”Berdosakah seorang isteri yang suaminya menyuruh pulang (sebagai Buruh Migran), tetapi ia tidak mau karena hutangnya masih menumpuk (karena semua beban dipundaknya)?”.

Demikian salah satu pertanyaan yang dilontarkan seorang jamaah Nyai Mahmudah saat mengikuti pengajian. Canggihnya, pengajian ini dilakukan dengan menggunakan Teknologi Informasi yaitu dengan fasilitas teleconference (Jamaah mengikuti pengajian dengan handphone dari rumah majikannya masing-masing). Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Assalafy Blokagung Tegalsari Banyuwangi ini,  pengajian dengan para buruh migran Hongkong telah menjadi rutinitas hampir 2 tahun setiap malam Sabtu pukul 10.00.

“Kami mengisi pengajian di Jam’iyah Salikul Lail dengan tema sesuai pesanan atau sesuai situsi dan kondisi. Bahkan beberapa bulan terakhir mereka meminta mengaji kitab Mar’atus Shalihah yang bertuliskan dengan huruf arab pegon.  Biasanya kami meminta mereka untuk membaca, setelah itu baru kami terangkan dan diakhiri dengan do’a”.

Menurut, pengasuh pesantren Darulaitam Darusssalam Blokagung, Ilmu pengetahuan yang diperoleh peserta Pengkaderan Ulama Perempuan Rahima dari pesantren, pelatihan dan bangku kuliah itu dibagikan kepada orang lain melalui pesantren, masyarakat sekitar dan bahkan kepada Buruh Migran yang ada di Hongkong dalam wadah Majlis Taklim  Salikul Lail.

Isteri dari Achmad Qusyairi Syafa’at, SH. MM atau dikenal dengan sebutan “Gus Mad” Blokagung Banyuwangi ini ingin menunjukkan bahwa pentingnya ilmu pengetahuan, sehingga usia tidak menjadi halangan. Pesan untuk para perempuan, jadilah perempuan yang pintar. Dengan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, perempuan diharapkan menjadi lebih berdaya.

Semangat belajar itu dipraktikkan sendiri oleh putri dari pasangan Bapak H.M. Basyir dan Ibu Hj. Siti Zuhro Umayyah dengan terus belajar di berbagai tempat dan kesempatan. Ibu dari Vina Mawaddah Ahmad, S.Pd.I  (22 Th), Khotibul Umam Ahmad (18 Th), Mukhtar Basyir Ahmad ( 15 Th), Shofia Nabila Ahmad ( 14 Th), Elmalia Kamila Ahmad ( 4 Th) sampai menyabet tiga gelar  yaitu S.Sos.I, S.Pd.I, M.Pd.I. Sebuah capaian yang luar biasa.

Pada pengajian ini, Ibu Nyai kelahiran Pekalongan, 22 Juli 1967 ini memberikan kesempatan kepada para Buruh Migran (TKW) untuk menyampaikan pertanyaan. Menurut Ketua HIDMAT (Himpunan Da’iyah dan Majlis Ta’lim Muslimat cab. Banyuwangi) 2011 ini pertanyaan yang disampaikan terkait persoalan kehidupan mereka, keluarga dan masalah di tempat bekerja.  “Pertanyaan yang sering dilontarkan kebanyakan problematika mereka, baik dengan keluarga (suami, anak, orang tua, dll) atau ditempat mereka bekerja. Sehingga tak cukup hanya dijawab dengan dalil Naqli tetapi juga dengan dalil Aqli (penalaran). Semangat mereka untuk thalabul ilmi dan beribadah besar sekali, hingga suami  saya (Gus Mad Blokagung Banyuwangi) memimpin mereka beristighotsah dan munajat kubro setiap malam jum’at legi tepat Nisfu Lail melalui teleconference.”

Menurut Ibu Nyai yang juga sebagai Pengasuh Majlis Ta’lim Baarik Lana Mushala Ghozali PP. Darulaitam Darussalam ini, pengetahuan yang diperoleh dari mengikuti pendidikan di berbagai tempat itu sangat bermanfaat ketika mengisi pengajian maupun menjawab pertanyaan ketika wartawan bertanya.  “Ketika kami mengisi pengajian di Masjid Jami’ Tsim Shat Tsui Kowloon ada wartawan yang menghampiri dan bertanya tentang permasalahan yang dihadapi TKW Hongkong. Alhamdulillah kami jawab dengan ilmu-ilmu yang didapat dari Rahima mengenai adanya perlindungan terhadapt TKI serta undang-undangnya, dan lain-lain.”

Menurut pengamatan ibu Nyai yang pernah kuliah di  IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, Buruh Migran di Hongkong lebih beruntung dari pada Buruh Migran di negara lain.  “Di Hongkong TKW lebih beruntung dari pada di negara lain, karena setiap seminggu sekali dan tanggal merah mereka diberi cuti kerja mulai dari pagi hingga malam, keluar dari rumah majikan untuk berlibur dan mencari aktifitas lain.”

Kesempatan yang baik ini, banyak juga dimanfaatkan para Buruh Migran untuk mengikuti pengajian dan menambah keterampilan, demikian menurut Nyai yang juga Dosen STAI Darussalam Blokagung ini. “Diantara mereka yang sadar dan mendapat hidayah Allah, maka waktu libur mereka gunakan untuk mengikuti pengajian yang diselenggarakan oleh berbagai macam organisasi atau jam’iyah  yang jumlahnya sangat banyak, bahkan kalau mau mereka bisa mengikuti 3 kali pengajian dalam sehari. Sebagaimana pengalaman kami pernah mengisi pengajian 3x dalam sehari. Pagi di Lapangan Victoria Park, siang di Masjid Tsim Shat Tsui  dan sore di Masjid Amar Wancay Hongkong. Ada juga yang menggunakan waktu libur untuk mencari ilmu keterampilan seperti latihan komputer, bahasa asing, merias atau salon, dan lain-lain.”

Menurut ibu Nyai yang murah senyum ini, selain hal-hal positif yang diperoleh Buruh Migran di Hongkong, hal negatif pun menggodanya, jika tidak bisa menahannya.  “Sisi negatifnya, adanya waktu libur bagi mereka yang tidak sadar dibuat untuk berfoya-foya, sehingga uang hasil kerja mereka habis hanya untuk bersenang-senang.”

Terkait peran laki-laki dan perempuan, ibu Nyai berpendapat bahwa lahan perjuangan bagi perempuan sama luasnya dengan laki-laki karena Allah tidak melihat siapa mereka tapi melihat siapa yang berbuat. Sebagaimana dalam Alqur’an :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl : 97)

Laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan perbuatan yang baik. Pengetahuan menjadi modal yang sangat baik untuk meraih kesempatan yang mulai terbuka.  Ibu Nyai yang juga menjabat Ketua I Fatayat NU Cab. Banyuwangi ini berpesan dengan mengutip sebuah hadis  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfa’at bagi orang lain”. Wassalam[] (Maman. A. Rahman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here