Oleh : AD. Kusumaningtyas*

 

Rungokna kandhaku ya, Ngger

Isih cilik tak kudang-kudang

Ora  liya pangarepanku

Dadia  wanita kang utama

 

(Dengarlah petuahku, Nak

Sewaktu masih kecil kau kutimang-timang

Tiada lain dan tiada bukan harapanku

Jadilah  perempuan yang utama)

Lagu itu senantiasa dinyanyikan oleh Ibu ketika menimang diriku menjelang tidur, di samping lagu lain seperti Shalawat, Nina Bobo, Gusti Allah Iku Siji, maupun Garuda Pancasila. Namun lagu itu menjadi teramat berkesan dan terus terngiang di telinga, terutama untuk menemukan makna siapa perempuan yang utama itu.

Selama ini, pencarian makna lelaki-perempuan yang ideal, termasuk relasi sosial keduanya di masyarakat, sangat ditentukan oleh apa yang ditanamkan berbagai media budaya. Dalam upacara adat pernikahan Jawa misalnya, tak jarang sang “Dukun Manten” lebih berkuasa dibandingkan kepala KUA. Ritual seperti injak telur oleh suami yang diikuti oleh istri yang harus membasuh kaki suami, upacara “kacar-kucur”, merupakan media yang masih kuat dalam melanggengkan ketidakadilan dalam relasi suami-istri. 

Sadar akan kuatnya pengaruh suatu kebudayan, Wali Songo memperkenalkan syahadatain (dua kalimat syahadat) melalui perayaan Maulid Nabi yang kemudian dikenal sebagai “Sekaten” di Solo dan Yogyakarta. Tidak hanya itu, para wali telah menciptakan tembang Macapat, yang terdiri dari 14 tembang yang merefleksikan perjalanan kehidupan. Sunan Bonang, salah satu dari kesembilan wali menciptakan alat musik gamelan untuk menyebarluaskan syiar Islam. Melalui tembang, hikayat, syair, maupun tontonan, nilai-nilai Islam dapat ditanamkan pada masyarakat. Beragam kesenian  ini adalah ekspresi dalamnya rasa dan kehalusan budi para wali.

Kebudayaan Islam sendiri telah berkembang sedemikian rupa. Dari berbagai surau dan mushalla di kampung-kampung seringkali sayup-sayup terdengar alunan “Shalawat” yang merupakan tembang-tembang pujian atas Nabi Muhammad yang akrab disebut dengan Kanjeng Nabi. Di berbagai perhelatan perkawinan maupun khitanan,  seringkali ditampilkan musik-musik gambus, hadrah, maupun qasidah. Lagu “Perdamaian” yang berisi kritik sosial teramat popular di tangan perempuan-perempuan yang tergabung dalam grup qasidah Nasida Ria dari Semarang, yang pada tahun 1980-an seringkali mengisi program Aneka Ria Safari di layar kaca TVRI. Bahkan Armand Maulana dari grup band GIGI, tergerak untuk mengubah aransemennya dengan gaya lagu rock anak muda. Kini beragam grup band anak muda seperti Ungu dan Republik juga mulai menggubah lagu bernuansa religi.

Kini, seiring dengan maraknya aliran-aliran keagamaan Islam yang berkembang semenjak reformasi, kehadiran grup-grup qasidah ini lambat laun mulai tergeser oleh grup-grup “nasyid” yang lagu-lagunya dinyanyikan dalam bentuk acapella oleh para vokalis laki-laki. Karakter Islam yang maskulin, dikotomi antara Barat dan Islam, kerinduan akan syahid, dan peperangan atas nama pembelaan terhadap Islam sangat mewarnai syair-syair nasyid yang dinyanyikan.

Berkaca dari pentingnya makna media kebudayaan, Rahima memandang shalawat sebagai media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kesetaraan dan keadilan. Maka pada tahun 2001, sejumlah peserta lokalatih “Islam dan Isu-isu Kesetaraan”  Rahima di Jember menggagas sebuah gubahan tembang shalawat yang kini populer dengan sebutan Shalawat Kesetaraan. Shalawat ini menjadi semakin menarik ketika dikawinkan dengan berbagai nuansa kebudayaan lokal seperti musik gamelan, diterjemahkan ke dalam bahasa daerah seperti Sunda, Jawa, maupun Madura, maupun ditampilkan dalam festival seni rakyat.

Zaman boleh terus berubah, seni budaya boleh berkembang. Yang terpenting, kita tetap harus terus berkarya untuk kemanusiaan untuk mentransformasikan nilai-nilai kemanusiaan seperti kesetaraan dan keadilan di antara lelaki dan perempuan. Sebab, mereka semuanya adalah sesama Khalifah dan hamba Tuhan.

*) Penulis adalah Koordinator Dokumentasi dan Informasi Rahima

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here