Dr. Rumadi, MA, dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta yang juga merupakan Direktur Program The Wahid Institute. Tradisi klasik pesantren digeluti lelaki yang lahir di Jepara, 18 September 1970 ini semanjak ia nyantri di Pesantren Al Mukti, Kudus. Selanjutnya, ia mendalami studi S1-nya di Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah IAIN Semarang, S2 Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang, hingga akhirnya mendapatkan gelar Doktor pada Bidang Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah. Suami dari Emmamatul Qudsiyah, serta bapak dari 2 putra-putri Farid Azka (14 th) dan Najma Suaida (10 th) ini telah lama malang melintang sebagai aktivis saat ia menjadi bagian dari Divisi Islam Emansipatoris Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) maupun sebagai pengelola jurnal Tashwirul Afkar Lakpesdam NU. Pegiat soal-soal kemajemukan di masyarakat yang banyak melakukan advokasi pada korban-korban kekerasan bernuansakan agama seperti yang menimpa Jemaat Ahmadiyah, warga Syiah, maupun upaya mengatasi polemik pembangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin ini akan bertutur tentang bagaimana konflik dan kekerasan ini terjadi di masyarakat, sekaligus pihak yang banyak dirugikan dari peristiwa semacam ini.

Bagaimana anda melihat konflik bernuansakan agama dan kekerasan massa seperti yang terjadi dalam kasus Ahmadiyah di Cikeusik, GKI Yasmin di Bogor, maupun Syiah di Sampang?

Ini menunjukkan adanya gejala masyarakat kita yang semakin tidak bisa hidup bersama dengan orang yang berbeda. Masyarakat kita yang dikenal moderat dan toleran, sekarang ini diinfiltrasi virus intoleransi. Sayangnya, masyarakat kita tidak cukup mempunyai kekebalan untuk menangkal virus intoleransi itu.

Siapakah yang rentan menjadi korban dalam kasus-kasus tersebut? Bagaimana Anda melihat perempuan dan anak-anak dari kelompok-kelompok pihak yang menjadi korban?

Perempuan dan anak-anak tentu menjadi kelompok yang paling rentan dalam sejumlah peristiwa intoleransi. Kerentanan itu terutama disebabkan karena perempuan dan anak-anak biasanya menjadi pihak yang mengalami pengorbanan ganda. Di satu sisi dia menjadi korban intoleransi, di sisi lain mereka juga harus mengalami implikasi yang tidak ringan, seperti anak-anak yang tidak bisa sekolah, atau perempuan yang kesehatan reproduksinya tidak terjamin.

Sejauh ini, apa pemicu konflik dan kekerasan bernuansakan agama tersebut? Bagaimana Anda melihat peran pemerintah dalam hal ini?

Ada sejumlah kalangan yang cenderung menafikan persoalan agama sebagai pemicu konflik dan kekerasan. Ketika terjadi konflik dan kekerasan maka persoalan itu akan segera dijauhkan dari agama dengan mengatakan hal itu disebabkan karena faktor-faktor di luar agama. Saya kurang setuju dengan cara pandang ini. Menurut saya, harus ada keberanian untuk mengatakan memang dalam agama ada anasir-anasir yang bisa memunculkan konflik dan kekerasan. Sayangnya, pemerintah kita seringkali tampak tidak berdaya menghadapi ancaman kekerasan bersimbol agama.

Upaya apa yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam mengatasi konflik dan kekerasan bernuansakan agama tersebut?

Yang paling penting tentu pendewasaan kehidupan beragama. Masyarakat harus didik untuk lebih dewasa dalam menerima perbedaan-perbedaan, sehingga mereka tidak mudah ter(di)provokasi. Namun, terkadang persoalannya tidak pada level grassroot, tapi justru pada elit-elit agama dalam berbagai level. Pendewasaan elit ini juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan.

Selama ini, pemahaman tentang ajaran agama seperti apakah yang berkembang di masyarakat sehingga konflik bernuansakan agama ini ada dan berkembang di masyarakat?

