Oleh :  Nyai Hj. Mahmudah Achmad

Apakah tabu berbicara tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas? Bagi saya tidak, begitu juga bagi santri-santri di Darul Aitam, pondok pesantren yang kami asuh. Sejak berdiri pada 1991, jumlah santri saat ini kurang lebih 500 santri, dan mempunyai lembaga pendidikan PAUD, TK, SMP Unggulan, MTS Unggulan, MA Unggulan, dan SMK Unggulan.

Pada pendidikan di Darul Aitam, para santri mendapatkan pendidikan tentang kesehatan reproduksi yaitu pada mata pelajaran Fiqh dimana antara lain dijelaskan tanda-tanda baligh bagi perempuan dan laki-laki, juga tata cara bersuci. Akan tetapi penjelasan terkait kesehatan reproduksi yang diberikan tersebut tidak terlalu mendetail dan gamblang. Begitu juga pada bab menstruasi. Santri mendapatkan hal itu pada pelajaran risalah haid di Kitab Risalah al-Mahidh, dimana seperti pelajaran Ilmu Fiqh yang hanya dasar dari isu reproduksi. Yakni risalah pembahasan tentang seputar warna-warna darah, sifat-sifat darah, macam-macam haid, siklus haid, dll.

Namun beberapa tahun terakhir ini, pondok pesantren kami menjadi salah satu dari 5 pesantren di Banyuwangi yang terlibat secara intens dalam program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) yang didampingi oleh Rahima. Dalam upaya melakukan PKRS ini, Rahima melakukan penyadaran dan mendidik para guru dan santri putra putri dalam berbagai pelatihan dan diskusi-diskusi baik di forum guru maupun forum siswa. Forum siswa menjadi ajang para santri untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi pendidik sebaya bagi sesama remaja. Sedangkan forum guru berperan penting dalam mengintegrasikan PKRS sesuai dengan proses belajar mengajar. 

Bagi para santri yang sudah mengikuti pelatihan, mereka akan berbagi informasi dan pengetahuan kepada teman-teman santri yang tidak mengikuti pelatihan. Hal ini dilakukan dengan cara mengadakan seminar di tingkat SLTP dan SLTA, yang sifatnya berkesinambungan sesuai dengan pengetahuan yang sudah diterima oleh santri yang mengikuti pelatihan. Upaya ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari kader yang bisa di ajak untuk bergabung dalam Forum Siswa PKRS. Salah satu rencana yang sempat muncul dalam forum itu adalah gagasan untuk mendirikan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR).

Alhamdulillah, akhirnya PIK-KRR yang beranggotakan 20 orang pendidik sebaya ini terbentuk dan kemudian dilantik pada Jumat 28 November 2014. Lembaga yang dinamakan PIK-KRR As-Salam ini, pada setiap minggunya mengadakan diskusi mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi para santri dan remaja pada umumnya, dan mencari penyelesaian dari permasalahan tersebut.

*****

Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa, pada tahap ini relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga remaja harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang paling bertentangan. Banyak sekali peristiwa hidup yang pada akhirnya akan menentukan masa dewasa dan juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga masa ini sering dipandang sebagai masa kritis. Pengaruh informasi global yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan yang mengangganggu kesehatan seperti: merokok, minum-minuman beralkohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang.

Hal ini memberikan dampak yang sangat berpengaruh pada organ reproduksi  maupun kejiwaan remaja, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas maupun kurangnya akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi. Selain itu kekurangtahuan orang tua terhadap pengetahuan yang jelas dan benar serta memadai mengenai perubahan anak-anaknya menjadi permasalahan bagi anaknya dalam perolehan penjelasan yang tepat. Orang tua acapkali masih merasa risih dan segan untuk berbicara mengenai perubahan biologis anak, dan terbatas pemahamannya akan kondisi psikologi anak. Selain itu, berbagai permasalahan mengenai kesehatan reproduksi dipandang tidak lumrah untuk dibicarakan, apalagi kepada remaja. Mereka khawatir apabila pemberian informasi itu akan memicu anak-anaknya untuk berbuat hal di luar batas.  Padahal, dalam diri remaja senantiasa muncul rasa keingintahuan pada hal yang baru serta keinginan untuk coba-coba. Sebenarnya pada dasarnya disinilah peran dan fungsi orang tua dalam membimbing anak-anaknya sehingga tidak salah arah. Pemberian informasi yang disampaikan secara jelas dan benar, akan mengurangi berbagai resiko yang timbul akibat permasalahan yang dihadapi remaja saat ini.

Oleh karenanya, sangat penting upaya pemberian informasi melalui PKRS bagi anak dan remaja sehingga bisa mencegah terjadinya pelecehan dan tindak kekerasan seksual pada anak. Remaja  perlu mengetahui bahwa mereka sendirilah yang berhak untuk mengambil keputusan dalam menjaga tubuhnya. Oleh karenanya upaya sosialisasi kespro melalui forum guru dan siswa ini dilakukan dalam bentuk seminar di dalam pesantren, diskusi dengan remaja masjid seperti yang pernah dilaksanakan di Kecamatan Tegalsari, diskusi dengan IPNU(Ikatan Pelajar NU), maupun dengan sekolah luar pesantren yang dilaksanakan di Atlanta, Banyuwangi.

Banyak perubahan mulai terjadi setelah para santri mengikuti pelatihan ataupun mendapatkan informasi dari santri yang menjadi pendidik sebaya. . Mereka semakin memiliki keberanian dalam memberikan informasi, dan lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan mereka. Sedangkan para santri lainnya juga mulai tahu bahaya NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat-zat Adiktif lainnya), mereka juga memahami perubahan tubuh mereka serta berbagai hal lain terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Sebaiknya, PKRS diberikan kepada siswa-siswi secara komprehensif (menyeluruh). Oleh karenanya, PP. Darul Aitam nantinya adalah salah satu dari 5 pesantren dari Banyuwangi yang pertama kali akan menerapkan modul PKRS di pendidikan sekolah. Modul  ini disusun bersama oleh para peserta forum guru dan siswa yang isinya menjawab kebutuhan para santri dan diperdalam dengan perspektif Islam. Oleh karenanya, hal ini akan mempermudah santri baik dalam pemahaman maupun praktiknya, selain mempermudah guru dalam menyampaikan kepada para siswa karena modul tersebut  mereka susun bersama. Saat ini, semua pihak telah menunggu agar modul selesai dicetak dan siap diterapkan kepada para siswa. Semoga Allah swt. memudahkan  langkah kita.{}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here