Beranda Ulama Perempuan Profil Hj. Nonoh Hasanah; Perintis pesantren Putri di Jawa Barat

Hj. Nonoh Hasanah; Perintis pesantren Putri di Jawa Barat[*]

0
2066

Oleh: Wiwi Siti Sajaroh

 

            Jika Umat Islam menginginkan kembali pada kejayaan mereka di masa lalu, maka wajib bagi mereka berusaha untuk membangun, menyadarkan, dan mendidik kaum perempuannya ke puncak peradaban yang telah dicapai pada permulaan Islam”

Kutipan kata-kata hikmah di atas adalah salah satu sumber motivasi dalam episode perjalanan K.Hj. Nonoh Hasanah dalam meletakkan kerangka landasan bagi berdirinya pondok pesantren kaum perempuan. Kutipan ini menggambarkan sebuah komitmen besar sekaligus sikap keberpihakan, bahwa pilar utama untuk menciptakan   kembali kejayaan Islam bak masa lalu adalah dengan mendidik dan memberikan pencerahan kepada kaum perempuan. Hal ini menunjukkan adanya upaya  jihadi seorang ulama terhadap kaumnya. Kh Nonoh telah memperlihatkan secara sungguh-sungguh melalui pembangunan  dan pengembangan pendidikan di pondok pesantren yang khusus diperuntukkan bagi kaum perempuan.

K.Hj. Nonoh Hasanah adalah figur perempuan sederhana, cerdas dan pantang menyerah. Hal ini tercermin dari pengalamannya merintis pesantren putri yang dilaluinya bersama suaminya, K.H. Ahmad Dimyati, selama kurang lebih 27 tahun. Untuk  mewujudkan cita cita luhur dan keinginannya  mendirikan lembaga pendidikan yang diperuntukkan khusus bagi kaum perempuan, Hj. Nonoh rela mengalami jatuh bangun baik hidup, harta, jiwa, maupun raganya.

Menuntut ilmu

Hj. Nonoh Hasanah lahir pada 1935. Ia anak kedua dari lima bersaudara, pasangan KH. M. Syamsuddin dan Hj. Qomariyah. Keluarga ini tinggal di kampung Nagrog, Desa Jaya Ratu, kecamatan Leuwi Sari Singaparna Tasikmalaya, Jawa Barat. Kampung Nagrog adalah sebuah kampung kecil di kaki gunung Galunggung. Tradisi keagamaan di sini, sarat dengan nilai-nilai agama, layaknya kebanyakan kampung di wilayah Tasikmalaya (disebut juga sebagai kota santri, karena hampir di setiap pelosok kampung di kota ini terdapat pesantren, baik kecil dengan jumlah santri puluhan sampai ratusan orang, maupun besar dengan jumlah ribuan santri).

Keluarga Nonoh adalah keluarga yang taat menjalankan agama dan mempunyai perhatian yang besar terhadap pendidikan agama. Ayahnya mendorong seluruh putra-putrinya untuk menuntut ilmu. Karena itu Nonoh sejak kecil sudah mendapat pelajaran Alquran dan dasar-dasar agama dari keluarganya.

Masa kecil Nonoh dilalui dengan kesibukan mencari ilmu. Hampir-hampir ia tidak mempunyai kesempatan untuk bermain. Pukul 07:00 – 12:00, ia menuntut ilmu di Sekolah Rakyat (SR). Setelah dzuhur sampai ashar, ia pergi ke Madrasah Diniyah. Setelah ashar, bersama adik perempuannya ia ngaji ngalong ke pesantren yang didirikan oleh kakak kandungnya. Nonoh termasuk anak yang cerdas, bahkan terbilang yang paling cerdas dibanding dengan teman-teman satu kelasnya. Kecerdasannya ini memotivasi kedua orang tuanya untuk memberikan perhatian khusus dengan cara memberikan pendidikan yang cukup.

