Gerakan Chipko di India perlu menjadi pembelajaran penting dari gerakan perempuan dan masyarakat lokal dalam memperjuangkan perlindungan hutan dan lingkungan. Shobita Jain dalam “Standing Up For Trees: Women’s Role in The Chipko Movement” merekam kisah para perempuan dalam menyelamatkan hutan mereka. Awalnya, gerakan Chipko dipelopori oleh Chandi Prasad Bhatt, pekerja sosial yang menganut ajaran Mahatma Gandhi yang membentuk kelompok Dasholi Gram Swarajya Mandal (DGSM) di distrik Chamoli yang pada tahun 1973 menentang pembangunan Symonds perusahaan alat-alat olahraga yang berkantor di Allahabad. Perusahaan itu menebangi pohon guna keperluan pembuatan raket tenis, sehingga memancing reaksi masyarakat yang  terus menerus memukul drum dan meneriakkan slogan-slogan yang memaksa kontraktor dan para penebang hutan mundur. Bhatt juga mengajak para penduduk untuk memeluk pohon sebagai taktik untuk menyelamatkan hutan.[i]

Aksi perempuan “memeluk pohon” kejhri juga menginspirasi  Vandana Shiva, seorang aktivis perempuan dan lingkungan, untuk selalu melakukan pembelaan terhadap perempuan dan lingkungan. Kegigihannya membuat Shiva menerima berbagai penghargaan, seperti : Penghargaan Penghidupan, Penghargaan alternative Nobel, Penghargaan Hari Bumi Internasional dan Penghargaan Globe 500. Shiva sendiri, dikenal sebagai pelopor gerakan perempuan untuk penyelamatan lingkungan atau “ekofeminisme”. [ii]

 Ekofeminisme merupakan sebuah gerakan yang muncul di kalangan perempuan di berbagai belahan dunia dari berbagai profesi sebagai akibat adanya ketidak adilan terhadap perempuan yang selalu dimitoskan dengan alam. [iii] Ekofeminisme menganalisis masalah-masalah lingkungan ini dengan menggunakan analisis feminis. Feminis menilai akar masalahnya, dampak dan khususnya yang terjadi pada kelompok rentan seperti perempuan dan bagaimana perempuan melawan atau berjuang mempertahankan sumber-sumber kehidupannya. Sampai saat ini, pengelolaan lingkungan dan kekayaan alam belum dilihat dalam sudut pandang perempuan. Budaya dan model pembangunan yang patriarki telah menghilangkan kedaulatan perempuan dalam mengelola kekayaan alamnya dan memiliki peran sebagai penjaga pangan bagi keluarga dan komunitasnya. Hal ini menyebabkan pandangan perempuan terhadap kehidupannya menjadi kabur, tidak dapat dimengerti baik oleh laki-laki bahkan oleh perempuan itu sendiri. [iv] 

Ekofeminisme sebagai varian pandangan etika ekologi pertama kali dilontarkan oleh Francois d’Eaubonne dalam “Le Feminisme Ou La Mort” di Paris Perancis (1974) yang memaparkan secara gamblang bahwa ada keterkaitan yang erat antara opresi terhadap perempuan dan opresi terhadap alam. Keterkaitan tersebut menyentuh ranah kultural, ekonomi, sosial, bahkan politik.[v]  Francoise mengemukakan ekofeminisme memiliki nilai lebih karena tidak hanya fokus pada subordinasi perempuan, tetapi subordinasi alam-lingkungan di bawah kepentingan manusia. Jadi ekofeminisme sekaligus mengkritik pilar-pilar modernisme.

Sementara itu,  tokoh lain Karen J. Warren meluaskan pembahasan ekofeminisme dalam beberapa hal. Pertama, terjadi keterkaitan penting antara opresi terhadap alam dan opresi terhadap lingkungan. Kedua, pemahaman tentang alam sangat penting untuk mendapatkan pemahaman opresi terhadap perempuan dan terhadap alam. Ketiga, teori dan praktik feminisme harus memasukkan perspektif ekologi. Dan keempat, pemecahan masalah ekologi harus menyertakan perspektif feminis. Keempat poin tadi memiliki pengaruh kuat terhadap keselamatan alam. [vi] 

Ecofeminism lahir juga didasari atas sebuah kondisi di mana bumi yang digambarkan sebagai ibu telah dieksploitasi, dijarah dan dirusak oleh sistem kapitalisme yang melanggengkan budaya patriarki dan feodalisme di dalam praktek-praktek penjajahan yang dilakukan. Eco-feminis lahir untuk menjawab sebuah kebutuhan penyelamatan bumi dengan berbasiskan pada kekhasan perempuan yang selama ini memiliki pengetahuan untuk melestarikan lingkungan hidup dan mengelola sumber daya alam yang berkelanjutan.  [vii]

Baca Juga:

Fokus 1: Belajar dari  Perempuan ‘tuk Bersahabat dan Selamatkan Alam

Fokus 2:  Dampak Kerusakan Lingkungan : Siapa Lebih Banyak Jadi Korban?

Fokus 4: Para Perempuan Pembawa Inspirasi

Fokus 5: Spirit Islam tentang Pengelolaan dan Penyelamatan Lingkungan

 

 

[i] Sumber :   artikel pada majalah Historia yang dikutip dari situs: http://arieflmj.wordpress.com/2010/11/10/ gerakan-memeluk-pohon/.

[ii] Lihat tulian berjudul Vandana Shiva dan Gerakan Chipko, sebagaimana dikutip dari sumber : http://marsinahfm.wordpress.com/2013/03/22/vandana-shiva-dan-gerakan-chipko/

[iii] Lihat  tulisan Tri Marhaeni Pudji Astuti berjudul Ekofeminisme dan Peran Perempuan dalam Lingkungan,  sebagaimana dikutip dari  Indonesian Journal of Conservation yang diunduh melalui situs http://journal.unnes.ac.id/nju/ index.php/ijc/article/view/2064)

[iv] Sumber : http://www.wrm.org.uy/oldsite/plantations/information/ Perempuan.html

[v] Lihat artikel berjudul Perempuan Memandang Krisis Ekologi , yang ditulis oleh Anjrah Lelono Broto  http://sosbud.kompasiana.com/ 2011/06/06/perempuan-memandang-krisis-ekologi-370546.html)

[vi] Lihat kembali tulisan Anjrah Lelono Broto tentang Perempuan Memandang Krisis Ekologi.

[vii] Lihat tulisan Puspa Setianingtyas berjudul Ekofeminisme, yang merupakan tugas kuliah Studi Gender pada Prodi Ilmi Sosial, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi di Universitas Negeri Yogyakarta, sebagaimana dikutip dari Catatan Kecil Puspa di situs http://poespha714.blogspot.com/2011/12/tugas-studi-genderq.html )

[viii]   Lihat tulisan berjudul  Aleta Baun, Perempuan Pahlawan Lingkungan dari NTT sebagaimana dikutip dari situs http://fokus.news.viva.co.id/news/read/405691-aleta-baun–perempuan-pahlawan-lingkungan-dari-ntt.

[ix]  Sumber : Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Yosepha_Alomang.

[x]  Lihat tulisan Nissa Waradipura berjudul Pesantren Ath Thaariq Garut : Berjuang dari Sejengkal Tanah, yang ditulis dalam Rubrik Jaringan Swara Rahima Edisi-41 sebagaimana dikutip dari situs http://rahima.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1045:pesantren-ath- thaariq-garut–berjuang-dari-sejengkal-tanah–jaringan-edisi-41&catid=41:jaringan&Itemid=308.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here