Dulu mungkin orang tidak akan curiga jika melihat dua orang yang berjenis kelamin sama (laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan) bergandengan tangan, berangkulan di depan umum. Bahkan masyarakat berpikir biasa-biasa saja ketika mengetahui dua orang berjenis kelamin sama selalu meluangkan waktu bersama, tidur bersama, saling berkirim surat, bermesraan bahkan hidup bersama. Pada abad dua puluhan hubungan antar sejenis ini memunculkan banyak prasangka di masyarakat. Mereka yang kerap dikatakan menyimpang dari ketentuan umum masyarakat dan dianggap tidak wajar. Hubungan mesra sejenis itu bukan hanya sekedar teman akan tetapi lebih serius membina hubungan cinta sebagai sepasang kekasih yang biasanya disebut homoseksual bagi pasangan sesama laki-laki dan lesbian untuk pasangan sesama perempuan.

Pembicaraan tentang homoseksual dan lesbian selalu terkait dengan dua hal yaitu persoalan kodrati dan konstruk budaya. Persoalan kodrati maksudnya kecenderungan seksual seseorang itu memang sudah given dari Allah dan tidak bisa diubah. Sedangkan konstruksi sosial menganggap kecenderungan itu adalah hasil “bentukan” kondisi sosial dan budaya setempat.

Mungkin akan lebih jelas kalau kita menggunakan dua istilah berikut yaitu sex dan gender. Di kamus Bahasa Inggris, kata sex diartikan sebagai jenis kelamin berdasarkan biologis. Bahwa laki-laki mempunyai penis dan perempuan mempunyai vagina. Sedangkan gender didefinisikan sebagai jenis kelamin secara sosial. Misalnya, sekretaris diidentikkan dengan perempuan dan satpam diidentikkan dengan laki-laki. Sex dan gender ini erat sekali kaitannya dengan penentuan orientasi seksual seseorang, apakah hasil  konstruk sosial ataukah memang kodrati.

Sebelum kita memberikan judgment apapun terhadap persoalan orientasi seksual ada baiknya kalau kita mengetahui latar belakang seseorang memilih orientasi homoseksual atau lesbian. Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki orientasi seks yang tidak lazim, baik homo maupun lesbian. Pertama faktor hereditas atau pembawaan, artinya kecenderungan prilaku lesbian ini sudah ada mulai kecil. Kesalahan struktur gen pada manusia juga memungkinkan seseorang berprilaku sebagai lesbian atau homoseksual. Kedua, trauma terhadap pasangan lawan jenisnya (heteroseksual). Ini bisa disebabkan karena dikecewakan secara seksual, sehingga perempuan tidak tertarik pada lawan jenisnya. Penelitihan tahun 1920-an di Amerika menunjukkan angka yang tinggi pada hubungan cinta kasih diantara lulusan perempuan di sekolah perempuan Amerika  (Naomi:1994). Hubungan ini terjadi karena perempuan ingin mendapatkan perlakuan yang manusiawi dari pasangannya.

Faktor lainnya adalah untuk mendapatkan kenikmatan seksual yang tidak diperoleh dari pasangan heteroseksualnya. Bahkan Naomi sendiri menyatakan bahwa sebagian besar kaum lesbian pernah punya sejarah seksual dengan pasangan heteroseksual atau akan mengakhiri prilaku lesbian pada fase tertentu dan kemudian menikah dengan lawan jenisnya. Sekarang ada kecenderungan di kalangan feminis bahwa lesbian telah menjadi semacam ideologi tertentu. Artinya pilihan menjadi lesbian merupakan ekspresi perlawanan terhadap penindasan kaum laki-laki. Kelompok yang terakhir ini sangat berbeda dengan lainnya karena perjuangan mereka murni untuk mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari masyarakat sehingga mereka harus menjalani hidup sebagai lesbian.

Bagaimana masyarakat memandang kaum lesbian? Jujur saja bahwa kita sering merasa risih ketika berhadapan dengan kaum lesbian atau menjadi sangat khawatir kalau ditaksir oleh mereka. Masyarakat sendiri menganggap homoseksual dan lesbian sebagai salah satu penyakit psikis. Sehingga mereka harus menjalani perawatan kesehatan secara mental dan seharusnya didiagnosa secara emosional berdasarkan kecenderungan seksualnya. Seandainya prilaku lesbian ini disebabkan oleh faktor pembawaan maka kurang adil jika kita memberikan penghakiman tertentu pada kelompok ini. Bahkan kalau seandainyapun ini lahir dari sebuah konstruk sosial tertentu kita juga tidak seharusnya memberikan lebel-lebel tertentu dan mendiskriminasikannya.

