Oleh: Husein Muhammad

Cobalah anda berdiri sejenak, lalu arahkan pandangan mata ke sekeliling, niscaya anda akan melihat obyek yang beranekaragam. Seluruh obyek yang anda lihat adalah kenyataan yang berwarna-warni, beragam dan beraneka. Lihatlah orang-orang yang anda temui di manapun, niscaya anda melihat wajah-wajah manusia, yang tidak sama. Boleh jadi anda melihat dua orang secara dari aspek fisik adalah sama (kembar), tetapi sesungguhnya ia adalah seperti sama, serupa atau mirip belaka.

Secara fisikal manusia juga berbeda-beda dari aspek warna kulitnya; hitam, kuning, putih, sawo matang, semu merah dan mungkin yang lainnya. Jauh lebih penting dari itu, lihatlah manusia dari aspek non fisik, maka anda juga akan menemukan mereka berbeda-beda dalam banyak aspek; hasrat, kehendak, bahasa, pikiran, keyakinan, dan sebagainya. Seluruh perbedaan ini dimiliki oleh semua manusia, tak peduli apa jenis kelaminnya. Seluruh perbedaan manusia di atas selanjutnya melahirkan ekspresi-ekspresi kebudayaan, politik, sosial, keagamaan dan sebagainya. 

Tidak seorangpun yang menyangkal realitas alam yang plural tersebut. Keberagaman alam semesta tentu saja bukanlah tercipta secara kebetulan belaka, tetapi memang direncanakan dan diciptakan Tuhan. Melalui pluralitas ini Tuhan ingin menyatakan Kemahabesaran, Kekuasaan dan Keesaan-Nya.

Tuhan menegaskan hal ini dalam Alquran:

“Di antara bukti Kemahabesaran dan Kemahabijaksanaan Tuhan adalah bahwa Dia menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan keberagaman bahasa dan warna kulit manusia. Realitas ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi orang-orang yang mengerti (li al ‘alimin/ulu al ilm)”. (QS. Al-Rum [30] 22)

Dalam bacaan mayoritas ahli Alquran dikatakan: “li al ‘alamin” bagi alam semesta. Tetapi mereka alam semesta yang dimaksud adalah ciptaan Tuhan yang mempunyai pikiran (dzawi al ‘uqul).

Alquran pada ayat di atas memang hanya menyebut dua katagori keberagaman manusia, yakni bahasa dan warna kulit. Tetapi ini sesungguhnya hanya merupakan simbol belaka dari eksistensi manusia. Bahasa adalah simbol dari aspek esoteris, sesuatu yang tersembunyi dalam diri manusia. Ia meliputi pikiran (logos), mental dan spiritual manusia. Sementara warna kulit merupakan simbol eksoterik atau aspek luar dan material manusia. Muhammad Thahir bin ‘Asyur, seorang ahli tafsir kontemporer dari Tunisia menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perbedaan bahasa adalah perbedaan berpikir dan keberagaman ekspresi dan aktualisasi manusia (ikhtilaf al tafkir wa tanwi’ al tasharruf).[1]

Di samping dua katagori keberagaman manusia tersebut, keragaman manusia juga dikemukakan dalam teks Alquran yang lain:

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya manusia yang paling unggul di sisi-Ku adalah yang paling bertakwa kepada Allah”. (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menyebutkan dengan jelas bahwa keragaman manusia juga meliputi jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, suku dan kebangsaan, ruang dan tempat tinggal manusia.

Untuk apa sebenarnya Tuhan menciptakan manusia (dan alam semesta) dalam keragaman-keragaman tersebut? Pada surah Al-Rum ayat 22 di atas dinyatakan dengan jelas bahwa keragaman tersebut sengaja diciptakan Tuhan agar menjadi tanda atau simbol  akan Kemahaesaan Tuhan dan ini seharusnya menjadi renungan orang-orang yang berpikir. Para ahli tafsir pada umumnya menyebutkan bahwa ia adalah tanda atau simbol atas Kebesaran, Kemahakuasaan dan Keesaan Tuhan. Muqatil bin Sulaiman, penafsir paling awal, dengan tegas menyatakan bahwa ia adalah tanda-tanda tentang Kemahaesaan Tuhan (fi Tauhidillah).

Tauhid atau Kemahaesaan Tuhan adalah prinsip utama keyakinan, kepercayaan dan keberagamaan dalam Islam. Kemahaesaan Tuhan adalah titik pusat yang kepadanya   seluruh siklus hidup dan peradaban manusia harus diarahkan. Kemahaesaan Tuhan merupakan prinsip di mana hanya Dialah satu-satunya Otoritas Yang Transenden dan Pemilik Seluruh Kebesaran dan Kebenaran Yang Absolut. Prinsip ini dengan begitu hendak menafikan seluruh otoritas kebesaran dan kebenaran manusia dan alam semesta. Oleh sebab itu, menurut Islam, manusia adalah ciptaan Tuhan yang setara dan sama dalam martabatnya sebagai hamba Tuhan. Klaim keunggulan jenis kelamin, bahasa, warna kulit, kebangsaan, ras, golongan, pikiran dan sebagainya adalah sebuah pernyataan yang menyesatkan sekaligus melawan Kemahaesaan Tuhan.

Sayyed Hosen Nasr, seorang penganut filsafat perenial mengemukakan pandangannya. Ia mengatakan: “Esensi Islam adalah Keesaan Tuhan, universalitas kemanusiaan, kebenaran dan kemutlakan untuk tunduk hanya kepada kehendak Tuhan pemenuhan segala tanggungjawab manusia dan penghormatan kepada seluruh makhluk hidup….”.[2]

Pada sisi lain keberagaman umat manusia dimaksudkan Tuhan sebagai cara Dia mendidik dan mengarahkan manusia untuk saling mengenal, mengerti dan memahami aspek-aspek yang ada dalam diri yang lain. Setiap orang dengan identitas apapun, laki-laki maupun perempuan, berkebangsaan Arab atau Indonesia, berkulit putih atau hitam, muslim atau bukan muslim adalah makhluk Tuhan yang paling terhormat dibanding ciptaan Tuhan yang lain, karena ia diberi anugerah oleh Tuhan berupa potensi-potensi yang diperlukan bagi hidup dan berkehidupan; akal-budi, mental dan spiritual. Seluruh potensi ini kemudian melahirkan refleksi-refleksi kebudayaan yang berbeda-beda. Keberbedaan ini disebabkan oleh ruang dan waktunya masing-masing.

Keberagaman juga dimaksudkan Tuhan untuk memberi jalan bagi manusia agar saling berpacu dan berkompetisi untuk meraih kebaikan-kebaikan bagi dirinya sendiri dan bagi manusia yang lain. Kebaikan adalah kata lain dari ketakwaan, dan ini memiliki arti yang sangat luas. Alquran menyebutkan:

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lobalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua akan kembali. Lalu dibertahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. (QS. Al-Maidah [5] 48)

 

Baca Juga: 

Tafsir 2: Keragaman Pikiran dalam Kajian Islam 

 

[1] Muhammad bin ‘Asyur, Op. Cit. Juz XXI, h. 34

[2] Sayyed Hossein Nasr, The Heart of Islam, Pesan-pesan Universal Islam untuk Kemanusiaan, Mizan, Bandung, cet. I, 2003, hl. xxi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here