Oleh : AD.Kusumaningtyas

“Uthlub al ‘ilma min al-mahdi ila al-lahdi” (Tuntutlah ilmu semenjak dari buaian hingga ke liang lahat). Menuntut ilmu, perlu diperjuangkan kalau perlu sampai mati. Entahlah, apakah ungkapan itu tertanam begitu kuat di benak Malala Yousafzai, seorang gadis berusia 14 tahun asal Pakistan sehingga dia memiliki keberanian ini. Kawanan bersenjata Taliban Pakistan menembak Malala pada 9 Oktober, selagi ia dalam perjalanan pulang dari sekolah di Lembah Swat, Pakistan Barat Laut. Gadis kecil pemberani ini mendapatkan luka tembak di bagian kepala dan lehernya. Remaja ini dikenal di dunia internasional karena berbicara lantang mendukung pendidikan bagi anak-anak perempuan dan menentang kelompok militan yang menguasai kampung halamannya sejak tiga tahun silam. Syukurlah, setelah diterbangkan oleh  pesawat ambulans milik Uni Emirat Arab dan mendapatkan perawatan di RS. Queen Elizabeth di Birmingham Inggris, kondisi Malala kini  semakin membaik.

Putri dari Ziauddin Yousafzai yang dilahirkan pada  12 Juli 1997 ini adalah seorang siswi sekolah dan aktivis pendidikan dari desa Mingora, di distrik Swat di propinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Dia dikenal karena perjuangannya dalam bidang pendidikan maupun hak-hak perempuan di Lembah Swat , dimana selama ini Taliban melarang anak-anak perempuan untuk pergi ke sekolah. Di awal tahun 2009, ketika Malala berusia sekitar 11 atau 12 tahun, dia menulis sebuah blog dengan menggunakan nama samaran untuk BBC Urdu mengenai kisah hidupnya di bawah kekuasaan Taliban. Kelompok militan ini berupaya untuk mengontrol kawasan lembah dimana Malala tinggal maupun pandangan-pandangannya yang memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan. Sebuah tindakan luar biasa yang dilakukan oleh gadis kecil seusianya. Tak heran, gadis kecil brillian ini pernah dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan  International Children’s Peace Prize oleh Desmond Tutu, selain memenangkan penghargaan pertama tokoh muda nasional Pakistan.  

Desa dimana Malala tinggal dikuasai oleh kelompok militanTaliban yang yang mengatasnamakan Islam  berniat ingin menerapakan pemahaman mereka mengenai “Syariat Islam” di kawasan tersebut. Salah satu upaya yang coba mereka terapkan adalah melarang anak-anak perempuan yang masih dalam usia pendidikan seperti Malala untuk bersekolah. Oleh karenanya, di kawasan tempat tinggalnya di Pakistan, anak-anak perempuan mesti berjuang keras bahkan bertaruh nyawa untuk tetap bisa bersekolah karena hidup dalam situasi konflik dan peperangan. Aktivitas Malala sebagai pegiat hak pendidikan untuk perempuan, telah mengundang kemarahan kaum militan yang mengganggap pendidikan perempuan sebagai nilai-nilai budaya Barat.

Kasus penembakan Malala, telah membuka mata dunia bahwa masih banyak anak-anak perempuan yang mengalami penderitaan yang serupa dengannya. Tak hanya anak-anak Pakistan, situasi yang serupa pun dialami di wilayah Afghanistan yang berada di bawah kekuasaan Taliban. Di negeri mereka, anak-anak perempuan Afghanistan juga dilarang bersekolah. Mereka harus mempertaruhkan hidupnya untuk dapat bersekolah. Beberapa anak disiram air keras, diracuni air minumnya, atau menjadi target bom oleh mereka yang menganggap anak perempuan pantang bersekolah. Sebuah  kondisi yang sangat memprihatinkan.

Berdasarkan Laporan Koordinator PBB untuk Pakistan, Timo Pakkala, isu hak perempuan dalam pendidikan  di negara tersebut masih sangat krusial. Dalam laporan pendidikan UNESCO yang berjudul “Pendidikan Untuk Semua : Laporan Pengawasan Global 2012” masih terlihat ketimpangan antara perempuan dan laki-laki. Untuk kelompok usia 15-24 tahun, misalnya, tingkat melek huruf di kalangan perempuan mencapai 61% sementara laki-laki pada 71%. Sementara perbandingan tingkat buta huruf perempuan dan laki-laki mencapai 64% dan 34% untuk kelompok usia yang sama. Jika dilihat dari anak yang ke luar sekolah, dari 5,1 juta total anak Pakistan yang tidak melanjutkan sekolah maka jumlah anak perempuan mencapai 63% atau hampir dua pertiga.

Tragedi yang menimpa Malala telah membuat semua orang menaruh respek kepadanya. Beragam aksi dilakukan oleh  masyarakat dari berbagai penjuru dunia untuk menghormati perjuangan Malala. Bahkan, dua badan PBB, UNESCO dan UNGEI -prakarsa PBB untuk pendidikan perempuan- menggelar pertemuan khusus  dalam rangka menegaskan komitmen untuk mencapai sasaran pembangunan pendidikan bagi perempuan di Pakistan. Sebelumnya,  dalam pertemuan Dewan Eksekutif UNESCO, Jumat 19 Oktober 2012, Direktur Jenderal UNESCO, Irina Bokova, menggelar sesi khusus untuk menghormati Malala.

“Di mana saja dan kapan saja seorang anak perempuan dilarang pergi ke sekolah, itu merupakan serangan terhadap semua perempuan, terhadap hak untuk belajar, hak untuk hidup secara utuh dan itu tidak bisa diterima,” tutur Bokova.

Menurut Angelina Jole, seorang aktris yang merupakan Duta badan PBB untuk pengungsi yaitu UNHCR, Malala bukan hanya seorang gadis remaja namun inspirasi bagi perdamaian dunia. erinspirasi dari Malala, Jolie menggalang dana untuk mendukung aktivitas pendidikan perempuan di Pakistan dan Afghanistan. Mitra Pendidikan untuk Anak Daerah Konflik milik Jolie pun menyumbangkan USD 50 ribu atauRp 500 juta dalam penggalangan awal tersebut.

Selain itu,  lebih dari 50 ulama dari Sunni Ittehad Council (SIC) di Pakistan pun telah mengeluarkan fatwa bahwa serangan terhadap Malala bertentangan dengan syariat Islam. Semestinya, kisah Malala Yousafzai justru mengantarkan kita untuk memahami dengan sungguh-sungguh hadis Rasulullah  yang menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi laki-laki dan perempuan. Oleh karenanya, memberikan kesempatan dan fasilitas pendidikan bagi anak anak lelaki maupun perempuan, adalah keniscayaan yang mesti dipenuhi oleh negara dan mendapatkan perhatian penuh masyarakat.  Kesadaran ini juga telah mengetuk hati  Pemerintah Pakistan yang kini berencana membangun sekolah khusus untuk warga miskin sebagai penghormatan untuk remaja aktivis pendidikan itu. Pemerintah bahkan berencana menggunakan nama Malala sebagai nama sekolah itu.{}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here