Kaum lesbian menjalankan semua aktivitas hidupnya seperti kelompok heteroseksual yang mendasarkan diri  pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Mereka butuh berinteraksi dengan manusia lainnya, mereka butuh diperhatikan sebagai seorang manusia. Di samping itu mereka pun juga mengalami diskriminasi, subordinasi dan bahkan kekerasan seperti komunitas hetero. Seperti yang dituturkan Amin (bukan nama sebenarnya), anak muda yang punya kecenderungan homoseksual

Aku lahir di lingkungan terhormat di salah satu pesantren di Jawa Timur. Ketika aku utarakan sesuatu yang lain dalam diriku (kecenderungan menyukai kaum sejenis), seluruh keluarga marah dan menganggapku sakit. Mereka malu dan tidak mau menerima. Bahkan menyalahkan salah satu baby sitterku yang dituduh telah melakukan kesalahan besar. Akhirnya aku melarikan diri dari pesantren dan hidup sebagai manusia biasa. Secara kebetulan aku bertemu dengan orang-orang yang menganggap aku normal dan lebih menyanyangiku meskipun banyak yang beranggapan mereka tidak baik. Aku jadi betah hidup dengan mereka dan rasanya enggan untuk kembali (Sumber: seorang Nyai dari Bondowoso yang mendapatkan informasi dari keluarga ndalem pesantren tersebut).

Para feminis menilai bahwa kaum lesbian  lebih berorientasi loving dari pada kebutuhan seksual. Mereka meletakkan hidup ini pada kebersamaan, saling menghargai, menyayangi, antikekerasan namun tetap menjalankan ritualitas keagamaan yang mereka yakini. Bahkan salah seorang dari anggota “Sector 15” (kelompok lesbian) di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat pembela hak-hak perempuan di Jakarta menuturkan bahwa mereka tetap melakukan rutinitas keagamaan (sholat wajib dan sunah, puasa, berhaji serta menjalankan semua yang diajarkan oleh agama) dan menutup aurat sebagai seorang muslimah. Meskipun ada pergulatan dalam dirinya yang selama ini memposisikan diri sebagai pasangan maskulin akan tetapi memakai mukenah saat menjalankan ibadah sholat.

Dalam tradisi pesantren sendiri, lesbian atau homoseksual sebetulnya bukan tidak pernah terjadi. Hanya saja, kecenderungan ini tidak dibicarakan secara terbuka bahkan cenderung ditutup-tutupi. Ada banyak model hubungan yang dilakukan oleh para santri. Biasanya mereka menyebutnya meiril (ini adalah istilah yang dipakai di kitab-kitab fiqh klasik yang artinya homo atau lesbi) atau menggunakan sebutan ade is (adik istimewa) atau kakak is (kakak istimewa). Tidak jarang misalnya salah satu dari mereka memberikan hadiah pada pasangan yang berulang tahun atau mendapatkan kesenangan sebagai bentuk rasa sayang mereka. Menyukai sesama jenis menjadi hal yang biasa di lingkungan pesantren. Misalnya seorang yang alim banyak “disukai” oleh teman-temannya dan dia sendiri “menyukai” seniornya yang pintar, alim dan bijaksana. Model lain dari hubungan ade is dan kakak is bisa pada tingkat yang lebih jauh yaitu untuk menyalurkan hasrat seksualnya.

Pada tingkat inilah bisa dipastikan bahwa kalau ketahuan mereka akan mendapatkan sanksi yang tegas dari pengasuh pesantren. Bahkan bisa-bisa dikeluarkan dari pesantren. Sedangkan relasi ade is dan kakak is sebagai bentuk ekspresi cinta tidak mendapatkan sanksi apapun karena tetap dianggap bukan lesbian. Bagi sebagian besar penghuni pesantren, yang dinamakan lesbian adalah pasangan sejenis yang mengarah pada pemenuhan hasrat seksual. Makanya ketika isu lesbian ini marak di Indonesia mereka menolak mentah-mentah, karena kenyataannya prilaku mereka tidak masuk dalam kategori lesbian.

Kenapa lesbi/homo harus dilecehkan dan didiskriminasi? Sejak dini manusia sudah dibebani kewajiban sebagai mahluk heteroseksual dan karena itu harus melakukan peran heteroseksualnya. Kalau perempuan sudah cukup umur maka harus menikah dengan pasangan lawan jenisnya dan harus menjalankan kewajiban heteroseksualnya. Mereka tidak punya pilihan menentukan orientasi seksualnya baik sebagai homoseksual atau lesbian, heteroseksual, biseksual atau aseksual. Kalaupun bisa maka mereka dihadapkan pada realitas masyarakat yang hetero dan sangat sensitif terhadap persoalan homoseksual dan lesbian. Selama hidupnya mungkin mereka harus berpura-pura sebagai mahluk heteroseksual dengan misalnya menikah dengan lawan jenis, punya anak atau bagi yang single memasang foto lawan jenis pada meja kantornya atau di dompetnya supaya orang menganggapnya normal. (Ruby)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here