Akhir Januari di awal Pebruari 2002 adalah berita buruk bagi Jakarta. Hujan bagi sebagian orang mungkin diartikan simbol rahmat Tuhan, tetapi tidak kali ini. Ia justru menjadi musibah yang tak dapat ditolak. Jakarta kebanjiran! Tatkala Mak Ijah bersorak “Jakarta kelebu, Jakarta kelelep”, tingkahnya mungkin bisa menggelikan tetapi itulah ekspresi dari kepanikannya. Di tengah kalapnya situasi itu, Mak Ijah akhirnya hanya dapat memandangi gubuknya yang nyaris tersapu banjir. Nanang dan Imah, anak-anaknya, adalah motivasi terkuat untuk dia bisa bertahan hidup, selain juga do’a dan usaha. Mak Ijah masih tetap tegar.

Di lain waktu, dalam ruang yang kecil, dikelilingi para ahli medis dengan pisau bedah di tangan, perempuan itu masih juga bertahan dan berusaha lebih kuat lagi demi memberi “hidup” buah hatinya walaupun telah dihadang kematian. Peluh di kening dan ekspresi kesakitan bukanlah sandiwara untuk menarik rasa iba setiap orang yang menyaksikan “tontonan” itu. Limabelas menit kemudian, tangisan bayi memecah hening ruangan dan semua orangpun tersenyum bahagia.

Pada hari yang sama, di keheningan malam, ketika trotoar jalan mulai sepi, dan setiap orang mulai asyik menarik selimutnya, Mbak Onah duduk sambil memegangi kening anaknya yang masih terus meninggi suhunya di dalam gubuknya. Ia sempat kehilangan “hidup”-nya akibat kantuk yang teramat sangat, tetapi ia harus bisa melawan itu demi menjaga anaknya dan menunggu suaminya yang tengah berjuang untuk kehidupannya. Tetapi ia dikejutkan dengan kabar kematian suaminya yang ditemukan jatuh tersungkur penuh darah dengan tikaman celurit di lambungnya. Mbak Onah hampir limbung. Apa yang harus dilakukannya?, tak ada pilihan lain kecuali harus tetap tegar, demi “aroma” kehidupan yang masih dinikmatinya bersama anaknya.

Lalu, pertanyaannya, bagaimana dengan kita? Sekali lagi, perempuan – perempuan dalam sketsa-sketsa di atas bukanlah skenario kosong. Ia sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Ia adalah realitas! Sketsa dengan pilihan untuk terus bertahan hidup, berjuang melawan kejahatan, dan melawan kemiskinan, dan hal itu bukanlah pilihan ringan. Pernahkah ada yang membayangkan bahwa hal tersebut sama dengan pilihan mengasah pedang untuk pergi ke medan pertempuran? Pergi ke medan “jihad”?

Banyak orang mengira bahwa yang namanya berjuang, atau berjihad sama dengan pedang terhunus plus puji-pujian bahwa ini perintah Tuhan, orang akan selalu mengelukan bahwa manusia seperti itulah mujahid sejati. Padahal Jihad mestinya bukanlah sikap heroik yang penuh pamrih, tapi sebuah sikap bahkan pilihan untuk tetap berani hidup, berani menerima kenyataan pahit, berani untuk terus bekerja, berusaha memperbaiki diri, berbuat baik kepada orang lain dengan mengalahkan segala keegoan manusiawi.

Dari sinilah seharusnya kita bisa merenungi kembali makna Jihad yang sebenarnya tidak mesti identik dengan dengan perang, sesuai dengan bunyi ayat dalam al-Qur’an (QS 5:35) “Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan”. Berjihad dalam konteks ayat ini adalah melakukan usaha apapun untuk keberlangsungan hidup manusia. Apakah itu mencari nafkah yang berarti pula melawan kemiskinan, memelihara keamanan sampai segala usaha kecil maupun besar yang berkaitan hajat hidup manusia.

Jadi Jihad bukanlah berjuang demi kemuliaan Tuhan dengan mengabaikan sisi kemanusiaan, karena Tuhan sudah cukup dengan kemuliaanNYA. Pada akhirnya siapakah orang yang telah berani menantang pahitnya kehidupan? Kehidupan dengan ego-ego manusia yang kian tinggi eskalasinya? Kalaulah ada, dialah sesungguhnya mujahid sejati. (daandeka)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here