Oleh: Faqihuddin Abdul Kodir

Sejatinya, keragaman adalah fitrah. Allah swt. telah menciptakan manusia dari suku bangsa, etnisitas, warna kulit dan jenis kelamin yang berbeda. Namun di mata sang Pencipta, mereka sama derajatnya, hanya “takwa” yang nanti menjadi satu-satunya faktor pembeda. Oleh karenanya, mengenal perbedaan dan saling mengapresiasi keragaman sangat penting dalam kehidupan. Termasuk dalam memahami perbedaan konteks maupun jalan pikiran seseorang ketika menafsirkan teks-teks keagamaan. Mencoba berempati secara timbal balik  pada pihak lain, mungkin dapat memunculkan kearifan-kearifan itu.

***

Teori ‘timbal balik’ sangat penting dalam membaca teks-teks relasi perempuan dan laki-laki dalam kitab-kitab fiqh, termasuk teks-teks hadis agar tidak melahirkan pandangan yang merendahkan salah satu jenis kelamin. Ketika ada teks yang menyatakan perempuan adalah penggoda (fitnah) bagi laki-laki, maka pada saat yang sama kita harus membaca secara ‘timbal balik’ bahwa laki-laki juga bisa saja jadi penggoda (fitnah) bagi perempuan. Karena itu, keduanya diminta untuk saling menjaga ‘kapasitas sebagai penggoda’ ini agar tak terjerumus dan menjerumuskan pada perbuatan dosa dan nista. (Baca: QS. An Nur: 30-31). Perempuan bisa tergoda oleh laki-laki, begitupun sebaliknya. Demikian juga ketika perempuan diminta menjadi salihah terhadap suaminya, indah dipandang, menyenangkan, menjaga diri dan memenuhi kebutuhan suami; laki-laki juga harus kita tegaskan dalam cara pandang keagamaan kita untuk menjadi salih terhadap istrinya, sebagaimana yang kita minta dari perempuan.

Tanpa pembacaan yang ‘timbal-balik’ ini, pemahaman kita terhadap teks-teks hadis seringkali mengantarkan pada pandangan dimana perempuan hanya ditempatkan sebagai obyek kepuasaan laki-laki semata. Perempuan akan direndahkan, misalnya hanya karena sedikit kesalahan dalam hal pemuasan terhadap laki-laki, bahkan dianggap pantas dilaknat para malaikat dan makhluk seisi bumi, serta diseret ke neraka. Sementara sebaliknya laki-laki tidak demikian untuk kasus yang sepadan. Di bawah ini, diilustrasikan bagaimana ketika teks-teks hadis dalam beberapa isu diinterpretasikan tanpa pembacaan ‘timbal balik’ sehingga melahirkan pandangan yang timpang, dan pembacaan ‘timbal balik’ yang menawarkan relasi antara perempuan dan laki-laki yang lebih adil.

Perempuan, Laki-laki dan Surga

Ketika Syekh Nawawi Banten (w. 1898) menurunkan suatu teks hadis “Bahwa kebanyakan penghuni surga adalah orang-orang fakir, dan kebanyakan penghuni neraka adalah perempuan”,[i] telah ditafsirkan bahwa yang memasukkan orang ke surga bukan sifat kefakirannya. Menjadi miskin juga tidak berarti lebih baik dari menjadi kaya.[ii] Orang-orang miskin masuk surga karena lebih memiliki banyak waktu beribadah, mudah bersyukur, tidak ada beban harta yang harus diperhitungkan terlebih dahulu dengan Allah swt. Berbeda dengan orang kaya, di mana waktu yang dimiliki lebih banyak untuk bekerja, mengumpulkan, menghitung-hitung dan menjaga harta yang milik mereka. Seseorang ketika mengumpulkan harta, bisa jadi ia telah berbohong kepada orang lain, menipu atau menindas hak-hak orang lain. Orang-orang miskin terhindar dari sifat-sifat seperti ini, karena itu ia akan jadi penghuni surga yang terbanyak.

