Ini adalah sejumput kisah tentang perempuan yang lahir dari  rahim (baca :keluarga) pesantren “tradisonal”.  Perempuan ini  dengan lugas bertutur tentang pasang surut kehidupannya.  Sekalipun   berasal dari ndalem pesantren yang oleh sementara kalangan dianggap “sakral dan aman” ternyata ia telah menjalani kehidupan yang tidak selalu ramah. Alasannya gambling, ia adalah seorang perempuan. Nyai Ruqayyah Ma’shum namanya. Ia anak sulung dari 6 bersaudara . Lahir 31 tahun yang lalu. Dibesarkan di Prajekan, Bondowoso, Jawa Timur. Ibundanya  Nyai Siti Rusyati berasal dari kalangan pesantren sedangkan  ayahnya Kyai Ma’shum Dimyati adalah seorang tokoh masyarakat yang kemudian berhasil mendirikan sebuah pesantren. Namun sepeninggal ayahnya,  pesantren yang dinamakan Kyai Mas itu tak berlanjut. “Sudah tak ada figur pemimpin yang bisa menjaga keberlangsungan  lembaga tersebut” tutur Nyai Ruqayyah. Kini,  yang tinggal  adalah sebuah Madrasah Tsanawiyah yang dikelola salah seorang pamannya, serta Majlis ta’lim al Ma’shumiyah yang diasuh oleh Nyai Ruqayyah sendiri.

Berikut petikan wawancara Rahima dengan Nyai Ruqayyah Ma’shum. Dari bahasa dan tuturannya sendiri ia berceritra tentang diri, orang-orang yang dekat dengannya dan sekilas dunia pesantren. Sebuah kisah yang mengalir dari lubuk hati yang bergolak.

 

Saya sadar bahwa pengungkapan  ini bukan tanpa resiko. Saya sadar reaksi negatif mungkin akan muncul baik dari kalangan saya sendiri, keluarga pesantren maupun pihak lain yang merasa “terganggu” dengan pengakuan ini. Tapi saya sudah bertekad untuk terus bicara dan membuka diri. Itu semua, selain untuk menolong diri sendiri, Insya Allah  akan juga membantu perempuan lain. Mereka yang oleh satu dan lain sebab, terpaksa masih bungkam. Semoga penuturan ini akan memberi inspirasi dan kekuatan kepada mereka, agar segera bangkit. Mudah-mudahan merekl tak lagi menjadi korban yang pasrah saja terhadap kesewenang wenang yang dialami. Mereka harus menjadi manusia yang aktif berjuang untuk keluar dari ketertindasan, hanya semata-mata karena mereka perempuan. Karena di atas semua itu, saya yakin Allah Maha Rahman dan Rahim. Allah Maha Adil. Dan Allah berkehendak terhadap membuminya keadilan. Saya melakukan semua itu karena misi ini.

 

FC : Kabarnya Nyai ditunangkan dan kemudian di kawinkan ketika masih kanak kanak. Bagaimana ceritranya? 

R:  Sejak kelas 3 SD  saya  telah dijodohkan dengan seorang lelaki putra kyai. Kala itu  sepenuhnya saya tidak mengerti apa sebenarnya  yang sedang terjadi. Dunia saya   masih dunia bermain. Ketika  menginjak usia remaja (14 atahun), sewaktu masih mondok di Pesantren di wilayah Probolonggo, ayah wafat. Saya diharuskan menikah. Alasannya supaya kepemimpinan pesantren tidak vakum. Dan suami saya diharapkan sebagai calon  kyai penerus. Kawin muda saya jalani dengan setengah hati. Bagaimana tidak, saat itu saya tengah senang-senangnya belajar dan masih ingin menikmati masa muda eh…terpaksa harus menikah. Berat rasanya.

FC: Apa yang terjadi setelah menikah? 

R: Saya mengalami peristiwa aneh. Di hari pertama perkawinan, masih dalam gaun pengantin tiba tiba saja saya pingsan. Dan hal ini sering terjadi hingga 1 tahun usia perkawinan. Menurut banyak orang, saya kena teluh. Tetapi ada pendapat lain bahwa ini sebenarnya bentuk perlawanan terhadap tradisi kawin paksa yang harus saya jalani. Wallahualam

FC:        Sebenarnya bagaimana hubungan mbak dengan suami waktu itu ?

