Manusia adalah eksistensi yang diciptakan atau dibentuk oleh kebudayaan. Kebudayaan biasanya didefinisikan sebagai kompleksitas ekspresi akal-budi (intelektual/cipta), kerinduan batin (spiritualitas/rasa) dan kreatifitas  (karsa) manusia dalam kehidupan. Kebudayaan dengan begitu adalah aktualisasi dari seluruh unsur yang terdapat dalam diri manusia, berjenis kelamin apa saja, dan pengalamannya dalam mengarungi kehidupan. Ekspresi, kerinduan, dan kreatifitas tersebut pada gilirannya melahirkan nilai-nilai, norma-norma, ide-ide, gagasan-gagasan, adat-istiadat atau tradisi-tradisi, karya-karya keindahan, hasrat-hasrat dan lain-lain. Secara naluriah manusia menginginkan pengalaman kebudayaannya diterima dan diikuti orang lain. Sosialisasi kebudayaan lalu dilakukan melalui beragam media dan cara, sesuai dengan konteksnya masing-masing. Ada banyak cara yang digunakan untuk kepentingan tersebut. Misalnya melalui tutur-cerita, dongeng (termasuk mitologi), berkesenian, drama, karya sastra, pengajian dan lain-lain. Kebudayaan berkembang dalam konteks-konteks yang berubah dan berganti yang tak pernah habis. Tetapi pada dasarnya manusia adalah makhluk yang terus berproses untuk menjadi semakin baik dan menuju kepada kesempurnaan. Dan manusia sesungguhnya adalah makhluk yang merindukan keindahan.

Agama dan Budaya

Agama hadir untuk manusia dan bukan untuk Tuhan. Dia tidak membutuhkan apa-apa dan siapa-siapa. “Wa Allah Ghaniy ‘an al ‘Alamin”. Sebelum agama diturunkan Tuhan kepada mereka melalui para utusan-Nya, manusia telah hadir dalam ruang dan waktu kebudayaan. Dengan kata lain, sebelum agama diturunkan dan dihadirkan, manusia sesungguhnya telah berkebudayaan. Kehadiran agama dalam ruang dan waktu kebudayaan manusia dimaksudkan untuk mengarahkan dan memberikan petunjuk apa yang sebaiknya dilakukan, dipikirkan dan diekspresikan oleh manusia baik untuk kepentingan personalnya maupun dalam kehidupan bersamanya. Untuk hal yang sama agama juga memberikan peringatan apa yang seharusnya tidak dilakukan mereka. Alquran menyatakan dirinya sebagai : “hudan li al Naas wa Bayyinat min al Huda wa al Furqan”. Agama menawarkan petunjuk jalan yang bisa dipilih manusia berikut  konsekuensi-konsekuensi yang harus diterima masing-masing. Agama, untuk hal ini, selalu membuat dua macam petunjuk normatif : norma universal dan norma kontekstual.

Norma universal adalah nilai-nilai yang berlaku mondial dan melampaui ruang dan waktu. Nilai-nilai ini sesungguhnya merupakan kehendak nurani semua orang di manapun dan kapan saja. Ia adalah norma-norma asasi dan melekat pada setiap orang. Beberapa diantaranya adalah kesetaraan, kebebasan, keadilan, persaudaraan, kehormatan (martabat) dan cinta. Norma-norma ini merupakan dasar yang dituntut oleh semua kebudayaan manusia. Karena itu ia menjadi milik semua orang, semua jenis kelamin, semua bangsa dan semua keyakinan. Sementara norma kontekstual adalah pandangan-pandangan, tradisi-tradisi dan aturan-aturan tertentu yang dibuat untuk memenuhi kehendak kebudayaan dan kehendak sosial tertentu. Keunggulan intelektual laki-laki atas perempuan, sebagai contoh, adalah norma kontekstual. Ia bukan norma yang melekat pada setiap laki-laki atas setiap perempuan. Oleh karena demikian, norma-norma ini tidak selalu sama untuk semua kebudayaan manusia. Ia juga tidak selalu ajeg, tetapi mengalami proses yang terus menerus untuk menjadi sempurna. Inilah yang saya kira disebut dengan norma-norma budaya atau kebudayaan.

Norma-norma kebudayaan tersebut pada gilirannya menjadi ajang interpretasi para sarjana muslim dari zaman ke zaman dan satu tempat ke tempat yang lain dalam perspektif yang berbeda-beda. Interpretasi-interpretasi mereka berbeda-beda, karena ruang dan zaman mereka yang berbeda. Faruq Abu Zaid, dalam “Al Syari’ah al Islamiyyah Baina al Muhafizhin wa al Mujaddidin” mengatakan bahwa keberagaman interpretasi tersebut merupakan refleksi, apresiasi dan ekspresi kebudayaan masing-masing.   

