Bu Ida punya pengalaman dengan tetangganya yang kebetulan menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di Arab Saudi. Persoalannya, mertua tetangganya itu menganggap pekerjaan sebagai TKW dianggap sebagai pekerjaan yang hina sebagai ia menghasut anaknya untuk menceraikan sang tetangga tersebut. Pak Muiz punya keluhan tentang hubungan suami istri : “Saya kadang menyesal, kenapa sih perempuan harus mengalami menstruasi. Sebab, kalau perempuan sedang haidh kan, jadi tidak bisa diajak gituan.    Makanya saya ingin berpoligami supaya ketika istri yang satu haid, saya bisa pergi ke istri yang lain. Sementara qodrat saya sebagai laki-laki ingin berpoligami, yah supaya  kalau istri yang satu sedang haidh, saya  bisa ke istri yang lain “. Waktu kecil pak Syam  sering  iri  pada perempuan, sebab mereka sering diberi yang dianggap ringan; sementara laki-laki diberi pekerjaan yang berat dan kasar. “Kadang saya ingin sekali hanya  diam di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti nyapu dan memasak. Jadi tidak usah ikut membajak atau ke kebun. Tapi pasti saya di marahi Bapak”.

Berbagai penuturan diatas muncul pada forum latihan “Mengkaji Pendidikan Islam yang Berkeadilan Gender” yang diadakan yayasan Rahima pada bulan Agustus 2001 di pondok pesantren Nurul Islam Jember. Pelatihan  ini merupakan rangkaian dari kegiatan membangun sistem pendidikan yang berkeadilan gender yang menjadi konsern yayasan Rahima. Dalam pelatihan kali ini hadir sekitar 30 peserta dari beberapa Pondok Pesantren di Jember, diantaranya dari PP Zainab Shiddiq ( Talangsari  ), PP Magda’ul Ma’arif (Jombang  ), PP Miftahul Ulum (Suren), LP Ma’arif (Bangsal, Wuluhan, Balung, Ajung),PP Nurul Islam  ( Antirogo), PP Al-Hidayah  ( Silo), PP Ar-Raudhah  (Jember), dan  PP Darussalam (Kreongan).Sebelumnya kegiatan yang sama pernah dilakukan di pondok pesantren Dar el-Tauhid di Cirebon.

Dalam pelatihan yang dipandu tim fasilitator Rahima (Farha Ciciek, Dwi Rubiyanti dan Faqihuddin Abdul Qadir) banyak mencuat persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pola relasi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan social di Jember. Pola relasi yang mau tak mau merupakan pengaruh dari sistem pendidikan yang pernah mereka dapatkan dibangku pendidikan (pesantren atau sekolah umum). Karena semua peserta berprofesi sebagai pendidik (guru atau pengasuh pesantren) lontaran pemikiran kritis yang diajukan tim fasilitator tentang sistem pendidikan yang diterapkan lembaga masing-masing menjadi sangat relevan. Memang diakui tak semua peserta setuju dengan pemikiran-pemikiran yang diajukan Rahima, tapi karena forum ini dibuat dengan pola dialogis, tak ada nada menghujat dalam setiap perbedaan pendapat.

Materi yang disampaikan pada pelatihan kali ini memang dikemas tidak jauh berbeda dengan materi pelatihan gender konvesional atau materi pelatihan gender pada umumnya. Hanya memang sajian yang disampaikan pada pelatihan gender versi RAHIMA lebih menitik beratkan gender dengan perspektif Islam. Apalagi pelatihan ini juga menghadirkan nara sumber KH. Hussein Muhammad dan KH. Muhyiddin Abdussomad (pimpinan pesantren Nurul Islam) yang sangat menguasai system pendidikan di pesantren.

Empat hari adalah waktu yang cukup panjang bagi peserta untuk berproses, walau tetap masih merupakan waktu yang relatif singkat bagi cita-cita perubahan paradigma pendidikan berkeadilan gender. Karena seperti yang tercermin di awal tulisan ini, masyarakat maupun lingkungan pesantren memang masih sangat awam pemahamannya tentang gender. Apalagi bila sudah dikaitkan dengan ajaran agama, terutama fikih yang dianggap menjadi harga final. Karenanya  RAHIMA berharap, perubahan yang diharapkan –menuju sistem pendidikan pesantren yang adil gender – tak harus dilakukan secara drastis dan revolusioner, melainkan secara gradual dengan menekankan pendekatan dialogis. (daandeka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here