Oleh: Nur Qomariyah

 

Aku tidak tahu bagaimana menceritakan apa yang terjadi padaku. Banyak sudah peristiwa yang terjadi dalam kehidupanku selama empat tahun terakhir. Dan aku merasakan Tuhan-lah yang menghendaki agar aku terus belajar akan keagungan-Nya.

Aku sendiri sebenarnya berasal dari keluarga muslim kebanyakan yang berusaha melaksanakan ajaran Islam sebagaimana diajarkan para ulama. Dalam berbagai ceramah agama, para muballigh senantiasa menyampaikan bahwa shalat dan puasa Ramadhan adalah dua bentuk ibadah yang menjadi sendi agama kami.

Proses pencarianku pun berlanjut. Ketika aku melanjutkan kuliah, sampailah aku pada suatu lingkungan baru yang mengantarkanku merubah caraku berpenampilan seperti saat ini. Bergamis panjang dan berjilbab lebar. Lalu aku pun melihat Islam bukan lagi sebatas ritual seperti shalat dan puasa melainkan seluruh sistem kehidupan. Persaudaraan kami sangat kuat, sehingga aku menikmati pencarianku dalam lingkungan baru ini dengan penuh gairah dan semangat.

Meski demikian, tetap saja aku merasakan kegundahan. Ada hal yang membuatku bertanya, mulai dari doktrin ketaatan terhadap pemimpin (termasuk pada suami jika seorang perempuan telah menikah), anjuran poligami, sampai permusuhan kepada umat agama lain. Aku merasa ajaran itu tak sesuai dengan spirit Islam dan merusak sendi-sendi dasar nilai kehidupan.

Di tengah pencarianku inilah aku bertemu dengan Rahima, organisasi non pemerintah yang berkonsentrasi pada penguatan hak-hak perempuan dalam perspektif Islam. Di sini aku menemukan suasana yang mengajak kita membiasakan hidup dengan pikiran positif; memperlakukan manusia dengan setara; serta tidak menempatkan prasangka negatif terhadap orang lain hanya karena mereka berbeda keyakinan denganku.  Di tempat ini, aku melihat realita kehidupan yang beragam. Mulai dari cara pandang, cara berpenampilan, bahkan bersikap. Misalnya saja, alasan teman-teman mengenakan jilbab yang sangat beragam. Seperti karena kebiasaan masa kecil; atau supaya tampak lebih dewasa; karena lingkungan tempat dibesarkannya semua berjilbab; bahkan ada pula yang berjilbab karena alasan kepraktisan semata. Jilbab lebarku pun bukanlah suatu masalah di sini.

Di sini aku menemukan makna agama dalam nuansa yang berbeda. Aku menemukan bahwa Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada sesama manusia, menghormati dan memperlakukan sesama dengan setara. Sebab, manusia bukanlah terdiri dari satu jenis kelamin, satu suku, satu agama, maupun satu organisasi. Namun justru kita  terdiri dari berbagai suku, budaya, organisasi serta agama dan jenis kelamin yang berbeda.

Dengan keragaman itulah aku telah belajar bagaimana menghargai perbedaan itu. Di tengah berbagai perbedaan, kami menyatukan langkah menuju keadilan, kesetaraan dan kemaslahatan umat. Baik laki-laki maupun perempuan. Tak kutemukan tanda-tanda diskriminasi jenis kelamin maupun latar belakang kesukuan, ataupun karena pandangan yang berbeda. Seolah ini menepis anggapan beberapa orang yang dulu pernah aku dengar bahwa lembaga tempatku belajar ini jauh dari semangat ajaran Islam. Justru di mataku, apa yang ada di sini tampak sesuai pesan Alquran yang mengajarkan semua manusia yang diciptakan oleh-Nya, laki-laki atau perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, tak lain adalah agar mereka saling mengenali dan memahami. Sebab sesungguhnya derajat yang paling tinggi di sisi Tuhan adalah takwa (al-Hujurat:13).

Dari perjalanan itu, aku dapat memetik pelajaran, bahwa tempat yang paling nyaman adalah tempat di mana kita saling menghargai, memahami, setara dan adil dalam memperlakukan sesama. Sebab realitas keragaman itu sesungguhnya fitrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Wallahu a’lam [ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here