Tetapi pandangan keagamaan yang dominan sekarang, justru tidak peduli pada penggalan pertama teks hadis tersebut. Orang-orang miskin tidak lagi dirayakan sebagai penghuni surga terbanyak. Orang-orang justru, dimotivasi untuk bekerja, mencari dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Semua aktivitas pengumpulan harta ini dianggap ibadah yang akan memperoleh pahala. Sebab dengan memiliki harta, seorang muslim akan bisa melakukan rukun-rukun Islam, seperti zakat, haji dan bisa puasa dengan tenang. Di samping bisa membagun sekolah, masjid dan prasarana umum yang dibutuhkan. Harta adalah kekuatan, dan muslim yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah swt. daripada muslim yang lemah (al-mu’minu al-qawiyy khairun wa ahabbu ilallahi min al-mu’min adh-dha’if).

Diskursus keagamaan kita sekarang, dalam berbagai kesempatan sering menampilkan sebuah teks hadis bahwa ‘kefakiran itu akan mendekatkan seseorang pada kekafiran’.[iii] Sebab itu, jangan sekali-kali berpikir atau membiarkan diri menjadi orang fakir. Bahkan, tersebar luas doa Nabi saw. “Ya Allah, aku berlindung dari kefakiran[iv] untuk memastikan dan mendorong agar umat Islam tidak menjadi orang-orang fakir. Penggalan pertama dari teks hadis yang di atas, bahwa penghuni surga itu kebanyakan orang-orang fakir, sirna dari perederaan. Jikapun masih disebutkan, akan diinterpretasikan ‘bukan kefakiran’ yang memasukkan seseorang ke dalam surga.

Ini berbeda dengan penggalan kedua dari teks hadis yang sama, yang disebut Syekh Nawawi dalam Kitab ‘Uqud al-Lujjain, mengenai perempuan sebagai penghuni terbanyak dari neraka. Dalam Musnad Imam Ahmad, ada riwayat bahwa penghuni terbanyak neraka itu orang-orang kaya dan perempuan.[v] Mengenai status orang kaya sudah banyak interpretasi seperti disebutkan di atas, tapi sedikit sekali interpretasi yang dilakukan mengenai status perempuan. Pandangan keagamaan yang dimunculkan lalu, adalah yang mengancam perempuan dengan statusnya sebagai penghuni terbanyak neraka. Kitab Syarh ‘Uqud al-Lujjain sendiri, tidak menafsirkan ‘status perempuan’ ini sebagaimana telah menafsirkan ‘status orang fakir’ di atas.

Kita percaya, Syekh Nawawi sendiri pasti berpandangan seseorang tidak masuk neraka hanya karena memiliki ‘jenis kelamin perempuan’, sebagaimana seseorang tidak masuk surga hanya karena memiliki sifat fakir tersebut. Tapi lebih karena amal perbuatan dan dosa-dosa yang dilakukan seorang perempuan. Sebagaimana disebutkan pada sebuah hadis: “Wahai para perempuan bersedekahlah kamu sekalian, karena saya melihat penghuni neraka itu banyak dari perempuan seperti kamu. Para perempuan bertanya: Kenapa wahai Rasulullah? Rasul menjawab: “Karena kamu banyak melaknat (berkata buruk dan menyakitkan) dan ingkar (tidak berterimakasih) pada pemberian suami”.[vi]

Jika cara pandang kita tidak ‘timbal-balik’, dalam mebaca teks hadis seperti ini, kita tetap akan melekatkan pada perempuan sifat-sifat buruk ini, dalam relasinya dengan laki-laki, tetapi tidak pada laki-laki. Perempuan, atau istri akan selalu dianggap biasa mengucapkan kata-kata yang menyakitkan dan tidak tahu terimakasih pada suami. Dan pada saat yang sama tidak memberikan perhatian pada laki-laki yang berperangai buruk pada istri, tidak tahu terimakasih, cemberut dan suka marah. Kitapun tidak mengeluarkan ancaman-ancaman neraka kepada laki-laki seperti ini sebagaimana ancaman pada perempuan. Kita jarang sekali menyaksikan ada tuntutan agama terhadap laki-laki agar berterimakasih terhadap sesuatu yang diperbuat istri di dalam rumah. Sementara istri selalu diperingatkan untuk tidak lengah dalam memberikan terimakasih pada setiap pemberian suami. Relasi yang seperti ini, akan timpang karena yang menjadi subyek hanya laki-laki. Padahal perempuan telah berbuat segala sesuatu, memuaskan dan memberi penghormatan pada laki-laki, serta mempersembahkan syukur terimakasih kepadanya.

