Memperbincangkan tema Jilbab dalam konteks luar negeri, saya langsung teringat dengan sebuah video menarik yang diunggah di You Tube pada Desember 2013 berjudul ‘Mipsterz’ Somewhere in America’. Video berdurasi kurang lebih 2:29 menit ini memperlihatkan berbagai aksi para gadis Muslimah yang cantik, stylish, keren, fashion-forward sambil bermain papan skateboards, memakai sepatu jinjit (high-heels) lengkap dengan jilbab yang menutup kepala mereka. Dengan latar belakang landscape perkotaan di sebuah negara bagian di Amerika, para gadis Muslimah Amerika tersebut berpose bak foto model dan berakting dengan sangat lincah sambil diiringi lagu (soundtrack) penyanyi JAY-Z yang dinamis.

Kemunculan video “Mipsterz”ini menarik perhatian banyak orang tidak hanya komunitas Muslim di Amerika tetapi juga komunitas Muslim di berbagai belahan dunia lainnya. Lebih dari setengah juta orang telah menonton video ini dan berbagai komentar baik yang mengapresiasi maupun yang sinis dapat dibaca di bagian komentar di You Tube.  

Para Muslimah cantik ini menyebut diri mereka sebagai “Mipsterz” atau Muslim Hipsters. Menurut akun Facebook mereka, seorang Mipsterz adalah mereka yang mencari inspirasi dari tradisi Islam yang terkandung di dalam Kitab Suci Alquran, para Nabi, serta dari berjilid-jilid buku pengetahuan, puisi-puisi esoterik dari para Sufi, politisi yang inspiratif, para Imam yang saleh, dan manusia yang selalu mencari kesadaran transendental. Seorang Muslim yang bergaya hidup hippies (melawan kemapanan) adalah sebuah identitas ironis yang berfungsi sebagai kritik yang kekal baik buat diri seseorang tersebut maupun kritik terhadap masyarakat.

Abbas Rattani dan Habib Yazdi dari Sheikh and Bake Productions yang membuat video ini pada dasarnya memunculkan sebuah diskusi dan perdebatan  yang lebih luas tentang apa maknanya menjadi seorang Muslimah berkebangsaan Amerika. Beragam reaksi masyarakat Muslim yang melihat video ini bermunculan, sebagian menganggapnya  problematis karena hanya menampilkan para perempuan berhijab yang memamerkan gaya dan fashion. Alih-alih menangkal stereotip dunia Barat terhadap kondisi perempuan Muslimah yang selalu dicap kuno, terbelakang, anti-modernitas, pasif, dan tunduk kepada laki-laki, video ini juga banyak dikecam sebab para Muslimah yang beraksi di video tersebut tidak memakai hijab dengan   “benar” sesuai dengan syariat Islam. Seorang komentator @JilanVegas menulis di twitter-nya mengatakan bahwa hijab bukanlah sebuah pernyataan fashion tetapi bagaimana kita memaknai kehidupan ini.

Sana Saeed, seorang kolumnis di The Islamic Monthly juga mengkritik aksi para Mipsterz ini karena mereka mempromosikan budaya Islamofashionista yang siap beraksi di panggung catwalk di hadapan komunitas Muslim di Amerika. Hal  ini tentu saja menjadi antitesa dari makna hijab  itu sendiri yang menekankan pada kesederhanaan Islam (Islamic modesty). Lebih lanjut Sana Saeed mengatakan bahwa bukan berarti kita harus mengatur bagaimana seorang Muslimah hendaknya berpakaian sesuai dengan ajaran Islam, tetapi lebih pada kritik terhadap jenis budaya macam apa yang kita ciptakan terkait dengan pakaian perempuan Muslimah, image yang hendak dibangun, dan gaya hidup mereka.

Namun, banyak orang juga mengagumi aksi dan gaya para perempuan Muslimah di video ini, karena kecantikan estetik mereka, dan gambaran tentang sosok perempuan Muslim yang terlihat sopan, keren, dan menyenangkan. Sungguh, video ini merupakan sebuah potret tentang Islam dan Muslim di Amerika yang berbeda, sebuah realitas yang jarang diekspos oleh media massa, meskipun eksistensi mereka mewarnai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika.

