar mazhab ketiga filsafat Islam – Hikmah Muta’aliyah. Terlahir dengan nama Muhammad Sadruddin Bin Ibrahim Yahya  Qawwami  Syirazi pada tahun 979 H/ 1571 M di Syiraz, sebuah kota di Persia – yang pada tahun 1935 berubah menjadi Iran.

Lahir dan besar dari keluarga yang sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan, Sadra dikaruniai kecerdasan luar biasa. Konon gurunya, Mir Damad, sempat menangis saat membaca salah satu karya Mullah Sadra yang begitu luar biasa. Gurunya terharu memiliki murid yang kecerdasannya melebihi kecerdasannya dirinya.

Mullah Sadra dianggap berhasil menegosiasikan dua mazhab besar filsafat terdahulunya; Paripatetik (Masya’iyyah) dan Iluminasi (Isyraqiyah) dengan lahirnya mazhab Hikmah Muta’aliyah.  Hikmah Muta’aliyah mirip dengan filsafat ‘Israqiyyah dalam memadukan pendekatan rasional dengan pendekatan kasyf dan syuhud, tetapi berbeda dalam sisi interpretasi dan konklusi. Melalui hal ini, ia telah berhasil mendamaikan dan memecahkan perselisihan-perselisihan yang ada antara Masysyaiyyah dengan ‘Isyraqiyyah, atau antara filsafat dengan ‘irfan, antara filsafat dengan kalam.

 

Tasykik al Wujud  (Gradasi atau Ambiguitas Wujud)

Di antara gagasan yang dikemukakan oleh Mullah Sadra, tasykik al wujud menjadi gagasan yang layak untuk diperhatikan untuk menjadi acuan bagaimana menyikapi berbagai keadaan yang ada saat ini. Tasykik al wujud bisa digunakan untuk menjadi landasan filosofis membumikan perilaku adil, kebajikan dan terutama adalah bagaimana cara memperlakukan makhluk hidup dengan baik.

Dalam bahasa Indonesia tasykik al wujud mempunyai arti gradasi atau ambiguitas  wujud. Haidar Bagir lebih memilih menggunakan kata ambiguitas untuk pengalihbahasaan tasykik   yakni gambaran wujud tunggal yang memiliki gradasi berbeda -disebabkan oleh tingkat kualitas yang ada pada wujud tersebut. Mullah Sadra dalam memisalkan Tasykik al wujud  terilhami oleh konsep cahaya yang diajukan oleh Suhrawardi dimana  cahaya dipandang sebagai perkara yang badihi (aksiomatik). Jelas dan tak butuh definisi. Menurut Suhrawardi, jika wujud tak butuh definisi dan penjelasan, dikarenakan wujud/Ada adalah sesuatu yang nampak, maka tak ada sesuatu yang lebih nampak dibanding dengan cahaya. Mullah Sadra membuat permisalan wujud/Ada dengan cahaya. Jika semua yang “ada” berbentuk cahaya, matahari-lah cahaya yang sangat terang. Lalu gradasinya adalah cahaya terang, cahaya sedikit terang, cahaya temaram, dan terakhir sekali adalah ketiadaan cahaya.

 “Wujud/Ada” dengan permisalan cahaya ini mengandaikan Tuhan bagi alam materi, yang pada dasarnya adalah satu cahaya yang sama dengan perbedaan kualitas cahayanya. Tuhan “Ada” dan manusia juga “ada”, pada posisi ini kita meyakini bahwa Tuhan dan manusia pada keberadaan yang sama yaitu wujud/ada. Pertanyaan berikutnya adalah apa yang membedakan wujud/ada-nya Tuhan dan adanya manusia? Itulah yang ingin dijawab oleh Mullah Sadra dengan gagasan Tasykik al wujud. Bahwa Tuhan dan manusia itu ada dengan persamaan keber”ada”annya dan berbeda karena kualitasnya. Mafhum-nya sama, namun misdaq-nya berbeda. Begitu ilmu Manthiq berbicara.

 

Me-liyan-kan Sesama dan Ketiadaan Cahaya

Al katsrah fi ‘ainil wahdah wal-wahdah fi ‘ainil (pluralitas dalam ketunggalan dan ketunggalan dalam pluralitas). Demikianlah bahasa Mullah Sadra membahasakan apa yang terjadi dalam tasykik al wujud. Lalu apa yang bisa ditarik dari tasykik al wujud  untuk kemudian dibenarkan bahwa filsafat tidak lain adalah pembahasan tentang diri sendiri yang paling dekat? Baik, bahwa segala apa yang ‘ada’ adalah cahaya. Satu cahaya dengan berbagai intensitas dan kualitas cahayanya masing-masing. Semakin dekat pada sumber cahaya, kualitas cahaya yang dimiliki oleh pantulan cahaya akan semakin bercahaya. Sebaliknya, bagi cahaya yang jauh dari sumber cahaya, hanya akan berada dalam keti-ada-an cahaya.