Relasi yang ideal dalam Islam, antara perempuan dan laki-laki adalah yang didasarkan pada mu’asyarah bil ma’ruf. Di mana satu sama lain saling memperlakukan secara baik terhadap pasangannya. Dalam hal penghormatan dan ungkapan rasa terimakasih, sama-sama dibutuhkan kedua belah pihak agar tercipta relasi yang menentramkan dan membahagiakan. Istri yang lengah, begitupun suami yang lengah, dalam mengungkapkan rasa syukur atas jasa-jasa pasangannya, akan menumbuhkan kebimbangan di antara mereka, menyuburkan keraguan satu pada yang lain, dan lambat laun akan melahirkan rasa enggan dan bisa jadi kebencian yang menciptakan neraka dalam rumah tangga sebelum neraka sesungguhnya, kelak di akhirat.

Dengan cara baca ‘timbal-balik’ dalam diskursus inkar-neraka dan syukur-surga, suami dituntut memberi penghormatan terhadap istri dan mengungkapkan rasa syukur atas jasa sang istri, sama sebagaimana tuntutan kita pada istri untuk hormat dan mensyukuri jasa dan pemberian suami. Teks hadis mengenai ‘istri inkar masuk neraka’ harus dibaca dengan perspektif ‘timbal-balik’ yang didasarkan pada kaidah umum seperti dalam teks hadis “Seseorang yang tidak berterimakasih pada manusia, maka ia tidak berterimakasih pada Allah”.[vii] Suami yang tidak berterimakasih pada istri, berarti tidak berterimakasih pada Allah, dan perilaku suami yang tidak berterimakasih pada Allah, bisa membuatnya masuk neraka. Sama kasusnya dengan istri yang tidak berterimakasih pada suami, yang bisa membuatnya masuk neraka.

Sebaliknya mereka akan sama-sama menjadi penghuni surga, jika mereka satu sama lain membiasakan diri memberi penghormatan pada pasangannya, menyampaikan rasa terimakasih, memenuhi kebutuhannya, memuaskan tuntutannya yang dibenarkan dan mengupayakan kebahagiaan pasangannya. Istri pada suami, dan sebaliknya suami pada istri. Demikianlah prinsip yang diajarkan Alquran untuk memperlakuan satu sama lain dengan yang ma’ruf (al-mu’asyarah bil ma’ruf, QS. An-Nisa: 19), di mana suami menjadi pakaian yang menyenangkan istri, dan istri jadi pakaian yang menyenangkan suami (QS. Al-Baqarah: 187). Rumah tangga seperti ini akan menjadi surga kebahagian bagi kedua pasangan, sebelum surga yang sesungguhnya di akhirat kelak. Betapa indah teks hadis yang dikutip Syekh Nawawi dalam Kitab Syarh ‘Uqud al-Lujjain, bahwa “Jika suami memandang istrinya dengan penuh kasih sayang, begitupun jika istri memandang suaminya demikian, maka Allah akan memandang keduanya dengan penuh kasih sayang pula. Jika mereka bergenggaman tangan, maka akan berguguran dosa-dosa dari jemari mereka berdua”.[viii]

 

Baca Juga:

Dirasah Hadis 2: Perempuan dan Pengetahuan

 

[i]Lihat riwayat lengkap dalam Shahih Bukhari, no. Hadis 3241

[ii]Baca:‘Uqûd al-Lujjayn, hal. 14

[iii]Lihat, al-Jâmi’ al-Kabir li-as-Suyuthi, no. Hadis: 489, juz 1, hal. 1560

[iv]Riwayat an-Nasa’i, no.Hadis: 5475, juz 8, hal. 654

[v]Musnad Ahmad, no. Hadis: 6770, juz 14, hal. 299

[vi]Lihat Sahih Bukhari, no. Hadis: 304, juz 2, hal. 30

[vii]Riwayat Abu Dawud dan at-Turmudzi, liha; Jâmi’ al-Ushûl, no. Hadis: 1033

[viii]Hadis ke-79 dalam Uqûd al-Lujjain

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here