Sebenarnya sejak lama pemahaman keagamaan masyarakat kita cenderung konservatif. Tapi selama konservatisme itu tidak berkembang menjadi intoleransi tidak ada persoalan. Salah satu alat peredamnya adalah dorongan agama untuk menerapkan akhlak mulia dengan tidak menyakiti pihak lain yang berbeda. Di sisi lain semangat kebangsaan juga menjadi peredam intoleransi dan kekerasan. Kebangsaan yang saya maksud adalah semangat untuk hidup bersama sebagai bangsa meskipun berbeda-beda. Karena itu, konflik dan kekerasan bernuansa agama yang sekarang banyak terjadi bisa dimaknai sebagai bentuk kemerosotan akhlak mulia dan semangat hidup bersama sebagai bangsa.

Bagaimana sebenarnya upaya Islam dalam mengajarkan pembinaan hubungan sosial dalam konteks antar agama?

Islam mengajarkan untuk menghormati perbedaan, termasuk perbedaan agama. Teladan yang diberikan Rasulullah dan para sahabatnya cukup memberi landasan teologis, tidak ada sedikitpun ajaran Islam yang mendorong permusuhan. Karena itu, kalau ada orang atau kelompok yang memusuhi orang lain semata-mata karena agama dan keyakinannya, bisa dipastikan orang tersebut bermasalah dalam beragama.

Adakah contoh-contoh perempuan dalam sejarah Islam yang memiliki peran untuk membangun perdamaian?

Saya merasa agak kesulitan untuk menemukan kisah-kisah ini. Saya tidak begitu yakin. Mengingat, dalam banyak riwayat kisah Aisyah ra. seringkali justru dikaitkan sebagai bagian dari konflik. Sementara itu, di tanah air kisah tentang Tjoet Njak Dhien, juga merupakan bagian dari peperangan. Kisah perempuan seringkali justru banyak dikaitkan dengan pertempuran dan peperangan. Oleh karena itu, saya pikir perlu penelusuran lebih jauh untuk menemukan kisah-kisah inspiratif tentang peran perempuan untuk membangun perdamaian dalam khazanah Sejarah Islam.

Dalam pandangan anda selama ini, apakah perempuan banyak dilibatkan dalam upaya rekonsiliasi konflik maupun pembangunan perdamaian? Dapatkah anda sebutkan beberapa contohnya?

Pelibatan perempuan dalam rekonsiliasi konflik sering dilakukan oleh aktifis perempuan sendiri. Biasanya laki-laki kurang menyadari peran penting perempuan dalam rekonsiliasi. Sebagai contoh, proses perdamaian di Ambon yang justru dimulai dari ibu-ibu yang yang berjualan ikan di pasar. Pasar sebagai ruang public dan dihuni banyak perempuan justru menjadi ruang rekonsiliasi yang efektif dalam konflik di Ambon.

Inisiatif apa yang memungkinkan untuk dilakukan oleh kaum perempuan (maupun dengan kaum lelaki secara bersama-sama) untuk membangun kehidupan yang damai dan nir kekerasan?

Laki-laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk Tuhan yang mulia. Kemuliaan manusia bukan karena jenis kelaminnya, tapi karena perbuatannya. Saya kira, kesadaran demikian harus ditanamkan kuat dalam diri semua orang. Memusuhi, apalagi menciderai manusia pada dasarnya memusuhi dan menciderai penciptanya. Jika kesadaran demikian tertanam, distulah kita bisa membangun basis kehidupan yang damai.

Apa saran Anda agar untuk dapat menumbuhkan kepemimpinan perempuan, termasuk dalam konteks daerah ataupun kelompok-kelompok yang tengah dalam situasi konflik ini?

Perempuan harus diberi ruang yang cukup untuk mengekspresikan dirinya. Bila situasi tidak memungkinkan, maka upaya afirmatif perlu dilakukan. Namun demikian, perempuan yang juga harus mempunyai kepercayaan diri bahwa dia bisa tampil setara dengan laki-laki. Tanpa kepercayaan diri maka dominasi laki-laki dalam berbagai lini kehidupan akan terus terjadi. {} AD. Kusumaningtyas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here