Sumber gambar: pexels.com

Oleh : Nihayatul Wafiroh

Lahir dan dibesarkan di keluarga pesantren dengan tradisi keagamaan yang kental, tetap membuat keluarga saya terbuka menerima perbedaan baik suku maupun agama orang/kelompok lain. Hal itu diajarkan kepada kami untuk menunjukan bahwa Islam selalu ramah dan terbuka terhadap perbedaan. Namun, ketika kuliah di Jogyakarta, saya menemukan beberapa kelompok muslim yang cenderung menutup diri. Sebagian teman menyebut kelompok itu, fundamentalis. Cirinya antara lain perempuannya berjilbab lebar dengan cadar yang menutupi wajah, laki-lakinya bercelana congklang dan jenggot panjang. Waktu itu saya heran, terlebih dengan sikap mereka yang tidak bergaul dengan kawan dari kelompok lain.

Asumsi itu makin diperkuat dengan sebuah peristiwa yang saya saksikan ketika saya melakukan perjalanan dengan bis ekonomi dari Banyuwangi ke Jogjakarta. Di Jember, naiklah seorang bapak dengan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan bercadar. Kondektur menawarkan satu kursi yang masih kosong untuk si anak perempuan. Tetapi si bapak buru-buru menolak, “Tidak! jangan disitu! di sampingnya ada laki-lak.

Streotype dan pengalaman itu sempat mengungkung saya sehingga tidak membangun komunikasi dengan kelompok ini sampai kemudian saya tersadar bahwa sesungguhnya saya tidak tahu cara pandang mereka bila saya tidak berkomunikasi dengan mereka. Syukurlah, ketika Kuliah Kerja Nyata  di desa Sitimulyo, Piyungan, Jogjakarta, teman satu kelompok saya, seorang jilbaber, (mengenakan jilbab lebar yang menutupi hampir separuh badannya).

Dengan berlalunya waktu, saya menjadi teman terdekatnya. Dari hasil diskusi, saya menjadi tahu bahwa pakaiannya yang tebal dan berlapis-lapis itu tidak membatasinya untuk bertukar pikiran dan berdialog dengan saya tentang banyak hal, mulai dari buku-buku bacaan, tema–tema syariah hingga ranah filsafat. Sesungguhnya pakaian itu terkait dengan kenyamanan. Seperti nyamannya saya mengenakan jins dan kaos oblong. Dan, asal tahu saja, dia yang mengajari saya kebut-kebutan naik motor.

Pengalaman yang lain, saat saya mencari kontrakan. Pemilik kontrakan bercerita baru saja mengusir sebuah keluarga yang penampilannya masuk kategori fundamentalis. Padahal keluarga ini memiliki beberapa anak kecil. Alasan pemilik rumah, ia tak mau tersandung masalah karena dianggap melindungi teroris. Sebagai perempuan, saya menaruh iba akan nasib ibu dengan anak-anak yang masih kecil itu, apalagi bila mereka hanya diberi waktu singkat untuk keluar dari rumah itu.

Pengalaman yang berbeda inilah yang akhirnya membawa pembelajaran buat saya, bahwa  sebagai sesama perempuan walaupun berasal dari kelompok yang berbeda  tidak selayaknya kita membangun tembok pembatas, menjadi sangat ekslusif dan memandang yang lain sebagai the others, lalu kita dengan seenaknya menjustifikasi mereka, tanpa kita pernah tahu siapa mereka, bagaimana pandangan mereka, bagaimana kehidupan mereka dan sebagainya. Bisa jadi, mereka berada pada posisi tersebut bukan atas kehendak mereka sendiri, tapi mereka adalah korban.

Sebagai sesama perempuan tentu tidak sepatutnya kita menjadikan mereka sebagai orang yang mengalami double victim karena diskriminasi dari sesama perempuan. Menjadikan mereka sebagai teman dan kawan untuk berdiskusi tentu lebih baik daripada sekedar memandang miring. Banyak hal yang tentu kita harus pelajari dari mereka tentang bagaimana mereka menafsirkan ajaran-ajaran agama, bagaimana mereka membangun keluarga, bagaimana women’s agency yang mereka mainkan untuk melakukan negoisasi dalam lingkungan mereka, dan yang terpenting adalah bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Hal ini penting agar sesama perempuan bisa saling menguatkan. {}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here