“Mbak, Alhamdulillah, saya sudah sampai di Gambir dengan selamat. Meski dengan perasaan deg-degan sepanjang perjalanan, tetapi ternyata saya bisa melakukannya sendiri. Terima kasih untuk dukungannya ya Mbak.”

Itulah barisan kata yang dikirimkan Afwah melalui SMS kepada penulis, lebih dari 3 tahun lalu. Ketika itu, Afwah baru saja usai mengikuti satu kegiatan Rahima yang diadakan di Wisma Hijau, Depok. Entah mengapa saat itu, tidak ada yang ‘mengawal’ Afwah. Padahal biasanya selalu ada salah satu alumni santri yang tinggal di Jakarta yang mendapat amanah itu. Jadi, sangat bisa dipahami jika Afwah deg-degan. Peristiwa itu, pengalaman pertamanya bepergian seorang diri setelah Afwah berumah tangga. Dan, terjadi di kota Jakarta, kota terbesar di Indonesia yang segala kemungkinan buruk bisa terjadi pada setiap orang.

Sejak menikah dengan pewaris tunggal pesantren Kempek, Cirebon, 15 tahun lalu, Afwah hidup dalam budaya pesantren tradisional yang lumayan ketat. Pembatasan pendidikan perempuan yang hanya diorientasikan pada wilayah domestik, pembatasan perempuan bepergian seorang diri tanpa disertai mahram, merupakan beberapa contoh tradisi di sana. Pesantren Kempek, didirikan oleh KH. Harun bin K. Abdul Jalil pada 1908. Hingga kini, Kempek memang dikenal tetap konsisten menjaga kekhasannya sebagai pesantren salaf, dengan model pengajaran Alquran terutama pelajaran ilmu alat (nahwu dan sharaf). Di pesantren salaf ini, santri belajar di dalam kelas dengan pelajaran yang telah tersusun sedemikian rupa dengan pentahapan-pentahapan berdasarkan urutan teks klasik yang sebagian besar adalah pelajaran agama. Ilmu umum hanya diberikan dalam porsi yang kecil sebagai penunjang dari tugas penyebaran ilmu agama nantinya.

Meskipun demikian, Afwah yang Aliyah-nya ditempuh di pesantren Krapyak Yogyakarta ini, berusaha menghilangkan pembatasan tersebut sedikit demi sedikit dengan cara memberikan pembelajaran langsung kepada santrinya. Afwah tetap konsisten pada komitmennya untuk menyelesaikan pendidikan umum hingga ke jenjang tinggi meski telah menikah. ”Sampai semester 5, saya kuliah di jurusan Tafsir Hadis IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setelah menikah, saya langsung melanjutkan kuliah semester 6 jurusan Bahasa Arab di IAIN Sunan Gunungjati kelas Cirebon. Setiap hari saya berangkat kuliah dari Kempek menuju Cirebon yang berjarak 25 km menggunakan kendaraan umum. Dalam keadaan hamil pun saya tetap kuliah. Respon kerabat bermacam-macam, ada yang salut, tetapi banyak juga yang mencibir,” terang putri pasangan KH. Fuad Amin dan Hj. Izzah Satory dari pesantren Babakan ini.

*****

Di Kempek, secara formal, Afwah, yang merupakan anak ketiga dari sembilan bersaudara ini, bertanggung jawab pada pesantren putri “Aisyah” yang santrinya berjumlah 450 orang. Untuk itu, Afwah harus selalu sedia menjadi ‘pengganti’ orang tua bagi mereka. Tidak hanya itu, ‘kenyamanan’ santri dalam mengikuti pelajaran juga menjadi perhatiannya. Dengan bantuan berbagai pihak terutama alumni, Afwah kemudian berhasil membangun madrasah dengan bangunan permanen sebanyak 8 kelas.

Kedudukan sebagai ibu Nyai utama dari 1.050 santri Kempek ini, membuat Afwah harus pula ‘membuka pintu’ rumahnya selama 24 jam untuk menerima kunjungan silaturahmi dari berbagai kalangan. Ada kalanya kunjungan tersebut dimaksudkan untuk meminta pendapat Afwah akan sebuah permasalahan. “Agar saya dapat memberikan pendapat yang tepat akan permasalahan riil yang dihadapi mereka, maka saya harus mempunyai bekal keilmuan umum dari berbagai sumber pengetahuan,” terang Ibu dari Nada (14), Eza (7) dan Ayundia (5) ini.

