“Bagaimana cara mengetahui supaya anak mengerti apa yang dimaui oleh orang tua dan orang tua pun mengerti apa yang dimaui anak?” Bagaimanakah cara menghadapi anak yang suka memukul? Mengapa pengasuhan anak seolah-olah menjadi tanggung jawab ibu? Inilah beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta acara bedah buku “Parenting with Love: Panduan Islami mendidik Anak dengan Penuh Cinta dan Kasih Sayang” yang digelar Rahima di toko buku Leksika Lenteng Agung bulan Juli lalu. Buku ini ditulis oleh pasangan suami istri Maria Ulfah Anshor dan Abdullah Ghalib yang diinspirasi dari pengalaman mereka di dalam merawat dan membesarkan dua orang anak mereka yang kini menginjak remaja.

Menurut penulis buku ini yang juga menjadi narasumber acara bedah buku, bahwa berdasarkan pengalamannya menjabat sebagai ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terlihat jelas bahwa banyak orang tua secara “tidak sadar” telah dan sedang mengeksploitasi anaknya, sebagai contoh dengan menyuruh anak bekerja, mencari nafkah, tetapi lupa untuk memenuhi hak-hak dasar mereka, seperti hak untuk bermain, bersekolah, mendapatkan kasih sayang, bergaul dengan teman-teman sebayanya dan lain-lain. Namun, ancaman eksploitasi yang jauh lebih berbahaya sesungguhnya datang dari para sindikat nasional dan international untuk tujuan-tujuan kejahatan seperti perdagangan orang (trafficking), industri pornografi, pedophilia, bisnis narkoba, dan pengemis terorganisir.  Oleh karena itu, persoalan anak perlu mendapat perhatian serius baik dari para orang tua, masyarakat, dan juga negara.

Ajaran Islam tentang Parenting
“Islam mengajarkan bahwa anak adalah amanah Allah yang harus dijaga. Untuk itu, orang tua bertanggung jawab dalam membentuk kecedasan otak, emosional dan spiritual anak,” papar Daan Dini Khairunnida, salah satu pembahas buku ini. Diakuinya, bahwa menjadi orang tua yang baik tidaklah mudah dan membutuhkan proses belajar yang tidak pernah berhenti, learning by doing. Anak-anak juga sangat membutuhkan cinta dan kasih-sayang dari orang tua agar kepribadiannya berkembang dengan baik.

Namun, seringkali orang tua memaksakan kehendaknya kepada sang anak dengan alasan bahwa itu semua demi masa depan yang lebih baik. “Pemaksaan”  semacam Inilah menurut Sani B. Hermawan, yang juga pembahas buku ini, kelak akan menjadi bumerang bagi perkembangan dan kehidupan si anak.  Berdasarkan pengalamannya sebagai seorang psikolog keluarga, Mbak Sani (panggilan akrabnya) menyarankan bahwa membangun komunikasi yang baik dengan anak sangatlah penting. “Saat ini, sudah bukan zamannya lagi mengasuh anak dengan pola pemaksaan, kekerasan dan main perintah. Bagaimana mungkin seorang ibu atau ayah menyuruh anaknya belajar, sedangkan mereka sendiri dengan asyiknya  menonton televisi?” tuturnya. Untuk itu, anak-anak perlu role model di dalam perkembangannya, dan seharusnya orang tua menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw.; “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang membuatnya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Artinya, orang tua memiliki peran yang mutlak di dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. (Riri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here