 

Media-Media Kebudayaan

Adalah menarik, bahwa Alquran menuturkan pesan-pesannya melalui media bahasa sastra, meskipun Alquran sendiri lebih dari sebuah karya sastra. Alquran adalah Mu’jizat abadi. Sebuah karya yang tidak bisa dilawan oleh siapapun. Di dalamnya sarat dengan bahasa majaz (metafora), kinayah, tamtsil (perumpamaan) dan lain-lain. Misalnya : “Hunna Libasun Lakum wa antum Libasun Lahunn” (Istri-istrimu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka). Atau “fa al Aana Basyiruhunna” (maka mubasyarahlah kamu dengan isterimu”. “Al Mubasyarah” secara literal berarti “bersentuhan kulit”. Tetapi maksudnya adalah “hubungan intim”. Ungkapan-ungkapan sensualitas dituturkan dengan bahasa yang sopan. Betapa indahnya bahasa yang digunakan kitab suci ini. Kita sama sekali tidak menemukan di dalamnya kata-kata vulgar yang jorok atau kasar. Penuturan melalui media bahasa sastra seperti itu sejalan dengan budaya Arab ketika itu. Dan Alquran selalu menciptakan sastra yang kreatif dan inovatif sekaligus menyentuh relung-relung nurani dan akal pikiran. Sastra adalah media di mana manusia mengungkapkan cita-cita, ekspektasi, impian-impian, bahkan keluh kesah dan kerinduannya melalui simbol-simbol, isyarat-isyarat dan instrumen-instrumen budaya lainnya.  

Alquran juga menuturkan banyak sekali kisah-kisah para Nabi dan kebudayaan umat manusia masa lalu. Kisah-kisah ini tidak semata-mata dimaksudkan sebagai cerita dan ungkapan sejarah perjalanan manusia, melainkan mengandung tujuan-tujuan, pesan-pesan dan norma-norma kemanusiaan universal. Dalam beberapa ayat tentang kisah-kisah ini, Tuhan  mengakhirinya dengan pernyataan bahwa kisah-kisah ini merupakan bahan pemikiran dan pelajaran bagi manusia: “Inna fi Dzalika La’ibrah li Uli al Albab”. Inilah sesungguhnya yang paling utama dari seluruh kisah-kisah dalam Alquran. Cara demikian dipandang paling efektif untuk mempengaruhi dan menyentuh kesadaran audiens akan pesan-pesan yang dikandungnya. Penggunaan media seperi ini bukan hanya menarik bagi masyarakat pada masa Nabi, tetapi juga dalam semua kebudayaan manusia. Kita misalnya membaca karya sastra filsafat “Hay bin Yaqazhan” yang ditulis oleh Ibnu Thufail, sastra tragedi : “Oedipus” atau “Antigon” oleh Sophokles, epik kepahlawanan dari Persia, seperti “Shah Nameh”, oleh Firdausi, dan lain-lain. Terdapat ribuan karya sastra kemanusiaan yang telah ditulis orang dari berbagai belahan dunia.

Dalam perjalanannya, para sarjana muslim mengembangkan metode sosialisasi nilai-nilai kemanusiaan Alquran dengan media yang lain, tidak hanya melalui media sastra-naratif, melainkan juga dalam bentuk sastra puisi yang disusun dengan ritme-ritme tertentu yang beragam dan bisa dinyanyikan dengan aneka langgam pula. Kita mengenal dalam tradisi kaum muslimin Indonesia, misalnya, sejarah hidup Nabi Muhammad dinyanyikan kaum muslimin dengan berbagai langgam. Al Barzanji misalnya atau al Bushairi melalui Qasidah Burdahnya. W.S.Rendra, konon, menjadi muslim gara-gara mendengar karya puisi al Bushairi yang indah itu. Media seni menyanyi seperti ini seringkali memberikan efek mendalam pada audiennya.

Media budaya dengan beragam jenisnya, adalah cara paling manis, paling indah dan paling manusiawi dalam upaya mengembangkan kompleksitas eksistensi manusia. Keberadaannya menyentuh ruang-ruang paling dalam dan menggetarkan nalar kognitif manusia.

 

Baca Juga:

Tafsir Alquran 2: Perempuan dalam Media budaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here