“Dik.. aku mau keluar kota seminggu, di rumah hanya ada mamah, kamu nginep di rumah saja ya.. bantuin mamah”. 

Pesan di atas kerap aku tinggalkan pada adikku, setiap aku akan keluar kota, setahun terakhir. Ini terjadi sejak Pekerja Rumah Tangga (PRT) kami tidak bekerja lagi di rumah.

Dahulu tidak pernah terpikir akan lepas dari menggunakan jasa PRT, selain lebaran tiba. Meski saat itu banyak tenaga karena semua orang masih kumpul di rumah. Kini setelah semua pergi, waktu 24 jam terasa sekali tidak cukup untuk mengerjakan antara tugas kantor dan tugas rumah tangga yang tidak ada habisnya. Benar kata orang “ketika kau ditinggalkan baru merasa kehilangan”.

Setiap kali kita membicarakan PRT seperti membicarakan “pesuruh”. Kadang kita juga biasa memanggilnya dengan sebutan “pembantu” atau “pembokat”, karena statusnya yang hanya dianggap “membantu” pekerjaan rumah. Padahal tugas mereka bukan pekerjaan ringan seperti title yang disandangnya. Bahkan dapat dikatakan mereka adalah pekerja inti yang mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga.

PRT harus bangun lebih pagi dari kita. Apalagi ketika bulan Ramadhan, pekerjaan mereka semakin bertambah, bangun sekitar jam 02.00 dini hari, memasak dengan rasa kantuk yang masih menggelayut, dan membangunkan majikan yang tentu saja tidaklah mudah. Semuanya mereka lakukan dengan tujuan agar “majikan puas” dengan kerja mereka.

Beban kerja PRT yang banyak, masih sering membuat kita memarahi mereka akibat kesalahan kecil yang mereka buat. Misalnya, makanan yang kurang rasa karena mereka tidak dapat mencicipi selagi puasa, atau kerja mereka yang jadi lambat karena belum istirahat sejak mereka bangun dini hari tadi. Lalu saat lebara tiba, kita menahan mereka pulang karena kita tidak ingin repot sendiri di Hari Raya.

Memang, status atau cap “majikan dan pembantu” yang populer di tengah-tengah kita memberi strata tersendiri. Ada posisi tidak setara di sana. Sehingga kesewenangan kerap dialami PRT, seperti kekerasan dalam rumah tangga, gaji yang tidak dibayar, dan sebagainya. Padahal dalam hadis Nabi jelas sekali bahwa kita harus memperlakukan mereka layaknya saudara, yang pantas dikasihi dan dijaga hak-haknya.

Tampaknya, di beberapa keluarga sudah mulai memperlakukan PRT layaknya saudara. Bahkan tak jarang menjadikan mereka sebagai sahabat. Kita juga tidak memungkiri, mereka butuh kebijakan-kebijakan yang memihak mereka untuk melindungi dan menjaga hak-haknya. Tapi ini tidak mudah, karena saat keberpihakan itu diberikan pada mereka, muncullah nada-nada miring, “nanti mereka jadi songong”, atau “enak sekali jadi mereka kalau dapat libur”. Atau “kalau gaji mereka sesuai UMR lebih baik tidak usah pakai PRT”, dan sebagainya.

Zaman serba sulit saat ini. Suami-istri harus bekerja untuk memperoleh double income (pemasukan dari dua belah pihak), guna memenuhi kebutuhan keluarga. Karenanya, keberadaan PRT sangat dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang juga tidak kalah banyaknya. Sebab itu, kalau semua orang butuh kehidupan yang lebih baik, tentram dan nyaman, mengapa harus mengorbankan hak salah dari satu pihak? [ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here