Pendidikan formal (SR) hanya diselesaikan Nonoh sampai kelas empat. Setelah itu, — ketika itu masa agresi militer Belanda II — Ia tetap menuntut ilmu dengan mengikuti pengajian di tempat-tempat yang letaknya tidak terlalu jauh, misalnya belajar kepada KH.Khaerudin di Cisaro.Tidak lama setelah itu, ia bersama adik lelakinya, nyantri ke pesantren Cipasung yang dipimpin oleh KH. Ruhiyat. Di sinilah untuk pertama kalinya ia mendalami berbagai ilmu agama secara serius, seperti kitab-kitab fiqh, ushul fiqh, tauhid, tata bahasa Arab, mantiq, tafsir, hadis dan kitab-kitab kuning lainnya.

Kecerdasan Nonoh semakin terasah di pesantren Cipasung ini. Ia menjadi salah satu santri yang paling cerdas diantara santri laki-laki maupun perempuan. Salah satu bukti kecerdasannya adalah ia berhasil memenangkan sebuah perlombaan membaca kitab (musbaqah tilawah kutub) dan mubalighan. Gurunya, KH. Ruhiyat, lalu mengangkat Nonoh menjadi asisten. Bersama KH. Ilyas Ruhiyat, putra KH. Ruhiyat, akhirnya Nonoh menjadi staf pengajar di pesantren Cipasung.

Masa belajar Nonoh di pesantren Cipasung ditempuh dalam masa sembilan tahun, sampai akhirnya menikah dan pindah ke Cintapada.    Pernikahan Nonoh dengan Ahmad Dimyati tidak diketahui sebelumnya. Bahkan ia sendiri tidak hadir dalam akad nikahnya itu. Seperti banyak berlaku di dalam tradisi pesantren salaf, kecuali atas permohonan kedua belah pihak calon mempelai laki-laki dan perempuan, pernikahan seorang santri sering melibatkan kiainya.

Kendati sudah menjadi istri Ahmad Dimyati, Nonoh masih tetap melanjutkan belajar di pesantren Cipasung, sementara suaminya nyantri di Banten selama satu tahun. Pada tahun 1959 setelah diadakan sukuran pernikahan, dan atas restu gurunya, Nonoh pindah ke Cintapada, 4 km dari kota Tasikmalaya. 

Pesantren Cintapada

Nonoh Hasanah bersama suaminya, Ahmad Dimyati, mendirikan pesantren putri Cintapada pada 23 Desember 1959. Pesantren Cintapada sebetulnya telah didirikan pada 1918 oleh almarhum KH. Dimyati (mertua Nonoh). Tahun 1947, pesantren ini mengalami masa fatrah’ karena kyai dan santrinya harus mengungsi akibat pengaruh revolusi fisik agresi Belanda II.

Tahun 1955, KH. Yusuf Fiqih (cucu KH. Dimyati), menghidupkan kembali pesantren Cintapada, dengan menerima santri laki-laki dan perempuan. Namun setelah Ahmad Dimyati dan Nonoh Hasanah, pewaris pesantren Cintapada datang, kebijakan dirubah dengan hanya menerima santri perempuan. Pesantren kemudian diberi nama Pesantren Putri al Hasanah Cintapada.  Adapun, K.H Yusuf dengan para santrinya yang sudah ada, pindah ke sebelah selatan menempati lokasi baru.

 

Sebuah Contoh Ikhtiar

Lokasi pesantren al Hasanah jauh dari jalan raya. Jalan menuju lokasi hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, naik becak atau ojek. Kondisi ini menyebabkan sarana umum seperti penerangan listrik sulit untuk masuk. Tahun 1980, pesantren dan warga Cintapada mengajukan pemasangan instalasi listrik kepada PLN. Akibat medan yang sulit, PLN mensyaratkan agar segala sarana instalasi dan perlengkapan listriknya harus dibeli secara mandiri oleh warga. Biaya yang harus dibayarkan sebesar Rp. 3.500.000,-(bisa diangsur dalam jangka waktu 1 tahun).

