Oleh: Muhbib Abdul Wahab*

Prolog

Pendidikan sejatinya merupakan upaya pembahagiaan manusia, termasuk perempuan. Karena itu,  pencerdasan dan pemberdayaan perempuan haruslah bermuara kepada pembahagiaan perempuan. Pembahagiaan perempuan berarti penyadaran terhadap hak-hak yang seharusnya diperoleh dan kewajiban-kewajiban yang semestinya diemban perempuan. Pembahagiaan perempuan juga bermakna aktualisasi diri perempuan sebagai makhluk sosial dan beragama yang memiliki sejumlah kelebihan dan keunggulan yang tidak dimiliki oleh lelaki.

Membahagiakan perempuan itu merupakan pilihan hidup yang seharusnya menjadi komitmen semua pihak untuk merealisasikannya. Semua lembaga pendidikan idealnya menaruh perhatian besar terhadap pembahagiaan perempuan, karena  perempuan (ibu) adalah sekolah pertama dan yang utama (al-Ummu madrasatun). Masalahnya adalah “Bagaimana membahagiakan perempuan melalui sebuah sistem edukasi yang mencerdaskan dan mencerahkan?”

Tulisan ini berupaya mengelaborasi pemikiran edukasi pembahagiaan perempuan menurut ‘Aidh al-Qarni. Tulisan ini terutama didasarkan pada karyanya tentang perempuan dan membangun rumah tangga, yaitu As’adu imra’atin fi al-‘Alam (Menjadi Perempuan Paling Bahagia di Dunia) dan Tsalatsuna Sababan li al-Sa’adah (30 Sebab/Jalan Menuju Kebahagiaan).

Profil Singkat ‘Aidh al-Qarni 

‘Aidh al-Qarni tergolong penulis muda yang sangat produktif karena hingga saat ini telah menulis lebih dari 75 buku dan 1.200 kaset ceramah. Ia lahir pada 1379 H (1960 M),  bernama lengkap `Aidh Abdullah bin `Aidh al-Qarni. Nama al-Qarni diambil dari dari daerah asalnya, yaitu selatan Arab Saudi. Ia menamatkan program sarjana S1 di bidang Ushuluddin (Teologi Islam), Magister dan Doktor di bidang hadits pada Universitas Islam Imam Muhammad bin Su`ud, Riyadh. Ia hafal Alquran dan kitab Bulugh al- Maram, dan telah mengajarkan 5.000-an hadis dan 10.000-an bait syair.

Al-Qarni termasuk penulis dan da’i yang sangat vokal mengkritisi pemerintah Arab Saudi. Karena keberaniannya menyuarakan sesuatu yang tidak lazim di mata penguasa monarki, ia pernah dipenjara oleh pemerintahnya. Kesalahannya saat itu adalah terlalu berani menentang kehadiran pasukan Amerika Serikat di Arab Saudi atas undangan pemerintah Saudi. Selain itu, bait-bait syairnya juga dinilai bermuatan politik sehingga dianggap membahayakan stabilitas pemerintah monarki itu.

Namanya menjadi sangat popular setelah buku La Tahzan dipublikasikan, dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 29 bahasa dunia. Di Arab Saudi sendiri, buku ini sudah dicetak lebih dari 1,5 juta copy. Di antara karya-karyanya yang juga banyak mewarnai dunia perbukuan tanah air adalah Islam Rahmatan Lil `Alamin, Sumber Inspirasi Orang Saleh, Membangun Rumah dengan Taqwa, Cahaya PencerahanJangan Takut Hadapi Hidup, Nikmatnya Hidangan al-Quran, dan Manusia Langit Manusia Bumi.

Sedangkan buku best seller yang sudah diterjemahkan, diterbitkan, dan dicetak berulang kali adalah La Tahzan, Jangan Bersedih, Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia, Menjadi Wanita Paling Bahagia, Ramadhankan Hidupmu, Tersenyumlah, Jangan Putus Asa, dan Jangan Berputus Asa`. Mayoritas buku yang ditulis al-Qarni sangat inspiratif, dikemas dengan pilihan kata (diksi) yang indah, menyentuh hati, berisi motivasi dan bernuansa spiritualitas tinggi.

Jangan Bersedih

La Tahzan (Jangan bersedih) ditulis saat al-Qarni berada di penjara. Judul ini menginspirasi banyak orang. Dalam buku ini, ditegaskan bahwa kebahagiaan harus diwujudkan dengan menjauhkan diri dari kesedihan. Firman Allah swt. yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada shahabat Abu Bakar ash-Shiddiq Ra: La tahzan inna Allah ma’ana (Janganlah bersedih; karena Allah selalu bersama kita) (QS. at-Taubah/9: 40) ketika berada dalam gua Tsur, tempat beliau transit dalam perjalanan hijrah dari Mekkah menuju Madinah merupakan pesan kebahagiaan universal, betapapun saat itu keduanya diliputi kesedihan mendalam.

