“Ternyata penyampaian materi dalam forum bisa dibuat asyik, meski materinya lumayan berat, saya bisa meneruskannya dalam pembeljaran kelas di sekolah”

Itulah ungkapan salah seorang peserta workshop tolerance and diversity on debate yang diselenggarakan oleh SFCG Indonesia bekerjasama dengan Rahima di Yogyakarta  pada tanggal 28 November-1 Desember 2011.

Acara ini dihadiri oleh 9 guru dari 5 sekolah dari Yogyakarta, Surakarta, Bandung dan Cirebon. Adapun materi yang dibahas diantaranya adalah kebhinekaan, resolusi konflik dan tehnik debat, metode workshop yang dipakai  beragam mulai dari role play, nonton film, analisa kasus, sharing dan diskusi.

Acara yang berlangsung selama 4 hari ini berjalan hangat karena suasana dibangun dengan kekeluargaan, hal ini terlihat bahwa tidak ada peserta yang tidak menyuarakan pendapatnya. Peserta merasa bahwa kegiatan seperti ini perlu diselenggarakan lagi, ada banyak hal yang bisa menjadi alternatif pengajaran supaya menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Dalam workshop ini memang digunakan metode pendidikan orang dewasa (POD) yakni peserta dilibatkan secara aktif dengan menggali pengalaman dan pengetahuan peserta. Pada dasarnya setiap inividu memiliki pengalaman hidup yang sangat unik  dan ini menjadi kekuatan untuk memperkaya pengalaman bersama.

Dalam sesi yang dipandu oleh Maman A Rahman, peserta secara tidak langsung diajak untuk menyadari bahwa kita telah hidup dalam perbedaan dan kita mampu menciptakan perdamaian ditengah perbedaan.  Sesi berikutnya dipandu oleh Agus Nahrowi yang memaparkan bahwa konflik adalah sebuah fenomena alami manusia dan banyak orang dan masyarakat bisa mencapai hasil konstruktif  dalam konflik. Pada bagian debat, Reggy Hasibuan memaparkan tentang bagaiamana tekhnik debat, tekhnik penjurian dan bagaimana debat menjadi salah satu alternatif pengajaran dalam KBM (kegiatan belajar mengajar).

Adapun tema kebhinekaan dipilih untuk merangsaang para siswa-siswi agar mereka punya kesadaran bahwa kebhinekaan itu adalah tanggung jawab bersama. Sebagai generasi muda, para siswa-siswi mempunyai peluang menjadi mediator muda untuk kegiatan resolusi konflik. Metode debat menjadi alternatif penyampaian isu kebhinekaan, sebab kegiatan ini mendorong siswa-siswi untuk berfikir kritis, menghargai keberagaman pendapat dan juga cara pandang, serta mengenalkan model kompetisi yang sehat. Debat tidak hanya menjadi sebuah kompetisi yang memperebutkan juara, namun lebih dari pada itu; debat dapat menjadi sarana bagi siswa-siswi untuk mengaktualisasikan diri, lebih yakin dan bangga atas apa yang sudah dimiliki bangsa Indonesia.

Ikhtiar yang dilakukan Rahima dan SFCG ini sebagai bentuk keprihatinan akan keadaan bangsa yang nampaknya kian jauh dari keharmonisan dan toleransi.  Diharapkan program ini mampu menjadi salah satu alternatif untuk meyebarkan benih-benih penghargaan terhadap keberagaman dan menjadi salah satu model  pendidikan multicultural, kebhinekaan dan kebangsaan. (Aida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here