Berada dalam ketiadaan cahaya membuat manusia pada prasangka dan kebencian. Lebih jauh ketiadaan cahaya akan menggiring untuk selalu merasa benar. Ketiadaan cahaya adalah saat orang mulai meniadakan dan me-liyan-kan sesama manusia. Ketiadaan cahaya ada dalam berbagai bentuk kejahatan dan penistaan.

Menganggap lebih tinggi diri sendiri dan merendahkan lainnya adalah bentuk ketiadaan cahaya. Boleh jadi sikap itu dimaknai sebagai sombong, jumawa, atau (merasa) paling benar. Sayangnya, (anggapan) itu salah, tidak benar, karena yang terjadi sesungguhnya adalah sebuah usaha untuk menegasikan cahaya yang membuat ‘ada’, itu adalah proses membunuh cahaya yang telah memberikan cahaya. Juga sama halnya menganggap salah satu jenis kelamin lebih rendah, lalu memberikan perlakuan yang berbeda, melibas hak atau bahkan menyudutkannya pada ruang-ruang kebencian adalah sama, bahwa itu adalah keti-ada-an cahaya.

Bahwa semua ciptaan baik laki-laki perempuan dengan berbagai jenis kelamin, warna kulit, ras, agama, suku bangsa, bahasa adalah sama. Sama dalam wujud/ada-nya dan tidak ada yang lebih tinggi atau lebih mulia disebabkan hal-hal tersebut kecuali atas kualitas cahaya yang dimiliki, yang mana bisa terlihat dalam perilaku dan pandangannya terhadap sesama ciptaan. Bahwa tidak ada perbedaan yang harus melahirkan pembedaan untuk perempuan atau laki-laki, perempuan sebagaimana laki-laki lahir dari pancaran cahaya yang sama. Perempuan sama halnya laki-laki hanya berbeda karena kualitas cahaya dan intensitas yang dimilikinya.

Pada akhirnya terlihat bahwa diskriminasi, marginalisasi, subordinasi, dan kekerasan pada perempuan tidak memiliki landasan filosofis apapun apalagi agama. Karena konsep tasykik alwujud menegasikan segala perbuatan “hitam” atau ketiadaan cahaya. Sejatinya yang ada hanyalah cahaya, dan cahaya adalah kebaikan–kebaikan untuk semua. Semua jenis kelamin, semua ciptaan.

Setiap perbuatan bisa ditelesur apakah ia berada dalam dalam naungan cahaya atau dalam ketiaadaan cahaya. Mustahil orang yang (mengaku) ber-Tuhan akan melakukan perbuatan yang “hitam”  karena Tuhan adalah sumber cahaya. Mustahil ada sesuatu hal yang pada waktu yang sama dua sisi positif dan negatif; bercahaya tapi gelap, atau gelap tapi bercaya; ber-Tuhan tapi melakukan kekerasan, atau melakukan kekerasan tapi berTuhan. Cahaya dan ketia-ada-an cahaya tidak akan bercampur, jika orang melakukan kejahatan yakinlah ia sedang menyatakan bahwa dirinya tidak ber-Tuhan.

Kualitas dan intensitas cahaya akhirnya menunjukkan pada kita bagaimana seseorang beperilaku dan memperlakukan sekitarnya. Bahwa kualitas ke-ada-an (wujud) tergantung dengan intensitas cahaya yang dimiliki, seberapa dekat dengan sumber cahaya sebagai wujud mustaqil (mandiri) dimana wujud rabith (bergantung) seperti manusia ini bergantung.

 

Hal-hal Yang (Belum) Selesai

Bagi sebagian orang,  berbicara filsafat sama halnya berbicara tentang hal-hal yang telah selesai, final, tak perlu lagi dibahas, teoritis dan tak membumi. Oleh karenanya, filsafat hanya dipelajari oleh sedikit orang dan seringkali dianggap menyesatkan dan jauh dari Tuhan.

Dari Mullah Sadra setidaknya kita belajar tentang hal-hal yang sederhana namum fundamental, dan sekali lagi  filsafat yang  sejatinya lahir untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan tentang diri sendiri, tentang hal-hal yang paling dasar dari diri, tentang hakikat  sebagai manusia, sebagai pancaran cahaya (Tuhan). Cahaya adalah ke-ada-an, sedangkan kegelapan adalah ke-tiada-an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here