K.Hj. Nonoh Hasanah menemukan jalan keluar untuk membayar biaya pemasangan listrik tersebut, yaitu dengan menyusun sebuah buku riwayat Ashabul Kahfi (terjemahan tafsir Al-Khazin. Juz III hal. 186 – 191). Ikhtiar ini juga mendapat persetujuan dari 2 kyai besar, K.H. Ilyas Ruhiyat, pimpinan pesantren Cipasung, dan KH. Khaer Affandi, pimpinan pondok pesantren Nurul Huda Manojaya. Kitab itu kemudian dicetak dan disebarluaskan ke pelosok Pasundan. Hasilnya sangat menggembirakan. Dapat menutup biaya pemasangan listrik yang sangat dibutuhkan itu.

Setelah sukses menulis kisah Ashabul Kahfi, K. Hj. Nonoh Hasanah kemudian menulis sejarah ‘ Am alfil, yang juga mendapat sambutan yang baik.

Pembagian kerja

Dalam proses belajar mengajar, K. Hj. Nonoh Hasanah berbagi tugas dengan suaminya. K. Hj. Nonoh bertugas  untuk mengajarkan agama yang bersumber dari kitab kuning, baik dalam bidang tauhid, fiqh, tasawuf, nahwu, sharaf, tafsir, hadist dll. Sementara suaminya khusus mengajarkan bacaan Alquran dan seluk beluknya.

Setelah santri bertambah banyak, khusus untuk kitab-kitab kecil, Hj. Nonoh dibantu oleh beberapa asisten (adik dan santri senior). Untuk kitab – kitab besar seperti al Fiyah, Jam’ul Jawami’, Janah, Tafsir, tetap diajarkan sendiri oleh beliau.

Di sela-sela kesibukannya mengajar, mengisi pengajian bulanan, memenuhi undangan ceramah di berbagai tempat dan kesempatan, beliau juga aktif sebagai pengurus cabang Muslimat NU.

Santri Alumninya

Ketika K. Hj. Nonoh Hasanah wafat pada 1986, santri yang ada di pesantren sekitar 450 orang. Namun alumni santrinya sekitar 8000 orang. Sebagian besar santri (40 %) berasal dari Tasikmalaya dan Tangerang. Selebihnya, dari Karawang, Purwakarta, Bandung, Sukabumi, Ciamis, Banten. Bahkan ada pula santri yang berasal dari luar Jawa Barat, yakni, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Medan, dan Kalimantan. Tercatat ada 42 pesantren yang tersebar di Jawa Barat, yang didirikan oleh para alumninya, baik yang khusus putri (sebagaimana pesantren gurunya ) maupun pesantren putra – putri. Pesantren – pesantren tersebut ada yang menggunakan nama al–Hasanah, seperti pesantren gurunya, ada juga yang menggunakan nama lain.

 

[*] Tulisan ini disarikan dari buku dengan judul Ulama Perempuan Indonesia, tahun 2002. Adapun hasil wawancara ini dilakukan pada bulan Juli 1999, sebagai pelengkap data untuk buku tersebut. Pihak keluarga Nonoh Hasanah yang diwawancarai antara lain KH. Ahmad Dimyati ( suami ), H. Maman ( adik ), H. Imoh (adik, sama-sama nyantri di Cipasung), H. Oni Saroni ( Kemenakan, penerus Pesantren Cintapada sebelum Nonoh ). Pihak guru dari Cipasung antara lain : KH. Ilyas Ruhiat ( guru Nonoh, pengasuh Cipasung sekarang ), Mih Sepuh ( Istri KH. Ruhiat, pengasuh dan guru Nonoh ), Hj. Maimunah ( Kakak angkatan ), KH. Dudung ( adik angkatan ), dan Hj. Ai ( Putri Hj. Maimunah ). Selain wawancara, data diperoleh dari  tulisan singkat yang berisi biografi K.Hj. Nonoh Hasanah.  Riwayat Hidup  itu ditulis pada bulan November 1987, bertepatan dengan peringatan satu tahun wafatnya Hj. Nonoh Hasanah. Riwayat singkat ini selalu dibacakan setiap kali acara haul, sampai dengan haul yang ke – 13, yang dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 1999, sekaligus peringatan maulid Nabi  Muhammad saw.

 

 

Similar Posts:

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here