Saya belum pernah merasakan apa itu cinta. Yang saya tahu, menurut  pendidikan pesantren, suami adalah  segala-galanya. Karenanya, istri harus taat, harus manut. Saya berusahan melakukan itu.Tetapi terus terang, perasaan saya masih seperti santri, masih mbocahi. Ini sangat berlawanan dengan kenyataan dimana saya harus berlaku sebagai orang dewasa., khususnya  ketika menghadapi suami. Sesungguhnya,  saya merasa tersiksa. Belum lagi ketika harus berhubungan dengan keluarga suami. Ada  mertua, ipar dan   kerabat suami lainnya. Mereka tentu tidak sama dengan   keluarga saya sendiri. Untungnya, ayah mertua  telaten dan sayang terhadap saya. Saya tidak diperlakukan  seperti anak sendiri.

FC: Adakah pengaruh keluarga suami terhadap kehidupan mbak?

Mungkin, karena memasuki perkawinan dalam keadaan belum siap lahir dan batin maka saya  mengalami berbagai peristiwa menyedihkan. Saking tidak siapnya, sampai-sampai ketika saya punya anak, sayapun tidak tahu bagaimana harus mengasuh anak itu. Faktor inilah yang mungkin mengundang besarnya campur tangan  kerabat suami. Apalagi saya tinggal bersama  mereka dalam kompleks pesantren.

Sampai dimana pengaruh keluarga suami ?

Mereka selalu mengintervensi keluarga baru kami. Konsekuensinya apa-apa tidak bisa diputuskan antara saya dan suami. Keputusan harus mengikuti atau menampung beberapa pendapat keluarga yang kadang-kadang tidak berpihak kepada saya.  Semua ini didukung tradisi masyarakat  bahwa yang namanya ikut mertua harus tunduk apa katanya  mertua (dan keluarganya). Apalagi dari segi ekonomi, masih ditanggung mertua. Waktu suami saya belum punya pekerjaan tetap. Apapun yang kami nikmati  berasal dari orang tua suami. Akibatnya tidak ada kemandirian, baik  ekonomi juga  dalam hal pengambilan keputusan apapun. Termasuk cara mendidik anak.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya? 

Setelah ayah mertua meninggal, perceraian tak bisa dihindarkan. Pemicunya masalah sepele. Tetapi saya sadar itu adalah puncak dari berbagai ketegangan yang sudah menumpuk. Saya dan anak (waktu itu berumur 5 tahun) dipulangkan oleh keluarga suami ke rumah ibu saya. Tak alasan yang jelas apa kesalahan saya. Sangat menyedihkan.

Bagaimana  nyai  mensikapi kejadian itu ?

Yah…, meskipun terpukul saya berusaha mengambil hikmah dari berbagai peristiwa itu.   Bahwa, perkawinan dini sangat beresiko tinggi misalnya dominannya campur tangan keluarga. Perkawinan dini memusnahkan banyak kesempatan berkembang bagi seorang perempuan. Perkawinan dini menorehkan luka karena seringkali berakhir dengan perceraian. Dan korbannya bukan hanya suami istri saja tetapi juga anak anak.

Nyai Ruqayyah menerawang, menghela nafas kemudian melanjutkan…

“Tapi babak kehidupan selama  rentang usia perkawinan itu tidak semua bersifat negatif. Diantara  sejumlah penderitaan saya mengalami proses penguatan.  Itu bersumber dari  bapak mertua. Sesuatu yang tak pernah saya lupakan.

Bisa diceritrakan ?

Ayah mertua  sayang sekali kepada saya. Saya mendapat banyak didikan dari mertua. Saya diajari membaca kitab, mengaji, memperdalam ilmu, berceramah, tata cara berpidato dalam menyambut acara-acara di pesantren  seperti maulidan,   imtihan dll. Tapi  apa yang menjadi pucuk kebahagian, tidak ditafsirkan sama oleh pihak lain. Curahan perhatian  besar dari bapak mertua, ternyata menjadi sumber masalah di antara kerabat suami. Timbul  kecemburuan. Kok Ruqayyah yang diberi perhatian , bukan kami yang asli orang sini. 

FC:  Apa yang anda lakukan setelah bercerai ?

