Pakaian yang memiliki makna ataupun masuk dalam kategori pengertian jilbab sebagaimana disebutkan di atas, ternyata cukup banyak. Kalangan perempuan muslim berlatarbelakang Nahdlatul Ulama (Muslimat) maupun Muhammadiyah (Aisyiah), pada tahun 1970-an biasa mengenakan kerudung atau kudung,  kain panjang penutup kepala yang menjuntai menutup bagian belakang rambut hingga bahu, dan seringkali disampirkan ke dada. Perempuan Minang mengenakan baralek, penutup kepala ketika hendak menghadiri pesta perkawinan. Masyarakat di desa maupun di kampung-kampung di daerah Betawi maupun Sunda, tidak selalu mengenakan penutup kepala di rumahnya. Namun, mereka segera akan mengenakan kerudung atau jilbab, dalam pengertian kerudung yang ditutup dengan peniti di bagian dagu atau berjahit manakala hendak ke warung, ke pasar, atau ke pengajian. Bila hendak melaksanakan shalat, perempuan-perempuan ini mengenakan pakaian khusus yang disebut dengan rukuh (bahasa Jawa), telekung (Minang), atau mukena (bahasa Indonesia). Di samping jilbab dalam makna penutup kepala seperti di atas, perempuan dalam beragam kultur masyarakat Indonesia seringkali mengenakan baju berlengan panjang dalam kehidupan keseharian mereka. Sebutlah kebaya di Jawa, Sunda dan Betawi, baju kurung di Sumatera Barat,  dan lain-lain.[i]

Di berbagai belahan dunia lain seperti di Timur Tengah kita mengenal baju panjang bernama abaya yang kebanyakan berwarna hitam, burqa atau pakaian terusan dengan penutup kepala dengan jendela berwarna-warni pada bagian muka di kalangan perempuan Afghanistan, chaddor di Pakistan, jilbab hitam dan cadar yang banyak dikenakan oleh perempuan Iran, dan lain-lain. Beragam mode baju itu saling mempengaruhi, terutama ketika trend jilbab masuk ke Indonesia di era 1980-an, seiring dengan terjadinya Revolusi Islam Iran. Terdapat pergeseran fenomena, dimana perempuan yang sehari-harinya mengenakan rok atau celana panjang tanpa tutup kepala, mulai mengenakan baju panjang dan jilbab.

Seiring dengan perkembangan jilbab yang tampak eksklusif, terdapat kecenderungan untuk selalu memperbaharui tampilan jilbab ini. Sehingga muncullah beragam istilah seperti ’kerudung gaul’, kerudung Mbak Tutut, jilbab Neno (Warisman), jilbab Inneke, jilbab Mamah Dedeh, jilbab Ayat-ayat Cinta, jilbab Oki Setiana Dewi, kerudung Fatin, jilbab Marshanda, jilbab Umi Pipik, jilbab Hana, dan lain-lain yang perkembangan fashion ini hanya bisa diikuti secara baik oleh para pedagang pakaian di pasar tekstil seperti Tanah Abang. Perkembangan industri busana muslim bagi perempuan atau jilbab di Indonesia juga  sangat dipengaruhi oleh apa yang disebut oleh Deny Hamdani sebagai konteks global dan lokal. Menurutnya pula, alasan perempuan mengenakan juga terbagi antara yang bersifat ideologis maupun non ideologis. [ii]

