+ posts

Oleh : Husein Muhammad

Ada ungkapan populer yang biasa dikutip orang manakala bicara soal organisasi dan pengorganisian komunitas. “Al Haqq bi la Nizham Yaghlibuhu al Bathil bi Nizham” (Kebenaran yang tidak diorganisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang diorganisasi).

Alquran telah memberi contoh yang baik mengenai hal tersebut melalui peristiwa dua perang, Badar dan Uhud. Perang Badar adalah perang antara pasukan muslim dan pasukan kafir Quraisy Makkah. Ini pertempuran antara dua kekuatan pasukan yang sungguh-sungguh tidak seimbang. Jumlah umat Islam ketika itu hanya 313 orang. Dengan peralatan perang seadanya mereka menghadapi lebih dari 1000 tentara dengan peralatan lengkap yang dipersiapkan. Mengejutkan. Perang berakhir dengan kemenangan gemilang pasukan muslim.

Refleksi para ahli sejarah mengatakan, kemenangan pasukan muslim tersebut disebabkan sejumlah faktor. Antara lain, semangat prajurit yang pantang menyerah; keunggulan strategi dan taktis; kekompakan; kedisplinan dan kesetiaan kepada pimpinan. Sementara kekalahan pasukan kafir Quraisy, lebih karena emosi mereka yang tak terkendali, meremehkan kekuatan lawan dan tidak disiplin.

Pada perang Uhud, umat Islam justru kalah meski berada dalam posisi yang cukup kuat. Awalnya pasukan muslim mampu memukul secara telak pasukan kafir Quraisy. Mereka lari kocar-kacir dengan meninggalkan sejumlah harta benda (Ghanimah). Pasukan muslim meninggalkan posisi strategisnya di atas bukit Uhud, demi memperebutkan ghanimah itu meski sudah diperingatkan untuk tetap berada di sana. Melihat keadaan itu, Quraisy dengan langkah cepat segera mengambil alih pos strategis itu dan menyerang balik pasukan muslim. Analisis para sejarawan menyebutkan kekalahan kaum muslimin dalam perang ini lebih disebabkan ketidakdisiplinan. Mereka mengabaikan aturan yang sudah disepakati bersama. Mereka juga tidak setia pada misinya.

Sejarah tersebut menunjukkan kalah atau gagal dan menang atau sukses tidak selalu ditentukan oleh jumlah besar atau kelengkapan alat, tetapi oleh sistem pengorganisasiannya. Semakin baik pengorganisasian, maka kesuksesan sangat mungkin diraih. Demikian sebaliknya.

Pengorganisasian Masyarakat

Pengorganisasian masyarakat pada intinya adalah sebuah aktifitas dan seni mengelola dan mengadvokasi masyarakat. Aktifitas ini diperlukan sebagai usaha membantu masyarakat agar mereka mampu menemukan dirinya sebagai kumpulan orang-orang yang merdeka, potensial, berdaulat dan dihargai. Dengan cara itu mereka diharapkan mampu merubah dirinya secara lebih baik dan meraih cita-citanya.

Mengapa masyarakat perlu diorganisir? Sebab, mereka adalah subyek-subyek yang diciptakan Tuhan dengan seluruh potensi dan makna kemanusiaannya yang paripurna (fi ahsani taqwim). Mereka adalah subyek yang berpikir, berkehendak dan bergerak. Potensi ini tidak boleh dibiarkan statis apalagi direnggut. Potensi ini selalu bisa dan harus dieksplorasi dan diupayakan berdaya untuk memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain. Jika masyarakat bisa diorganisir dengan baik, mereka bisa menjadi kekuatan luar bisa untuk sebuah transformasi yang diharapkan.

Menarik sekali pernyataan Michael H. Hart, ketika menjatuhkan pilihannya kepada Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Katanya, “Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah, Nabi Muhammad, satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi”.[i]

Hart adalah peneliti Barat dan non-muslim. Bagi umat Islam predikat Nabi Muhammad sebagai orang terbesar sepanjang sejarah umat manusia bukan hanya sekedar sebuah keyakinan yang buta, melainkan keyakinan yang dihasilkan oleh pengalaman empiris dan pemikiran rasional. Nabi saw. lahir dalam sebuah komunitas Arabia yang sedang terperangkap sistem sosial tiranik, sebuah sistem yang tidak menghargai kemanusiaan. Nabi saw. tampil ke pangggung sejarah dunia untuk memperbaiki sistem sosial tersebut. Nabi berhasil melakukan transformasi sosial dalam waktu yang teramat singkat; 23 tahun. Tak ada tokoh dengan prestasi segemilang Nabi saw.

Nabi Muhammad bergerak dengan membawa misi utama, membebaskan manusia dari sistem sosial tiranik dan diskriminatif, menuju kemanusiaan universal yang dijaga oleh keyakinan Tauhid. Bagi Nabi manusia adalah entitas yang bebas sejak awal diciptakan dan mereka setara di hadapan-Nya. Karenanya, manusia harus menjadi individu-individu yang otonom dan hanya boleh tunduk dan rendah kepada dan di hadapan Tuhan saja; tidak kepada manusia yang lain. Inilah yang disebut ideologi Tauhid. Harapannya untuk masa depan kemanusiaan yang panjang adalah tegaknya sistem sosial dan tata dunia baru yang berkeadilan, bermartabat, produktif dan bermoral luhur.

Kesuksesan Nabi tersebut tak mungkin terjadi tanpa upaya-upaya yang sistematis; terorganisasi yang baik; disamping bimbingan Tuhan. Bagaimana Nabi Muhammad saw. melakukan pengorganisasian masyarakatnya?

Baca Juga:

Tafsir Al-quran 2: Membangun Kesadaran dan Membaca Realitas

Tafsir Al-quran 3: Advokasi Hak-hak Perempuan

Tafsir Al-quran 4: Mendengar dan Merespon Suara Perempuan

Similar Posts:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here