Oleh: Diah Rofika

Tentu merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi para perempuan Muslim di Jerman untuk tetap mampu mempertahankan eksistensinya mengingat mereka adalah kaum minoritas yang hidup di sebuah negara yang secara kultur dan budaya berbeda dengan negara darimana mereka berasal, dan juga agama yang mereka anut. Mereka bisa terancam karena dua hal; pertama, sebagai imigran yang mana isu ini juga menjadi hal yang sensitif didiskusikan di kalangan politisi, aktivis dan akademisi Jerman, kedua, sebagai pemeluk agama Islam, yang karena peristiwa 11 September citra mereka disamakan dengan teroris. Bagaimana usaha perempuan muslim di Jerman ini untuk terus mempertahankan ajaran agamanya dan melindungi diri mereka dari segala bentuk diskriminasi yang merugikan serta seringkali mengancam keselamatan mereka?

Sejarah masuknya Islam ke Jerman
Jika menengok pada latar belakang sejarah yang berlalu, toleransi antar agama dan budaya (baca Islam dan budayanya) dengan Jerman sudah terjalin sejak beratus-ratus tahun yang lalu yaitu sejak masa kejayaan kekhalifahan Islam di Spanyol, dimana ekspansi dan kemajuan besar-besaran di bidang politik, ekonomi, budaya dan ilmu pengetahuan telah mengantar Islam menjadi agama yang populer di daratan Eropa dan membantu menumbuhkan inspirasi masyarakat Eropa meninggalkan masa kegelapan (the Dark Age).

Jerman kembali bersentuhan dengan Islam setelah perang dunia ke-II berakhir. Akibat kekalahannya pada perang dunia ke-II ini, hampir seluruh wilayah Jerman mengalami kehancuran. Jerman membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membangun kembali negaranya. Maka kemudian berdatanganlah para tenaga kerja dari luar Jerman seperti dari Turki, Italia, Maroko, Tunisia, dan Eropa Timur. Setelah kontrak kerja berakhir banyak dari mereka yang tidak mau kembali lagi ke negara mereka masing-masing. Mereka lebih memilih untuk menetap di negara yang dianggapnya lebih maju dibanding dengan negara asal mereka.

Sayangnya, para imigran itu rata-rata berpendidikan rendah dan tidak memiliki ketrampilan sehingga kemudian memicu masalah sosial seperti pengangguran dan kriminalitas. Berbagai masalah sosial yang dipicu para imigran itu kemudian menumbuhkan perasaan Islamofobia, dan berpikir negatif terhadap Islam secara keseluruhan. Hanya karena kebetulan para imigran di Eropa sebagian besar berasal dari latar belakang dunia Islam, dianggapnya semua kekacauan yang terjadi, umat Islamlah pelakunya.

Bentuk-bentuk reaksi yang muncul pada beberapa kota di Jerman terhadap para imigran Muslim ini di antaranya adalah pelarangan dibangunnya menara masjid, pelarangan menggunakan jilbab bagi perempuan Muslim bahkan pada beberapa kasus disertai dengan penyerangan dan pembunuhan, dan juga perlakuan diskriminatif terhadap perempuan-perempuan berjilbab seperti; tidak memperbolehkan mereka bekerja di perkantoran dan mengajar di sekolah.

Gerakan Perempuan Muslim di Jerman
Meskipun berbagai reaksi muncul menentang keberadaan mereka, perempuan Muslim Jerman tidak pernah putus asa untuk terus berusaha mengenalkan Islam secara lebih dekat kepada masyarakat. Mereka pun tetap aktif melakukan berbagai kegiatan, baik yan bersifat keagamaan maupun yang bersifat sosial kemasyarakatan dengan tanpa menanggalkan jilbab dari kepalanya. Salah satu cara unik yang dilakukan oleh sebuah komunitas Muslim di Witten misalnya. Mereka memerangi Islamophobia dengan cara berkampanye melalui fashion. Mereka menjual aneka fashion yang digandrungi oleh anak-anak muda dengan pesan-pesan damai. Misalnya dengan menulisi kalimat terrorist has no religion atau hijab is my right, my choice, my life pada punggung kaos-kaos mereka. Cara seperti ini menurut mereka sangat efektif untuk mengenalkan bahwa Islam adalah agama yang baik dan ramah kepada siapa saja. Mereka tidak hanya mengkampanyekan tentang Islam, tetapi juga tentang toleransi dan multikulturalisme.

