Oleh: Risma Hikmawati

Dilahirkan dalam lingkungan kaum elite agama yang  selanjutnya kental dengan praktik eksploitasi kotor atas nama agama, membuat dirinya mendalami hakikat ajaran Islam. Ia mengkompromikannya dengan berbagai literatur barat untuk menemukan hakikat syariat sejatinya  akan menjadi rahmat bagi peradaban.   Ini karena menurutnya Wahyu tidak bertentangan dengan akal, bahkan justru saling melengkapi.

Pemikir Muslim yang Reflektif atas Realitas Sosial

Asghar Ali Engineer merupakan tokoh pejuang HAM  kelahiran India. Beliau lahir di lingkungan keluarga ulama Bohro pada  10 Maret 1939. Ayahnya, Syeikh Qurban Husein, seorang penganut kuat paham Syiah Ismailiyah dan berpikiran cukup terbuka untuk berdialog dengan penganut agama lain. Sang ayah juga seorang sarjana Islam terpelajar yang turut membantu pendirian pimpinan ulama Bohro.

Di masa kecil Engineer kerap kali menyaksikan eksploitasi atas nama agama. Hal ini berlangsung semenjak ayahnya menjadi ulama Bohro. Pada waktu itu tidak ada yang berani melakukan perlawanan terhadap sistem yang menindas. Bahkan ayahnya yang ulama tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun dalam hatinya sangat membencinya.

Prihatin atas keadaan itu Engineer tekun mempelajari literatur-literatur keagamaan dari berbagai sumber. Baik yang ditulis oleh kalangan Islam maupun Barat, dari kalangan tradisionalis maupun modernis. Di samping itu, Engineer juga mempelajari Alquran, Hadis, dan  Fiqh. Latar belakang keilmuan maupun refleksinya yang kuat atas persoalan sosial menjadikannya seorang pemikir sekaligus aktivis yang berpandangan liberal, revolusioner, dan demokratis.

Pada masa kecilnya, Engineer mendapat pendidikan Bahasa Arab, Tafsir, Hadis dan Fiqh dari ayahnya dan selanjutnya mengembangkannya sendiri. Asghar Ali Engineer juga belajar semua karya-karya penting tentang dakwah Fatimiyah melalui Sayidina Hatim, Sayidin Qadi Nu’man, Sayidina Muayyad Shirazi, Sayidina Hamiduddin Kirmani, Sayidina Hatim al-Razi, Sayidina Jafar Mansur al-Yaman, dan lain-lain. Namun, ia juga menekuni pendidikan umum, pada bidang teknik sipil dimana akhirnya ia memperoleh gelar Doktor dari Vikram University, Ujjain, India. Setelah itu, akhirnya memilih menetap di Bombay yang kemudian diikuti oleh ayahnya.

Meskipun mengakui terpengaruh oleh karya-karya pemikir besar seperti Bertrand Russel dan Karl Max, Engineer tidak meninggalkan perhatiannya untuk mempelajari Alquran dan tafsirnya yang ditulis oleh sarjana-sarjana muslim. Selama periode ini Asghar Ali Engineer membaca uraian-uraian dari Sir Syed dan Maulana Azad. Di samping itu ia juga belajar secara mendalam tentang Rasail Ikhwanus Shafa dan kemudian membandingkannya dengan imam-imam Syiah Ismailiyah selama masa persembunyian mereka pada akhir abad 8 M.

Setelah malang melintang dalam pekerjaannya pada Bombay Municipal Corporation selama 20 tahun, Engineer bergabung dalam pergerakan reformasi Bohro. Pada tahun 1977, The Central Board of Dawoodi Bohro Community mengadakan konferensi pertamanya, dimana Asghar terpilih sebagai sekretaris jenderal dengan suara bulat. Dan posisi itu terus dijabatnya hingga akhir hayatnya. Melalui wewenang keagamaan yang dimilikinya, ia aktif mencurahkan gagasan-gagasannya meskipun harus sikap konservatif generasi tua hingga serangan brutal dari pihak-pihak yang berseberangan dengannya.

Teologi Pembebasan untuk memperjuangkan hak kaum minoritas

Teologi Pembebasan memastikan bahwa konsep teologi yang selama ini dikenal abstrak dan transenden menjadi bisa dipahami dan diterapkan dalam kerangka dan perspektif yang lebih ”manusiawi”. Dengan demikian, pembahasan-pembahasannya bisa lebih menyentuh secara langsung kebutuhan dan persoalan-persoalan riil manusia. Secara lebih spesifik, Teologi Pembebasan mengupayakan manusia untuk bisa terlepas dari pelbagai tindak ketidakadilan, penindasan, pemiskinan, pembodohan, dll. Konsep teologi ini, menurut Asghar menekankan pada kebebasan, persamaan dan keadilan distribusi, serta menolak keras penindasan, penganiayaan, dan eksploitasi manusia oleh manusia lainnya Gagasan Asghar ini sangat terkait dengan latar sosiologis dan kesejarahan atas lahirnya Islam itu sendiri.