Cobalah anda googling! Media massa Barat lebih banyak mempertontonkan wajah-wajah perempuan Muslim yang identik dengan pakaian hitam-hitam dan bercadar sehingga mengundang kecurigaan, perasaan tidak aman dan ketakutan terhadap Islam (Islamophobia). Tak heran,berbagai negara di Eropa mengeluarkan larangan dan pembatasan terhadap perempuan berjilbab dan dituangkan dalam undang-undang negara.Sebagai contoh, atas pemikiran Geert Wilders, anggota parlemen sayap kanan di Belanda, muncul peraturan yang melarang pemakaian burqa secara nasional di seluruh wilayah Belanda. Larangan pemakaian jilbab di sekolah-sekolah umum diterapkan di Jerman, Swedia, Belgia dan Spanyol. Pembatasan atas jilbab dan cadar juga diterapkan di Perancis karena dianggap bertentangan dengan prinsip sekularisme yang mereka anut. Opini public yang berkembang di negara-negara tersebut menganggap bahwa jilbab adalah simbol penindasan terhadap kaum perempuan.

Justru disinilah titik relevansi dari video “Mipsterz” ini karena menjungkir-balikkan stereotip Barat tentang penindasan terhadap perempuan yang memakai jilbab. Banyak orang di Amerika yang masih mengganggap bahwa perempuan Muslim memakai jilbab karena dipaksa oleh ayah, suami, atau saudara laki-laki mereka. Penulis sendiri mendapatkan pertanyaan yang sama berulang kali ketika studi di Amerika beberapa tahun yang lalu; Why do you don the veil,  did your father or husband force you to wear it?  (mengapa anda memakai jilbab, apakah bapak atau suami Anda memaksamu untuk memakainya?). Pertanyaan semacam ini tentu tidak pernah penulis dapatkan di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Jilbab, hijab, kerudung, veil atau apa pun namanya ternyata bukan hanya selembar kain penutup kepala. Bagi para Muslimah di video Mipsterz, mereka memunculkan diskusi yang hangat tentang pencarian identitas dari generasi muda Muslim imigran yang lahir di negara-negara Barat. Harus diakui bahwa komunitas Muslim di Amerika banyak yang terobsesi untuk dianggap “normal”, “Amerika” dan “Barat” namun pada saat yang sama tidak mau kehilangan identitas mereka sebagai seorang Muslim yang taat. Mengawinkan antara kebudayaan Barat dan tradisi Islam yang mereka anutmerupakan PR tersendiri bagi para imigran Muslim.

Memang tidaklah mudah bagi perempuan Muslimah berjilbab yang hidup di Barat. Berbagai tuntutan dan harapan datang dari dalam komunitas Muslim itu sendiri maupun dari dunia luar terkait dengan penampilan, kepribadian dan tubuh mereka. Tentu saja tidak hanya di Barat, kita sebagai perempuan Muslimah yang memakai jilbab, dalam bentuk dan model apapun dan dengan aksesoris apa pun yang kita pakai, terus-menerus membawa beban representasi dan identitas kelompok. Kita akan selalu dikritik untuk apa yang kita kenakan dan apa yang tidak kita pakai karena perempuan, berdasarkan ‘nilai-nilai tertentu’ dalam masyarakat yang patriarkhis dan kapitalis. Karenanya, jilbab seorang perempuan Muslim tidak semata-mata simbol identitas agama, melainkan juga soal konsumsi dan fashion, juga keyakinan dan keindahan, resistensi dan perjuangan, rahasia dan malu.

Mungkin seperti inilah gambaran tentang dilema perempuan Muslimah; memakai jilbab lebar dan cadar dianggap ekstrimis dan teroris, memakai jilbab stylish dan fashion dianggap konsumtif dan tidak syar’i, tidak memakai jilbab dianggap tidak taat agama. Wait, … where is my rights? {} Riri Khariroh, pengurus PP Fatayat NU, alumnus Ohio University, USA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here