“…Fakta kekerasan terhadap perempuan di seantero dunia telah nyaring “berbicara” selama ini. Fakta ini seolah menegaskan bahwa “dunia adalah sebuah medan peperangan yang menjadikan kaum perempuan sebagai sasarannya”. Sejak zaman baheula sampai detik ini…” 

Kini, di penghujung tahun 2006,  semakin banyak orang mafhum bahwa kekerasan terhadap perempuan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sumbu kekerasan itu bersemayam dalam tradisi. Mapam dan mengakar dalam paham dan penafsiran keagamaan. Dan kuat terejawantahkan dalam berbagai kebijakan ekonomi politik sebuah negara.

Kekerasan telah dialami oleh semua perempuan dari berbagai lapisan sosial, etnik, ras, kebangsaan, agama, aliran politik, golongan pekerjaan, usia, status perkawinan maupun orientasi seks. Walhasil, kekerasan terhadap perempuan itu telah terjadi disemua lini kehidupan, di  wilayah publik maupun privat. Dalam situasi “biasa” (normal) terlebih lebih situasi “konflik” (perang atau kerusuhan lainnya). Bahkan,  di kawasan suci sekalipun, perempuan tak terlepas dari musibah kekerasan ini. Pengakuan para jama’ah haji perempuan bahwa mereka mengalami kekerasan seksual di haramain menorehkan luka kemanusiaan yang merona.

Dan bukan hanya sampai disitu saja, sungguh merupakan kenyataan yang sangat mengejutkan dan sekaligus memperihatinkan, karena ternyata berdasarkan data dan fakta yang akurat, orang maupun lembaga yang selama ini dipercaya sebagai pelindung dan pengayom kaum perempuan justru banyak menjadi “penjahat perang” (baca: pelaku kekerasan) itu sendiri. Ada Polisi, Asykar, Tentara, Suami, Ayah, Kakek, Guru, Dosen, Atasan, Agamawan, aktifis HAM, Negara, IMF, Bank Dunia………..

Kekerasan  terhadap perempuan dilatari dan didukung oleh persekongkolan organisasi dan aparatus politik dan ekonomi yang eksploitatif. Medannya berlapis dari kawasan hubungan personal, rumah tangga, komunitas, negara sampai di aras internasional. Tanpa batas, seolah tiada bertepi.

Namun meski berusaha dihabisi, kaum perempuan tak pernah bisa ditaklukan secara total. Telah lebih dari cukup bukti bahwa meskipun perempuan telah “disiksa” secara fisik maupun mental, mereka bukan menjadi makhluk yang invalid dan lemah karenanya. Perempuan selalu dan akan selalu melawan tindakan pelanggaran hak-haknya dengan berbagai cara. Dalam berbagai fragmen kehidupan kaum perempuan terbukti pantang menyerah dan tetap survive. Karena sesungguhnya perempuan adalah manusia yang berdaya.

Beragam upaya perlawanan telah dilakukan oleh mereka yang dizalimi melalui jalan kekerasan ini. Melalui ijtihad dan jihad. Ijtihad dalam konteks penghapusan kekerasan telah dilakukan antara lain melalui pemunculan tafsiran keagamaan yang berpihak kepada perempuan. Sedangkan jihad yang makna luasnya adalah berjuang dengan sungguh-sungguh dalam  tindakan telah diejawantahkan melalui beragam kerja baik oleh orang perorang maupun kelompok-kelompok masyarakat dalam lingkup nasional dan internasional.

Semoga di episode selanjutnya akan lebih banyak upaya sistematis dan terorganisir, berijtihad dan sekaligus berjihad untuk sebuah dunia yang nir kekerasan bagi perempuan. Apakah itu hanyalah sebuah mimpi ? Insya Allah tidak ! Seperti inspirasi yang saya petik dan kembangkan dari lirik lagu Imagine, yang dinyanyikan oleh almarhum John Lennon yang sangat menyentuh itu…

 You may say I’am a dreamer

 but I’am not the only one

I hope someday you will join us

 and the world will be (as) one”

 

Kamu boleh berkata saya hanyalah seorang pemimpi

tetapi saya bukanlah satu-satunya pemimpi itu

Saya berharap suatu saat nanti kamu dapat bergabung dengan kami

dan dunia akan menjadi satu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here