Baginya, teologi bukan sekadar aspek keyakinan akan ketuhanan semata, tetapi juga terkait dengan hal-hal praktis yang menyentuh persoalan riil kemanusiaan. Dan jika teologi pada awalnya adalah respons sosial-politik pada masanya, maka Teologi Pembebasan Islam ini juga menjadi respons sosial-politik pada masa sekarang. Islam, menurut Asghar, hadir dalam rangka mengkritisi kemapanan kekuasaan, baik yang dibangun di atas otoritas politik, ekonomi, maupun agama yang cenderung menindas dan eksploitatif. Islam adalah agama dengan sumber ajaran dan sejarah yang paling kaya, sehingga memungkinkan untuk berkembang menjadi ajaran teologis yang revolusioner dan membebaskan. Selain itu, Islam menekankan adanya kesatuan kemanusiaan yang tidak diskriminatif, serta menghendaki adanya keadilan dalam seluruh aspek yang hanya bisa direalisasikan jika ada kebebasan.

Sedangkan karakteristik Teologi Pembebasan Islam yang menjadi gagasan Asghar ini adalah: berangkat dari realitas kekinian di dunia ini, kemudian baru dikaitkan dengan kehidupan akhirat. Anti terhadap kemapanan atau status quo, baik dalam bidang politik maupun keagamaan; menjadi inspirator ideologis bagi orang-orang yang tertindas untuk menghadapi penindas; menekankan terwujudnya tatanan sosial yang adil, egaliter, dan tidak eksploitatif . Untuk melaksanakannya, umat perlu meneladani dan menerapkan semangat profetik dan liberasi kenabian Muhammad di Makkah. Selain itu juga meneladani teologi-teologi revolusioner yang pernah ada dalam sejarah Islam, baik dalam tataran ide maupun praktis serta melakukan interpretasi ulang terhadap ayat-ayat yang selama ini telah, menurut istilah Asghar, “diselewengkan” oleh ulama yang pro kemapanan.

Reinterpretasi Teks Alquran untuk Pembebasan Perempuan

Kesadaran untuk memperjuangkan kebebasan perempuan mejadi salah satu fokus pemikiran yang dilakukan Asghar Ali Engineer. Menurutnya, salah satu langkah untuk memperjuangkan pembebasan perempuan di ranah praktis ialah dengan melakukan interpretasi ulang pemahaman terhadap kitab suci yang menjadi rujukan paling utama dalam berkehidupan. Beliau melakukan beberapa metode untuk memahami ulang Tafsir Alquran. Tradisi dan budaya yang sudah mengakar di wilayah masing masing penafsir terkadang menjadi salah satu sebab munculnya penafsiran yang tidak adil gender. Padahal nilai yang paling fundamental di dalam Alquran adalah nilai persamaan dalam semua wilayah bagi perempuan dan laki-laki, termasuk wilayah seksual.

Sistem nilai Islam yang paling modern (keadilan dan persamaan). Jika diberlakukan dalam hukum Islam berkaitan dengan masalah perempuan; maka hukum ini akan menjadi di antara yang paling progresif dan berkeadilan gender. Adalah ‘bayang-bayang’ etos sosial abad pertengahan yang telah menutupi spirit Islam.

Dalam usaha memahami berbagai aspek pernyataan Alquran, ada hal paling fundamental yang dipegang teguh oleh Engineer, yaitu kepercayaan bahwa tak ada penafsiran yang tunggal, meskipun mungkin ada yang signifikan. Pemikiran ini merupakan respon terhadap berbagai pandangan yang menyatakan keberatan dan mis-interpretasi terhadap Alquran.

Tidak ada penafsiran Alquran yang secara literal sama. Setiap orang memahami teks Alquran sesuai dengan kedudukan politik, sosial dan ekonominya masing-masing. Sangat sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya dimaksud oleh Tuhan. Setiap orang berusaha untuk memahami maksud Tuhan sesuai dengan kedudukannya. Oleh karena itu, ulama-ulama klasik setelah mengutarakan pendapatnya dalam tafsirnya selalu mengatakanwallahu a’lam bisshawab”, hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.

Di samping itu, Seorang penafsir bisa saja mempunyai sebuah pemahaman perspektif teologi, sosiologi ataupun melihatnya dari perspektif keilmuan lain. Setiap orang akan mempunyai kontribusi yang dibuatnya dari perspektif dirinya sendiri. Mengenai hal ini, penting untuk dicatat bahwa Alquran menggunakan kata-kata yang mengandung berbagai makna, bahkan berbagai simbol bahasa. Dan simbol atau kata-kata itu tidak hanya bisa dilihat dari berbagai perspektif saja, namun juga ada kata dan simbol yang berkembang maknanya sesuai dengan berkembangnya waktu dan pengalaman-pengalaman yang baru.

Dalam memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan keadilan atau nilai-nilai yang serupa dengannya, Engineer memandang bahwa mufasir harus memperhatikan semangat yang ada pada waktu itu. Hal ini disebutnya sebagai elemen dinamis, sebuah elemen metodologi  yang sangat penting untuk memahami ayat-ayat  Alquran. {}

*) Risma adalah peserta Program Penguatan Tokoh Agama Lokal untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here