dok. Nurulhuda/youtube

KH. Cecep Jayakarama

Kota Garut selain terkenal dengan makanan khasnya yaitu dodol Garut, juga dikenal sebagai kota santri. Hal ini tidaklah berlebihan, karena memang jumlah ponndok pesantren di kabupaten Garut terbilang banyak. Dan satu dari ratusan pondok pesantren yang ada di kabupaten garut adalah pondok pesantren Nurul Huda yang terletak di daerah Cisurupan, kurang lebih 20 Km arah selatan dari jantung kota Garut.

Pesantren ini mulai dirintis oleh kyai Dawami sejak masa penjajahan Jepang. Keadaan masyarakat pada waktu itu yang masih sangat awam terhadap ajaran agama Islam seperti masih banyaknya praktek perdukunan, takhayyul dan hal-hal mistik lainnya yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW menjadi tantangan tersendiri bagi beliau untuk berjuang keras memberikan penyadaran kepada masyarakat dengan ajaran agamanya. Maka beliau dengan pendekatan yang sangat baikmulai menerima lembaga pendidikan pesantren dengan cara mengajarkan kitab kuning kepada orang-orang aktif berjamaah di masjid. Lambat laun banyak yang tertarik untuk ikut mengaji kepada beliau.

Setelah beliau meninggal dunia, pesantren ini diwariskan kepada putranya yaitu KH. Muhammad Nuh Ad-Dawami yang sampai sekarang ini sudah memimpin pesantren Nurul Huda sekitar 39 tahun, sejak tahun 1968. Di samping sebagai pengasuh pondok pesantren, beliau juga aktif berorganisasi . beliau pernah menjadi Rois Syuriah PCNU Kabupaten Garut (masa khidmat 1994-1999) dan sekarang menjadi salah seorang Wakil Rois PWNU Jawa Barat.

Pada mulanya pesantren ini hanya menyelenggarakan program takhassus kitab kuning saja, mulai dari ilmu nahwu, shorof, fiqh, ushul fiqh sampai ilmu balaghah dan ilmu mantiq. Baru pada tahun 1992 mulai dirintis pendidikan formal, yaitu madrasah Tsanawiyyah Nurul Huda. Kemudian pada tahun 1995 mulai dibuka madrasah Aliyah Nurul Huda. Keberadaan MTs dan MA Nurul Huda ini mendapat respon yang cukup baik dari masyarakat. Ini terbukti dengan banyaknya orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah ini.

Pondok pesantren Nurul Huda menganut system manajemen tradisional, dalam arti kepemimpinan tunggal yang berada pada figure seorang kyai yang memegang otoritas yang tinggi dalam pengelolaan pesantren. Dalam mengasuh pesantren dan juga lembaga pendidikan MTs dan MA Nurul Huda, KH. Muhammad Nuh Ad-Dawami dibantu oleh saudara dan putear-puterinya, seperti Drs. Awan sanusi, Ust. Gousul Anam, Aceng Amrullah S.Ag, Ai Sadidah S.Pd dan penulis sendiri.

Pesantren Nurul Huda memiliki motto “KIPRAH” singkatan dari Kepemimpinan, Idealisme, Patriotisme, Riyadlah al-Nafs, Akhlaq al-Karimah dan Hub al-Khair. Hal ini merupakan gambaran ideal pribadi seorang santri yang merupakan kader ulama dan calon pemimpin di masa yang akan dating. Sebagaimana kata Sayyidina Ali Karramallahu Wajahahu: “Syubbanu al-Yaum Rijaal al-Ghad”.

Kegiatan Santri dan Kiprah Pesantren

Karena pondok pesantren Nurul Huda berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat dan tidak ada benteng yang menjadi penghalang antara santri dengan masyarakat sekita, maka santri dapat berbaur dengan masyarakat. Kegiatan shalat berjamaah misalnya, selalu dilaksanakan secara bersama-sama, santri laki-laki dan perempuan serta masyarakat semuanya menyatu dalam menjalankan ibadah tersebut di masjid Nurul Huda. Demikian juga pengajian rutin yang biasa dilaksanakan setiap subuh pada hari Jum’at dengan mengkaji kitab suci al-Qur’an yang diikuti oleh para santri dan segenap masyarakat sekitar, laki-laki dan perempuan. Atau acara istighatsah yang diselenggarakan sebulan sekali dan dipimpin langsung oleh pimpinan pondok pesantren Nurul Huda, acara ini pun diikuti oleh segenap masyarakat dan para santri baik laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian hubungan pesantren dengan masyarakat sangat erat.