R            : Setelah  menjanda, saya terus berda’wah, hampir setiap hari.  Mungkin itu salah satu hiburan bagi saya ketika itu. Dengan berda’wah, beban   sedikit berkurang. Ada kesenangan tersendiri. Itu terus berlanjut, sampai  suatu saat saya kenal dengan seorang  lelaki yang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Seorang sarjana agama. Dari perkenalan itu timbul perasaan, mungkin orang ini cocok untuk menjadi pendamping. Saya berharap ia bisa mendukung profesi saya  sebagai  juru da’wah. Saya bisa belajar ilmu lebih banyak darinya. Tapi untuk sampai ke jenjang perkawinan dengan laki-laki tersebut, bukan hal  mudah. Timbul  perbedaan nasab. Saya berasal dari keluarga pesantren, dia bukan. Karena itu, keluarga saya menolaknya. Saya berupaya melawan.  Saya memberi alasan  bahwa tidak ada perbedaan antara orang  berdarah biru dengan yang bukan. Saya ingin membongkar pandangann  keluarga  dengan meyakinkan mereka, bahwa laki-laki itu  adalah orang yang tepat karena berlatar belakang pendidikan tinggi. Akhirnya kami menikah dan tinggal bersama Ibu  di Prajekan. Oh ya …Suami saya duda dengan 2 anak. Menurut surat cerai yang ditunjukkan perceraian terjadi karena istrinya selingkuh.

Bagaimana dengan perkawinan kedua ini? 

R: Di awal pernikahan, segala sesuatu berjalan baik-baik saja, meskipun masing-masing  membawa seorang anak. Masalah mulai timbul setelah kami pindah dari Prajekan ke kota Bondowoso karena pertimbangan untuk mendekati kantor suami. Saat itu ia bekerja di departemen agama . Nah, sejak itulah mulai kelihatan watak  aslinya. Semula tampak sabar, kini sering marah-marah. Kami sering bertengkar.   Penyebab pertengkaran  tak ada yang pinsip. Kadang cemburu  tidak beralasan. Kadang bertengkar karena pembagian tugas di rumahtangga atau pendidikan anak. Semakin lama sifat jeleknya semakin menjadi-jadi. Ia mulai main kasar,  misalnya memukul.  Jika diingatkan, ia semakin berang. Saya berusaha merahasiakan hal ini dari keluarga. Terus terang saya malu. Toch  saya yang dulu ngotot untuk menikah dengannya, walau dilarang keluarga. Tetapi, meskipun saya tutup tutupi akhirnya ibu tahu juga apa yang dilakukan suami terhadap saya.. Beliau mengisyaratkan supaya kami bercerai. Saya belum mantab waktu itu. Saya masih  mencoba bagaimana caranya supaya keluarga  tetap utuh .

Mengapa bersikap demikian?

Saya masih berharap ada perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau saya bercerai untuk kedua kalinya,i tentu akan merupakan pukulan lagi bagi keluarga, terutama ibu. 

Lalu ?

Memang ada perkembangan keadaan, terutama ketika terjadi perubahan sosial politik di tanah air. Suami saya berhenti sebagai pegawai DEPAG dan masuk partai politik.  

Apakah ada proses perubahan kearah yang lebih baik ?

Dalam beberapa waktu,  ya.. Perubahannya kelihatan sekali. Malah overacting. Saya cenderung dimanja. Misalnya ketika ia pergi ke rapat Partai saya sering di belikan baju. Biasanya tidak seperti itu.

Kira kira mengapa ia berubah ?

 Semula saya fikir mungkin karena dia akan menjadi anggota DPR RI. Atau paling tidak , merupakan ungkapan terima kasih kepada saya. Saya sempat berkampanye untuk  partai politik dimana ia dijagokan untuk menjadi anggota DPR. Dan akhirnya dia memang lolos.  Tetapi belakangan saya baru tahu, itu dilakukan untuk menutupi atau paling tidak agar tidak memancing kecurigaan saya  bahwa ia mulai berselingkuh. Ia akhirnya menikah di bawah tangan tanpa sepengetahuan saya. Yah ..ternyata sikap baiknya yang aneh itu merupakan salah satu taktik  ketika  membohongi istri.  Saya terpukul dan sedih. DanSuaranya terhenti sejenak.Nyai Ruqoyyah kembali menghela nafas panjang dan melanjutkan dengan nada rendah…