Jilbab rupanya bukan hanya baju yang dikenakan oleh masyarakat menengah ke bawah, namun juga menyentuh kehidupan para selebriti. Oleh karenanya, bila dulu kaum sosialita hanya mengenal merk-merk terkenal busana buatan Perancis, kini mereka juga disuguhkan dan menjadi ikon atas berbagai merk terkenal busana muslim seperti Rabbani, Zoya, Elzatta yang berkembang belakangan. Bila pada masa Orde Baru kegiatan ibu-ibu PKK disibukkan oleh demo memasang sanggul, kini tidak hanya mereka, termasuk ibu-ibu pengajian, majelis taklim, mahasiswa, dan karyawati di gedung perkantoran disibukkan oleh aktivitas baru bernama Tutorial Jilbab. Selain memunculkan trend baru salon jilbab, ada komunitas baru bernama Hijabers Community.  Bahkan, di salah satu stasiun televisi swasta juga menayangkan acara Hijab Stories yang menuturkan pengalaman pribadi para selebriti ketika memutuskan untuk mengenakan jilbab atau hijab.

Namun, ada pula sisi lain yang menarik untuk dikaji. Di samping terdapat trend mengenakan jilbab di masyarakat termasuk di kalangan artis maupun aktivis, ada pula fenomena ’melepas jilbab’ atau ’menanggalkan jilbab’ di kalangan mereka.[iii] Entah kenapa, seperti judul film ’Desperate Houswives’ keputusan ini terjadi saat mereka tersandung masalah keluarga seperti perceraian atau ketika sang suami masuk ke dalam tahanan. Situasi ini dialami oleh beberapa nama seperti Tya Subiakto, Trie Utami, Dewi Hughes, Sefti Sanustika dan Marshanda.[iv] Menarik pula untuk dikaji, beberapa nama perempuan yang dalam kehidupan keseharian mereka tidak mengenakan jilbab atau mengenakan jilbab biasa saja, justru tampil berjilbab saat di persidangan ketika mereka tersandung kasus-kasus tindak kriminal atau tindak pidana korupsi. Seperti Afriani Susanti, perempuan pengendara mobil yang menabrak hingga menewaskan 6 orang sekaligus maupun Neneng Sri Wahyuni (istri Nazaruddin) atau Yulianis, bendahara group Permai selalu mengenakan cadar saat diperiksa ataupun dimintai keterangan KPK saat sidang kasus Hambalang.[v] Hal lain yang penting untuk dicatat adalah fenomena anak muda yang senang mengenakan jilbab gaul, yakni tetap mengenakan penutup kepala namun berbusana yang ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh seperti mengenakan jeans dan kaos ketat yang banyak dijumpai di kalangan mahasiswa perguruan tinggi Islam ataupun daerah-daerah yang memberlakukan aturan wajib berbusana muslim. Masyarakat sering menyebut pakaian ini dengan jilbab lepet, atau yang disebut jilboobs.

Baca Juga:

Fokus 1: Metamorfosa Jilbab 

Fokus 3: Dinamika Pemakaian Jilbab di Indonesia: Kontrol atas Tubuh Perempuan

Fokus 4: Jilbab di Ruang Publik: Politik Identitas, Pilihan Individu, atau Kewajiban Sosial?

Fokus 5: Teks Jilbab dalam Beragam Interpretasi Ulama dan Pemikir Muslim

[i]  Beragam jenis pakaian ini dielaborasi secara baik dalam tulisan Deny Hamdani, Anatomy of  Muslim Veils : Practice, Discourse, and Cha nging Appearance of Indonesian Women

[ii] Lihat wawancara dengan Deny Hamdani, dalam wawancara di Rubrik Opini, Swara Rahima Edisi 46, tahun 2014.

[iii] Lihat dalam Muhammad Sa’id Al Asymawi ,Kritik Nalar Jilbab, (terjemahan dari Haqiqat al-Hijab wa ujiyyat al-Hadits, oleh Novriantoni Kahar dan Opie Tj), diterbitkan oleh Jaringan Islam Liberal, dan TheAsia Foundation, Jakarta, 2003 .

[iv]   Lihat dalam www.merdeka.com

[v]Lihat tulisan Jupri Supriyadi, Mendadak Jilbab, sebagaimana disarikan dari situs http://sosbud.kompasiana.com/2012/06/21/mendadak-jilbab-466220.html 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here