Sumber gambar: pexels.com

Oleh: Lukman Hadi

“Astaghfirullahal-‘azhim”. Itulah kalimat pertama yang keluar dari para santri Madrasah Aliyah (MA)  Al Ghozaliyah Jombang ketika pertama kali mengikuti mata pelajaran Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS). Mereka tidak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya saat mengetahui mata pelajaran PKRS yang ditetapkan sebagai mutan lokal baru di madrasah mereka adalah pelajaran yang membahas tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas. Awalnya, para santri  bertanya dan begitu penasaran apakah pelajaran PKRS itu. Namun ketika saya tulis kepanjangan akronim PKRS, serentak mereka semua hanya diam dan saling pandang satu dengan yang lain.

“Seksualitas”, itulah kata yang tidak berani mereka sebutkan ketika pertama mengikuti pelajaran PKRS ini. Menurut para santri kata  itu bermakna sangat negatif dan tidak pantas untuk diucapkan, terlebih lagi dibicarakan secara bersama-sama di dalam kelas. “Mboten pantes, Pak ngomongaken niku”, begitulah kurang lebih alasan yang mereka berikan. Menurut mereka kata seksualitas berkonotasi porno sehingga tidak pantas diucapkan bagi kalangan santri. Tak ayal pertemuan pertama yang seharusnya menjadi perkenalan sebuah muatan lokal baru ini menjadi sangat canggung. Kelas yang tadinya begitu antusias dengan rasa penasaran yang tinggi menjadi kelas yang penuh dengan keraguan dan ketakutan.

PP Al-Ghazaliyah terletak di desa Sumber Mulyo, bersebelahan dengan desa Bapang, daerah pedesaan yang sudah menjadi sentra industri.. Pola pergaulan di daerah industri yang sudah cenderung “bebas” ditambah tidak semua santri yang bersekolah di Al Ghozaliyah bermukim di pesantren, ikut andil dalam memberikan contoh yang bisa diartikan negatif oleh tingkat ilmu pengetahuan dan pemahaman para santri sebagai remaja. Keadaan santri yang berasal dari latar belakang pola asuh dan ekonomi yang berbeda-beda telah melahirkan pola prilaku yang sangat beragam pula. Pernah suatu saat ada kejadian santri putri yang hamil. Meskipun santri tersebut bukanlah santri yang bermukim di pondok pesantren, tetap saja santri tersebut adalah santri di bawah naungan pesantren Al Ghozaliyah. Hal ini mengundang keprihatinan Kyai Nasrullah, MPd.I, pimpinan sekaligus pengasuh pondok pesantren Al Ghozaliyah ini. Kyai Nas tidak mau kecolongan lagi dengan mengabaikan fakta tersebut. “Jangan seperti yang lalu-lalu. Diam semua seolah nggak ada apa-apa, ternyata ada yang hamil”, begitulah Kyai Nas merefleksikan hal tersebut.

Oleh karenanya, rapat Majelis Yayasan PP Al Ghazaliah pada TA 2014-2015 menetapkan sebuah hal baru:  perlunya memberikan PKRS kepada para santri MA kelas X jurusan IPA dan IPS sebagai wujud pemenuhan dan perlindungan para santri dari beberapa dampak negatif.  Para siswa yang awalnya tak berani menyebut kata seksualitas, kini juga mulai terbuka untuk mendiskusikan berbagai persoalan yang mereka alami dalam perkembangan usia mereka terkait kesehatan reproduksi. Seperti apakah onani/masturbasi itu berbahaya? Apakah hal tersebut haram? Kini mereka bisa mendiskusikan hal-hal yang tidak berani mereka tanyakan pada orang tua mereka, karena belum-belum sudah berprasangka buruk terhadap perilaku dan pola pergaulan putra-putrinya.

Memberikan informasi yang benar dan utuh menjadi salah satu jalan keluar yang wajib ditempuh. Pondok pesantren Al Ghozaliyah telah melawan arus budaya “tabu” yang biasa berkembang di madrasah, dengan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas yang komprehensif kepada para santri setingkat Madrasah Aliyah atau SMA. Para santri kini juga mulai aktif  dalam  kelompok-kelompok diskusi yang dibentuk untuk mengkaji dan menyelesaikan masalah-masalah seputar perkembangan usia mereka. Mereka mulai menemukan wadah yang nyaman untuk menanyakan dan mengetahui informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas mereka. Mereka juga mulai intens berjejaring untuk melakukan advokasi atas  hak-hak reproduksi mereka,  sehingga terhindar dari  tindak kekerasan maupun persoalan yang bisa muncul akibat kesalahan perilaku seksual mereka. {}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here