Ketika saya menonton film Barat, saya kagum dengan mobilitas perempuan di sana. Misalnya, salah satu adegan film menunjukkan bagaimana seorang ibu muda menyelamatkan diri dan anaknya dari bencana dengan cara pergi dari rumah dengan menyetir sendiri mobilnya. Adegan mobilitas dan independensi perempuan tersebut kemudian saya saksikan sendiri saat saya tinggal dan mengajar di salah satu universitas di California, Amerika Serikat. Hampir semua orang dewasa, baik laki-laki ataupun perempuan, bisa menyetir mobil untuk keperluan mobilitas mereka mengingat begitu luasnya California dan relatif buruknya transportasi umum, terutama di kota kecil di South California.

Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang saya dengar tentang perempuan di Saudi Arabia. Di Saudi Arabia, gerak perempuan sangat dibatasi. Misalnya, pendidikan dilakukan secara terpisah antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dipandang sangat seksual, sehingga ketika keluar rumah ia harus menutup hampir seluruh anggota tubuhnya, harus disertai mahram, suami atau saudara laki-laki yang diposisikan sebagai pelindung perempuan tersebut karena jika tidak, maka perempuan akan rentan terhadap serangan seksual. Pembatasan ruang gerak perempuan di Saudi Arabia tidak berhenti hanya sampai disitu saja, mereka bahkan diharamkan untuk menyetir mobil. Konsekwensinya, mereka sangat bergantung kepada supir, yang belum tentu merupakan suami atau saudara laki-lakinya yang mungkin memerlukan waktu sendiri untuk bekerja. Banyak supir di Arab diimpor dari Indonesia and Philipina. Dengan nada bercanda, saya berkata kepada teman baruku, Hatoon El-Fassi, PhD, seorang Assistant Professor di King Saud University, Saudi Arabia: “Jadi pemerintahmu melarangmu untuk menyetir mobil supaya kamu bisa berduaan dengan orang asing yang bukan suami atau saudaramu? Apakah pemerintahmu menyadari konsekwensi dari kebijakan tersebut?”

Selain itu, saya pernah mendengar sebuah kisah tragis di Arab. Yaitu tentang kebakaran di sebuah asrama perempuan. Untuk menyelamatkan diri dari kobaran api, para pelajar perempuan itu segera berhamburan ke luar asrama dengan pakaian seadanya. Ketika mereka ke luar asrama, para polisi menghalau mereka untuk kembali ke dalam asrama dengan alasan bahwa mereka belum menutup kepala mereka dengan jilbab. Api pun melalap para perempuan muda tersebut, yang tidak diberi pilihan menyelamatkan diri jika mereka tidak menutup kepala. Padahal menyelamatkan nyawa merupakan salah satu tujuan utama syari`at Islam.

Ada lagi rumor yang tidak kalah mengerikannya tentang Arab, namun saat saya konfirmasikan dengan kenalan saya dari Arab dia menyangkalnya, entah karena ia bersikap defensif atau karena ia tidak pernah mengalaminya karena kebetulan ia adalah seorang perempuan Arab yang elit dan terpelajar. Yaitu tentang saran bahwa kalau kita naik taksi di Arab, hendaknya laki-laki mahram kita dulu yang masuk ke taksi dan kalau turun, perempuan dulu. Alasannya, kalau perempuan dulu yang masuk ke taksi atau terakhir keluar dari taksi, maka kemungkinan kita akan dibawa kabur sopir taksi dan bisa diperkosa.

Mengetahui keadaan di Arab, yang belum pernah saya kunjungi, saya merasa ngeri untuk pergi ke sana sendirian. Karena itulah ketika seorang kenalan menawarkan untuk bekerja di Riyadh, walau gajinya cukup besar, saya tidak langsung meresponnya. Namun ketika saya mendapat kesempatan mengajar di Amerika, dengan cepat saya mengambilnya. Mengapa? Karena saya merasa ada jaminan keamanan untuk diri saya, untuk bisa pergi kemana dan kapan saja sendiri tanpa takut diganggu atau diperkosa karena pergi tanpa mahram. Itu saya alami ketika saya menjadi peneliti tamu di Temple University, Philadelphia, selama 4 bulan di tahun 2000. Biasanya saya pulang dari kampus tengah malam, padahal tempat tinggalku lumayan jauh dari kampus, tiga kali ganti kereta. Rasa takut pasti ada, namun Alhamdulillah tidak terjadi sesuatupun.