Maka, atas dukungan dari suami, KH. Muhammad Nawawi, Afwah kemudian mengikuti berbagai pelatihan, antara lain yang diadakan oleh Rahima. ”Perkenalan saya dengan Rahima, dimulai dari ketidaksengajaan sekitar 9 tahun lalu di Cirebon. Sejak perjumpaan itu ghirah saya seperti dibangunkan kembali setelah sempat terpendam selama beberapa waktu,” terang perempuan yang sedang menyelesaikan S2 nya di jurusan Psikologi Pendidikan IAIN Syech Nurjati, Cirebon ini.

Secara intensif Afwah kemudian mengikuti pendidikan pengkaderan ulama perempuan Rahima sejak 2005 hingga sekarang. Materi yang diterima pada 5 tadarus ditambah beberapa halaqah membuat Afwah menjadi lebih percaya diri. “Saat ini, saya sudah bisa memberikan alternatif solusi yang lebih membumi bagi berbagai masalah umat, seperti kesehatan reproduksi baik bagi santri maupun perempuan dewasa atau yang telah menikah, isu seputar khitan perempuan hingga isu trafiking. Ghirah seperti itulah yang juga saya tularkan kepada orang-orang terdekat saya,” jelas perempuan yang baru berusia 34 tahun ini.

*****

Di luar kegiatan pesantren, perempuan yang hafal Alquran 30 juz ini, aktif sebagai Ketua hafidzat se-Kabupaten Cirebon. “Organisasi ini didasari oleh keprihatinan yang tinggi karena makin berkurangnya penghafal Alquran. Atas dukungan dari beberapa Kyai Sepuh, kami lalu mengadakan silaturahmi rutin untuk merumuskan terobosan-terobosan kegiatan. Di tingkat kecamatan anggotanya ada 35 orang, silaturahmi dilakukan satu bulan sekali. Di tingkat kabupaten berjumlah 300 orang, silaturahmi setiap tiga bulan sekali,” terang Afwah. Tujuan utama dari silaturahmi tersebut adalah untuk syi’ar. Tetapi pada prakteknya, ada semaan Alquran dan taushiah yang biasanya dilakukan oleh Kyai Sepuh.

Kegelisahan Afwah untuk menjadikan ‘profesi’ hafidz agar makin dikenal luas tampaknya akan segera berakhir. Beberapa waktu yang lalu, Afwah diperkenalkan kepada salah satu penangung jawab koran Radar Cirebon oleh Ibu Oon Qonaah, Humas dari Pesantren Bobos. Dari hasil diskusi diperoleh kesepakatan, Radar Cirebon bersedia menyediakan satu rubrik untuk dijadikan ajang syi’ar bagi organisasi tahfidz tersebut. “Peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Untuk itu, ke depan, saya juga akan membekali anggota dengan materi yang telah saya peroleh dari Rahima, seperti ketrampilan menulis, kesetaraan dan kesehatan reproduksi sebagai dasar dari keberpihakan kepada perempuan dan kelompok yang dilemahkan,” tekad Afwah yang kerap diundang mengisi pengajian di berbagai majlis taklim ini.

*****

 

Tentu saja bukan lah hal yang mudah untuk mensosialisasikan tema-tema yang dianggap sekuler pada komunitas yang masih sangat kental dengan tradisi keislaman seperti yang selama ini digeluti Afwah. Tetapi, baginya, hal itu bukan pula mustahil untuk dilakukan. Beberapa strategi kemudian dikembangkan Afwah: mengkontekskan isu pada kerangka besar Islam yang rahmatan lil alamin, pendekatan personal kepada kyai-kyai sepuh yang berpikiran progresif, merupakan beberapa contoh strategi itu. Lalu, “Apakah melakukan perjalanan seorang diri tanpa disertai mahram adalah juga merupakan bagian dari strategi?” tanya penulis. “Tentu saja!,” seru Afwah. “Itu merupakan salah satu bentuk dari kemandirian perempuan. Dalam situasi aman seperti di Indonesia, negara lah yang bertindak sebagai mahram bagi seluruh warga negaranya,”lanjutnya dengan lugas. Sungguh, penulis merasa sangat beruntung mengenal Nyai Hj. Afwah Mumtazah, seorang perempuan cerdas yang selalu penuh tekad itu. Semoga, syi’ar melalui berbagai media yang dilakukannya memberi inspirasi bagi semua orang. Amin [] AD Eridani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here