Kiprah pesantren sangat terasa bagi pemberdayaan masyarakat, karena selama ini masyarakat menaruh rasa hormat dan ta’dzim kepada sang kyai yang menjadi panutan dan rujukan mereka dalam srgala hal, bukan dalam masalah keagamaan saja . pengajian-pengajian yang diselenggarakan di beberapa DKM di sekitar pesantren menjadi tanggung jawab dan garapan para ustadz di pesantren ini. Kesempatan ini digunakan sebagai sarana untuk mensosialisasikan isu-isu penguatan hak-hak perempuan lewat ceramah di pengajian tersebut.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan menitikberatkan pada ajaran agama Islam dalam rangka membentuk pribadi-pribadi muslim yang sempurna, dalam arti memiliki iman dan takwa serta akhlaq al-karimah, senantiasa mengajarkan kepada para santrinya bahwa Islam merupakan rahmatan lil-alamin. Hal ini penting untuk ditanamkan kepada para santri agar mereka dapat memahami dengan baik ajaran Rasulullah SAW yang sangat mengutamakan keadilan dan kesetaraan dan keadilan, termasuk didalamnya kesetaraan dan persamaan derajat laki-laki dan perempuan.

Di samping itu pesantren pun sangat peduli terhadap kaum perempuan. Dalam rangka pemberdayaan kaum perempuan, The Ai Sadidah, puteri pimpinan pondok pesantren Nurul Huda mencoba menghimpun ibu-ibu yang berada di sekitar pondok pesantren dengan membentuk komunitas perempuan “MAWAR” (Mawaddah wa Rahmah). Awalnya MAWAR merupkan kelompok pengajian khusus ibu-ibu yang dilaksanakan secara rutin sebulan sekali. Setelah selesai mendengarkan ceramah, ibu-ibu pengajian, melakukan diskusi atau curah pendapat seputar masalah perempuan dan keluarga. Kemudian muncul ide untuk membiasakan diri menabung dan alhamdulillah sampai saat ini masih berjalan. Dalam rangka menghilngkan buta aksara, komunitas perempuan “MAWAR” aktif mengadakan kegiatan belajar membaca, menulis dan berhitung khusus untuk ibu-ibu yang masih buta huruf atau tidak lulus sekolah dasar. Kebetulan dalam hal ini, ada bantuan dari pemerintah melalui program KFBM (Keaksaraan Fungsional Berbasis Masjid). Yang menjadi tutornya juga perempuan, yaitu ibu Imas Jaozah dibantu the Himas Gatidah.

Khusus di intern pesantren, ada berbagai kegiatan yang diselenggarakan untuk memperkuat hak-hak perempuan antara lain,

  • Pelatihan seputar gender dan penguatan hak-hak perempuan. Pelatihan ini baru dilaksanakan satu kali pada tahun 2005. pesertanya para santri senior, putera dan puteri. Para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Apalagi dibumbui dengan permainan-permainan menarik seperti ice briker. Selain itu peserta pun diperkenalkan pada Shalawat Keadilan. Dan dalam waktu yang singkat shlawat ini menjadi trend di pesantren dan masyarakat sekuatr. Bahkan shalawat keadilan ini sudah sampai ke pelosok Garut Selatan yang jaraknya kira-kira 60 Km dari pesantren Nurul Huda karena disosialisasikan oleh seorang santri yang sudah pulang kampung. Dari waktu-ke-waktushalawat keadilan terus bergema.
  • Festival Shalawat Keadilan. Panitia dan pesertanya adalah para santri pondok pesantren Nurul Huda. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut hari besar Islam pada tahun 2006. Meskipun sederhana, kegiatan ini sangat menarik dan cukup menarik simpati masyarakat untuk mengikuti perlombaan.
  • Diskusi dan kajian intensif sekitar masalah keperempuanan dan kesetaraan gender. Dari diskusi dan kajian intensif ini, para santri mendapatkan tambahan informasi yang sangat bermanfaat dan menjadi bekal bagi mereka untuk ditransformasikan lagi kepada komunitas masing-masing sekembalinya dari pesantren.

Memang belum banyak yang dilakukan pesantren ini untuk penguatan hak-hak perempuan, namun seperti kata pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjuadi bukit. Mudah-mudahan para ustadz dan para santri di pesantren ini dapat terus concern ikut ambil bagian dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dan kaum tertindas. Amiin.

(Penulis adalah Mitra Rahima dan Staff Pengajar di Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong-Cisurupan-Garut-Jawa Barat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here