Selain itu, ketika mengajar di Amerika, saya dipandang sebagai mahluk independen (independent being), yang bisa membawa dependants, yaitu pasangan dan anak-anak kita. Sponsor saya, Fulbright, bukan hanya mengizinkan saya membawa suami dan anak, mereka bahkan membiayai hidup saya sekeluarga, plus tiket untuk suami. Sebaliknya, saat saya diundang untuk melamar kerja di Islamic Development Bank, Riyadh, terlebih dahulu mereka memberitahukan bahwa sebagai perempuan, saya akan dipandang sebagai mahluk yang tidak mandiri (dependent being), sehingga mungkin tidak bisa membawa keluarga dan kalaupun mau membawa, maka harus atas biaya sendiri. Sementara para pekerja laki-laki boleh membawa keluarganya dan dibiayai. Sepertinya kebijakan ini didasarkan atas asumsi bahwa laki-laki adalah orang yang menafkahi dan melindungi perempuan, sementara perempuan adalah yang dinafkahi dan dilindungi, sekalipun kenyataannya tidak selalu demikian. Menurut saya, kebijakan ini benar-benar diskriminatif terhadap perempuan.

Untuk artikel ini, saya menyebar angket ke teman-teman saya di jaringan Musawah, sebuah gerakan global untuk menciptakan keluarga Muslim yang adil dan setara. Tidak semuanya merespon, termasuk Hatoon dari Arab yang amat saya harapkan. Di antara yang merespon adalah mereka yang berasal dari Kyrgistan, Philipina, Tanzania, Nigeria, Sudan dan Mali. Jawaban mereka bervariasi. Pada umumnya mereka mengatakan bahwa tidak ada peraturan tertulis atau formal yang mengharuskan perempuan ditemani oleh mahram saat bepergian, namun secara informal, ada ekspektasi budaya yang mengharapkan perempuan ditemani saat bepergian. Sebagian dari mereka setuju untuk mereinterpretasi konsep mahram dengan interpretasi yang saya tawarkan di angket. Yaitu bahwa masalah mahram pada konteks sekarang bisa digantikan dengan jaminan negara untuk melindungi warganya, baik laki-laki ataupun perempuan, agar bisa pergi ke mana dan kapan saja tanpa merasa takut diganggu ataupun diperkosa.

Namun ada juga di antara mereka yang menolak sama sekali konsep mahram. Dari Sudan misalnya merespon demikian: “Saya sangat menentang digunakannya mahram dalam konteks dan interpretasi apa pun. Kata mahram itu sendiri, yang berasal dari bahasa Arab haram, sangat negatif. Menurutku lebih baik kita menentang konsep tersebut ketimbang membenarkan atau memodifikasinya.” Berbagai upaya telah dilakukan oleh para perempuan yang menjadi bagian dari Musawah. Kebanyakan dari mereka memimpin proyek yang menentang hukum keluarga yang ada dan menyiapkan alternatif hukum keluarga yang berdasar pada kesetaraan dan rasa hormat kepada perempuan. Di Mali, yang dilakukan adalah memperkuat hukum tentang perkosaan dan kekerasan terhadap perempuan. Sedangkan Sahiba, sebuah organisasi Musawah di Tanzania, misalnya, melakukan upaya pemberdayaan perempuan dan generasi muda dalam hal kepemimpinan dengan mempromosikan determinasi diri (self-determination). Organisasi ini juga membangun kapasitas warga negara untuk bisa terlibat dalam isu kewarganegaraan dan kehidupan publik. Yaitu di antaranya dengan meneliti praktik-praktik yang tidak etis dan melanggar hak asasi perempuan dalam keluarga, termasuk praktik yang menolak akses perempuan untuk keluar rumah.

Konsep mahram mungkin pada awalnya dibuat dengan tujuan melindungi perempuan, yang dalam konteks awal Islam sangat rentan terhadap penganiayaan musuh Islam. Sehingga untuk melindungi mereka, perempuan dianjurkan untuk tinggal dalam rumah atau ditemani mahramnya ketika keluar rumah. Konteks sekarang sangatlah berbeda dengan konteks awal Islam pada masa Nabi. Proteksi atau jaminan keamanan bagi kaum perempuan, tidak lagi harus selalu diwujudkan dengan aturan yang sama seperti dulu, melainkan bisa dengan jaminan keamanan bagi semua orang, baik laki-laki ataupun perempuan dimana dan kapan saja. Implementasinya di antaranya bisa dengan pemberlakuan hukum seperti hukum anti kekerasan terhadap perempuan dan implementasi hukum tersebut secara nyata di lapangan. Yaitu dengan adanya aparat polisi yang dengan sigap menindak siapa saja yang melanggar aturan tersebut. Namun, selama umat Islam mereduksi perempuan hanya sebagai mahluk seksual dan tidak mandiri (sexual and dependent being), sepertinya idealitas tersebut sulit tercapai. Oleh karena itu, mari kita mencoba melihat perempuan sebagai manusia seutuhnya (full human being) yang independen. [] by Nina Nurmila PhD, Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here