Kesedihan merupakan penyakit manusia sepanjang masa. Muslim atau bukan Muslim, pasti mengalami kesedihan. Sedih karena sakit, sedih karena meninggal, sedih karena kesulitan hidup dan berbagai masalah. Mengeliminasi kesedihan adalah salah satu kunci meraih kebahagiaan.  Karena , di balik kesulitan pasti ada kemudahan.

Ukuran kebahagiaan itu bukan pada materi duniawi, tidak juga pada status sosial yang tinggi dan penuh gengsi, melainkan pada keridhaan hati (ridha al-qalbi), kesesuaian perbuatan dengan hati nurani (rahatu dhamir), ketenangan dan kestabilan jiwa (qarar nafs), kegembiraan jiwa (farhat ruh), kelapangan pikiran (insyirahu bal), kebaikan keadaan (shalah hal), konsistensi akhlak, edukasi perilaku terpuji disertai sifat syukur dan qana’ah (merasa cukup, tidak rakus).

Edukasi Pembahagiaan

Kebahagiaan hidup perempuan tidak seperti durian jatuh dari pohonnya, tetapi harus diperjuangkan. Kebahagiaan perlu diraih melalui sebuah proses edukasi, baik informal, formal maupun nonformal. Sama seperti pendidikan, kebahagiaan juga berjenjang dan bertahap, memerlukan proses, tidak instan, dan kesabaran.

Edukasi pembahagiaan perempuan bertujuan menyadarkan kaum perempuan untuk kembali pada taman Ilahi (kitab suci) yang di dalamnya penuh sumber nilai, inspirasi, dan motivasi. Upaya mengakrabkan perempuan dengan kitab suci, membuat interaksinya dengan Alquran menjadi lebih intens. Di taman bacaan Ilahi inilah seharusnya perempuan menemukan kebahagiaannya dengan sinar petunjuk yang mencerahkan. Di sini pula, ia bisa mengeyahkan kesedihan, keraguan, keputusasaan, dan kehampaan.

Dipadu dengan Sunnah Nabi Muhammad saw., edukasi pembahagiaan perempuan harus menemukan cahaya kerinduan berbasis “Baiti jannati” (Rumahku adalah surgaku), model ideal rumah tangga Nabi saw. Jadi, dengan mengambil inspirasi dan motivasi dari “Baiti jannati” perempuan idealnya menemukan obat paten (ad-dawa’ an-naji’) bagi segala persoalan dan penyakit hati yang dialaminya; memperoleh ilmu yang bermanfaat; dan memelihara dirinya dari segala kekurangan dan kelemahan.

Edukasi pembahagiaan perempuan bermuara kepada peneguhan komitmen perempuan terhadap sumber utama ajaran Islam (Alquran dan as-Sunnah); menjadikan Nabi saw. sebagai idola kehidupan  penuh bahagia.  Selain itu, juga mengokohkan iman, ilmu dan amal, merasakan kenikmatan spiritual  dan ketenteram jiwa saat shalat (qurratu ‘ain fi as-shalah). Perlu pula menjaga hati tetap sehat dengan ridha; mendamaikan hati dan pikiran dengan qana’ah; menampilkan kecantikan roman muka dengan tersenyum; menjaga harkat dan martabat diri, dan senantiasa mengawal kedamaian hati dan membasahi lidah dengan banyak berdzikir.

Edukasi pembahagiakan perempuan menurut al-Qarni juga menuntut pemahaman terhadap sejumlah kata kunci kebahagiaan. Menurutnya, kunci kemuliaan itu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kunci masuk surga itu tauhid. Kunci memperoleh rizki itu adalah berusaha yang disertai istighfar dan taqwa. Kunci iman itu adalah bertafakkur terhadap ayat-ayat dan segala ciptaan Allah. Kunci kebajikan itu adalah kejujuran. Kunci hidupnya hati adalah tadabbur Alquran, berdoa di waktu sahur, dan meninggalkan dosa. Kunci kemenangan dan kegemilangan adalah sabar. Kunci menuntut ilmu itu adalah mendengar dan bertanya dengan baik. Kunci kebaikan adalah taqwa. Sedangkan kunti peningkatan segala hal adalah bersyukur.

Kunci-kunci tersebut perlu diaktualisasikan dalam kehidupan nyata agar perempuan tidak hanya meraih kebahagiaan hakiki, tetapi juga bisa membahagiakan suami dan anak-anaknya. Jadi, edukasi pembahagiaan perempuan merupakan tugas dan tanggung jawab bersama. {}

*Penulis adalah pemerhati kajian pendidikan perempuan; dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here