Selain itu, sebagai bentuk dukungan dan solidaritas terhadap nasib kaumnya yang mengalami diskriminasi, banyak diantara perempuan muslim di Jerman yang memiliki ketrampilan dan keahlian lebih, kemudian membuat lembaga-lembaga atau wadah-wadah yang bisa digunakan untuk menampung dan menyalurkan aspirasi mereka. Seperti yang terdapat di Berlin, kaum pendatang ini membuat program integrasi dengan lembaga-lembaga resmi Jerman seperti lembaga kursus bahasa, lembaga pendidikan mulai dari play group sampai sekolah dasar. Pada lembaga bahasa seperti VHS (Volkhochschulen) contohnya, di situ terdapat program khusus untuk para orang tua (bapak dan ibu) pendatang yang ingin belajar bahasa Jerman atau menulis dan membaca dengan biaya yang sangat murah. Hal ini sekaligus memberi peluang dan kesempatan bagi perempuan-perempuan berjilbab untuk bisa bekerja di sektor yang lebih tinggi atau perkantoran. Program ini sangat membantu sekaligus membangkitkan semangat para perempuan untuk terus membekali dirinya dengan pendidikan karena banyak di antara peserta kursus itu yang usianya sudah di atas empat puluh tahun.

Upaya-upaya lain yang mereka lakukan untuk menambah wawasan dan pengetahuan adalah dengan membuat grup-grup kecil, untuk mengkaji persoalan keagamaan, mengaji, berdiskusi, dan membahas berbagai persoalan yang mereka alami atau rasakan, sehingga mereka menjadi lebih faham terhadap hak-hak dan kewajiban perempuan.

Sebagian dari mereka juga sangat terbuka terhadap isu gender dan emansipasi dengan mulai berfikir bahwa sudah saatnya bagi mereka untuk ikut mengambil peran dalam masyarakat dan mereka mengerti hanya dengan bekal pendidikan dan ketrampilanlah mereka bisa masuk dan berinteraksi dalam kehidupan sosial. Mereka juga sadar bahwa bukanlah hal yang salah jika seorang perempuan itu keluar rumah untuk berkegiatan atau bekerja.

Keberadaan perempuan Muslim di Jerman dari tahun ke tahun mengalami kemajuan yang membahagiakan. Tidak saja para imigran, perempuan-perempuan Jerman yang masuk ke agama Islam dan mengenakan jilbabpun bertambah banyak. Apalagi kemudian didukung sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomad De Meizere bahwa cadar atau jilbab adalah bagian dari hak untuk mengekspresikan kepribadian seorang muslim. De Meizere juga mengecam pelarangan berjilbab atau bercadar di muka umum karena itu bertentangan dengan konstitusi Jerman.

Akhirnya, saya bertanya apakah yang dilakukan oleh kalangan perempuan Muslim di Jerman bisa dianggap sebagai sebuah gerakan? Jawabnya kita lihat sejarah yang akan datang, karena ibarat umur manusia, perjalanan perempuan Muslim masih berada di umur kanak-kanak, kita harus menunggunya sampai mereka menginjak dewasa. Wallahu a’lam.

____________________

Sumber Bacaan:
1.  http://suara-islam.com/news/berita/internasional/3262-susahnya-muslimah-jerman-mencari-pekerjaan
2. Deutsche Welle, Bursa Kerja Bagi Muslimah: http://www.dw-world.de/dw/article/0,,15530886,00.html
3. http://answering.wordpress.com/2010/05/05/eropabelajarlah-dari-mendagri-jerman-thomas-de-maiziere-soal-larangan-cadar/#more-3992
4.    http://answering.wordpress.com/2010/05/05/cinta-islam-dengan-fashion/#more-3992
5.    http://www.zawaj.com/articles/women_network.html
6.    http://prabowo-yulianto.blogspot.com/2010/11/sejarah-masuknya-islam-di-jerman.html
7.    http://forum.detik.com/jerman-usaha-membangun-multikulturalisme-di-negara-tersebut-telah-gagal-total-t214703.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here