Satu hal lain yang membuat saya sedih adalah seluruh teman laki-lakinya berupaya melindungi suami . Bagi saya itu menjadi semacam temuan. Alangkah kuatnya persekongkolan laki-laki  ketika menutupi perbuatan serong kawannya. Ketika saya bertanya, tidak ada satu orang yang mengakui akan hal itu. Mereka seperti melindungi satu sama lain. Sampai akhirnya segala sesuatu tak bisa disembunyikan lagi. Saya punya bukti kuat. Saat itu  saya ingin memproses itu ke jalur hukum. Tetapi mereka semua keberatan. Mereka bahkan meminta-minta saya dengan hormat janganlah kasus ini diungkap demi nama baik organisasi dan partai.

Apa tindakan Nyai selanjutnya?

Saya masih berusaha bersabar waktu suami  meminta saya untuk memberi kesempatan  untuk memperbaiki perbuatannya. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya itu. Yah …bagaimanapun waktu itu saya masih menerima dan ingin memberi kesempatan padanya. Saya pikir,  mungkin setelah ia menjadi anggota  DPR-RI, ia akan berubah sikap. Ternyata, itu tak terjadi. Karena, tidak berapa lama setelah pindah ke Jakarta, ternyata istri mudanya  menyusul. Ia dititipkan di rumah  teman akrab  suami  Ketika saya menggugat,  suami semakin berang. Ia semakin sering melakukan tindak kekerasan. Saya dihina, dipukul, ditendang bahkan pisau dapur pernah ditempelkan ke leher. Perbuatan itu bukan sekali dua kali. Itu sering dilakukan.

Adakah pihak lain yang tahu perbuatannya?

Semula hanya anggota rumah seperti adik saya, pembantu dan anak anak. Tetapi  pada akhirnya, hal ini diketahui beberapa tetangga di komplek DPR, famili dan kawan di partai. 

Ada tindakan pertolongan  dari mereka ?

Nyaris tidak. Orang rumah tidak bisa berbuat apa-apa. Anak-anak ketakutan. Anak saya sendiri, sampai saat ini sering gagap dan  minder. Menurut para ahli, ini  dampak  ia sering melihat tindak kekerasan. Pihak lain tidak mau langsung terlibat, karena mengganggap ini urusan suami istri. Kalau ikut campur malah salah nanti. Saya pernah ke ketua Fraksi tapi saya disuruh bersabar dan katanya kasus saya hanya bersifat kasuistik, bukan kasus umum. 

Apa yang selanjutnya anda lakukan untuk keluar dari kemelut ini?

Saya bingung sekali. Bagaimana mungkin saya bisa menghadapi persoalan ini sendiri. Alhamdulillah,  saya diberi karunia ingat kepada tabloid SEHAT terbitan divisi Fiqh an Nisa P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat). Saya lalu menelpon ke sana. Saya berharap mereka bisa membantu memecahkan masalah saya. Syukurlah akhirnya kawan kawan FN P3M (kini Rahima)  bisa membantu. Saya lalu diperkenalkan dengan banyak kawan di jaringan kerja penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. Ada kalyanamitra, LBH APIK, PUAN Amal Hayati dll. Hal ini   membangkitkan semangat saya untuk memperjuangkan ketidakadilan yang terjadi pada saya. 

Nyai Ruqoyyah kembali menerawang. Ada kilau di bola matanya yang bening. Beberapa saat ia terdiam dan.dengan suara tertahan ia  berkata

Saya tak habis fikir apa sebenarnya yang dikehendaki suami saya. Ia telah menyiksa saya lahir bathin.  Dan itu rupanya belum cukup . Entah mengapa ia berupaya memperkosa salah satu keluarga saya.  Sampai ditingkat ini saya sudah tak dapat bertoleransi lagi. Saya harus melakukan sesuatu.  Tapi saya belum bisa berbuat banyak. Saya masih harus bersabar lagi. Hal itu saya lakukan, karena waktu itu saya harus menunggu anak selesai ujian. Saya masih  harus bertahan demi anak. Oleh sebab itu, perlawanan yang lebih terbuka belum saya lakukan. Akibatnya dalam  beberapa  waktu  saya tetap menerima kekerasan, fisik maupun psikis.

