Selama ini, jika berbicara soal seks dan seksualitas, seringkali kita terjebak pada pemahaman bahwa dua istilah tersebut memiliki arti yang sama. Padahal sejatinya kedua istilah tersebut memiliki pengertian tersendiri. Katakanlah seks misalnya, ia memiliki arti jenis kelamin atau organ kelamin. Sedangkan seksualitas sendiri memiliki arti sebagai ekspresi hasrat erotik yang dibentuk secara social (Lihat Deborah Caneron dan Don Kulick dalam Language and Sexsuality).

Berangkat dari kenyataan tersebut, sebagai upaya memberikan pemahaman gambaran komprehensip dan solutif mengenai masalah seksualitas ini, maka Rahima telah mengadakan Halaqah tentang Seksualitas ditinjau dari perspektif perempuan, medis, sosiologis dan agama. Acara yang digelar pada 12-13 September di Wisma PKBI Jakarta Selatan ini menghadirkan empat pembicara yang kompeten pada bidangnya masing-masing yakni Gadis Arivia (Direktur Yayasan Jurnal Perempuan), Meiwita Budiharsana dan Prof. Dr. Djayadilaga (ahli ginekologi), Irwan Hidayana (pakar gender dan seksualitas dari UI) dan Hamim Ilyas (Dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Gadis Arivia membuka halaqah ini dengan sebuah pemaparan menarik tentang Skrip Seksual (Sexual Scripts) yakni norma-norma sosial yang ditanamakan kepada perempuan sejak dini, sehingga membentuk kerangka kerja seksualitas yang bersifat rigid. Padahal sesungguhnya antara budaya yang berbeda Skrip Seksual tentunya memiliki pandangan berbeda pula. Ini jelas ditentukan oleh pemahaman internal budaya tersebut dalam memahami gender. Bahayanya, Skrip Seksual yang diciptakan ini membuat perempuan tidak bisa mengekspresikan seksualitasnya dan juga tidak berani untuk menjadi subjek yang berusaha memahami erotisme kehidupannya.

Pada sesi malam, giliran Meiwita Budiharsana dan Prof. Dr. Djayadilaga membahas seksualitas dari perspektif medis. Hadirnya kedua orang nara sumber ini, dimanfaatkan oleh para peserta untuk berdiskusi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi. Antusiasme para peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan sekitar masalah-masalah ini, diantaranya apakah yang dimaksud dengan Baby Blues ? Apakah incest dapat menyebabkan bayi yang lahir dalam keadaan cacat?.

Sementara di hari kedua, Irwan Hidayana memaparkan pemahaman tentang seksualitas dari perspektif sosiologis. Dengan gayanya yang khas, Irwan menjelaskan secara rinci mengenai apa itu seksualitas serta menjelaskan pendekatan konstruksionisme dalam melihat seksualitas. Pendekatan ini memperlihatkan seksualitas bukan sebagai fenomena medis-biologis, akan tetapi sebagai hasil rajutan faktor-faktor sosial, budaya dan sejarah.

Dalam sesi penutup Hamim Ilyas memberi penjelasan mengenai perspektif seksualitas dilihat dari sisi agama. Menurut Hamim, Islam justru melihat dorongan seksual sebagai suatu hal yang bersifat alami. Kendati demikian, Islam tidak membiarkan pemenuhan seksual ini berlangsung tanpa aturan. Konsekwensinya Islam menetapkan perkawinan, secara tegas melarang praktek pelacuran, dan perselingkuhan (4:24-25). Selain itu Islam juga mengajarkan bahwa perkawinan yang ideal adalah perkawinan yang menjaga kehormatan diri (suami, istri, dan anak-anak) dan memberikan ketentraman berdasarkan cinta dan kasih sayang.

Acara yang difasilitasi oleh Masruchah (Sekjen KPI dan salah seorang pengurus Rahima) itu berhasil memetakan 12 persoalan yang terkait dengan masalah seksualitas di tiap wilayah sesuai dengan asal peserta. Masalah-masalah tersebut diantaranya khitan perempuan, incest, pemerkosaan, perdagangan perempuan, PSK, ijbar (perjodohan paksa), pernikahan sirri, poligami, pernikahan dini, LGBT (Lesbianisme, Gay, Biseksual, Transgender/transeksual), Pornografi, Pendidikan seks yang tepat, dll.

Para peserta acara diskusi yang terdiri dari mitra Rahima di daerah (Jember, Madura, Garut, Cianjur, Magelang, Cirebon, Banten Jakarta) dan para staff Rahima, mengaku terkesan dengan acara ini. Mereka menyatakan lewat diskusi tentang seksualitas, pemahaman dan pengetahuan mereka semakin bertambah dan akan banyak membantu mereka dalam menghadapi persoalan seksualitas di lingkungan masing-masing (Lely)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here