Nyai Ruqayyah  menunduk beberapa saat. Waktu seakan beku. Suasana  hening itu  pecah ketika ia  mulai berbicara kembali. Suaranya lirih…

Sekarang saya bisa berkata bahwa tidak ada jaminan,  seorang lelaki yang berpendidikan tigggi, agamawan, seorang wakil rakyat otomatis akan menjelma menjadi suami dan ayah yang baik. Saya menyimpulkan itu dari pengalaman sendiri. Kenyataan ini tak boleh lagi disembunyikan. Masyarakat harus disadarkan, karena sampai sekarang mereka masih percaya mitos bahwa  lelaki elit  itu  selalu baik dan benar. Untuk itu, saya memberanikan diri untuk mengungkap kasus ini, meski saya tahu itu tidak mudah.

Pada akhirnya  anda  menuntut secara hukum kan ?

Ya. Meskipun rumit, berbelit belit dan lama, saya tetap  menuntut lewat jalur hukum. Selain itu bersama kawan kawan yang peduli, saya akan menempuh upaya mencari keadilan lewat jalur lain. Misalnya baru baru ini  kawan-kawan Jaringan Kerja   pendamping perempuan korban kekerasan menulis press release tentang  kejadian yang saya alami. Press Release ini kemudian disebar luaskan ke berbagai pihak. Diharapkan langkah  ini akan   membantu saya dalam mencapai keadilan.

Tadi anda katakan bahwa jalur hukum berbelit-belit ?

 Ya… memang ! Saya mengalami sendiri betapa rumitnya seorang perempuan yang mengalami kekerasan untuk memproses secara hukum mulai dari laporan, pengisian BAP, kesaksian segala macam. Harus wira-wiri. Harus mengatur waktu untuk bertemu dengan penyidik. Rumit sekali. Sementara kuasa hukum saya, LBH APIK, yang dipimpin ibu Nursyahbani Katjasungkana tidak hanya menangani satu kasus. Sehingga.,ketika mengatur jadwal untuk ketemu di polres misalnya tidak selalu bisa.  Belum lagi karena orang yang saya tuntut adalah anggota DPR. Prosedurnya bertambah rumit lagi karena harus ada izin presiden untuk  menyidiknya. Hal lain adalah tarik ulur dengan partai. Terus terang saya dan kawan kawan pendamping kadang sengaja “menahan” langkah karena tidak mau terjebak dalam ladang permainan politik, karena kasus ini. Walau kasus ini  di blow up, kami tak bermaksud melabrak partai tertentu. Kami justru ingin membersihkan organisasi kerakyatan,termasuk dewan perwakilan rakyat  dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya rasa seorang pejabat publik harus punya reputasi yang baik, bukan hanya di dunia publik. Perilakunya di tengah keluarganya harus diperhitungkan juga.

Terakhir, ada yang ingin disampaikan ?

Saya sadar bahwa pengungkapan  ini bukan tanpa resiko. Saya sadar reaksi negatif mungkin akan muncul baik dari kalangan  sendiri, keluarga, pesantren maupun pihak lain yang merasa “terganggu” dengan pengakuan ini. Tapi saya sudah bertekad untuk terus bicara dan membuka diri. Itu semua, selain untuk menolong diri saya, Insya Allah saya berharap akan juga membantu perempuan lain. Termasuk yang hidup dilingkungan pesantren. Mereka yang oleh satu dan lain sebab, terpaksa masih bungkam. Semoga penuturan ini akan memberi inspirasi dan kekuatan kepada mereka, agar segera bangkit. Tidak lagi sebagai korban yang pasrah saja terhadap kesewenang wenang yang dialami tetapi menjadi manusia yang aktif berjuang untuk keluar dari ketertindasan yang didasari karena keperempuanannya. Karena, di atas semua itu, saya yakin Allah Maha Rahman dan Rahim. Allah Maha Adil. Dan Allah berkehendak terhadap membuminya keadilan. Saya melakukan semua itu karena misi ini

Selanjutnya, saya ingin menghimbau kepada seluruh lembaga pelayanan perempuan korban kekerasan, terutama  aparat hukum di kantor polisi, maupun lembaga peraadilan, agar menata diri kembali . Berdasarkan pengalaman saya, proses yang dijalani para korban sungguh berbelit belit dan sering penuh ketidak pastian. Hal ini membuat korban tambah menderita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here