Oleh : Any Rufaedah *)

Rifka Annisa adalah sebuah organisasi non pemerintah yang bekerja dalam upaya mengatasi kekerasan terhadap perempuan yang berbasis di Yogyakarta. Lembaga kami meyakini bahwa kekerasan terhadap perempuan terjadi karena adanya berbagai faktor yang saling mendukung. Faktor resiko terjadinya kekerasan ini yang kemudian menjadi kerangka kerja untuk mengintervensi perubahan yang diinginkan. Kerangka kerja ekologis ini digambarkan dalam berbagai lingkaran yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Yakni individu, keluarga, komunitas dan masyarakat. Dengan dukungan Rutgers WPF, melalui melalui program Prevention+ kami menggunakan kerangka pendekatan tersebut dalam melakukan berbagai implementasi program. yang bertujuan untuk mendorong laki-laki mengambil peran aktif dalam menghentikan kekerasan terhadap perempuan dengan cara mengartikan ulang arti maskulinitas dan peran keayahan (fatherhood). Strategi Rifka Annisa dalam melaksanakan program tersebut yaitu dengan dengan terlibat di dalam kelompok masyarakat, melalui Kelas Ayah, Kelas Ibu, Kelas Remaja Laki-laki dan Kelas Remaja Perempuan.

Melalui diskusi kelompok tersebutlah, kami mulai mengajak peserta untuk merefleksikan pengalaman hidup tentang menjadi laki-laki dan perempuan, merefleksikan realitas sosial baik diri dan lingkungannya, pengasuhan, pembagian kerja, komunikasi, konflik yang memicu kekerasan serta hal-hal lain yang berkaitan dengan relasi laki-laki dan perempuan. Dalam sesi ini kami seringkali mendapati berbagai cerita perubahan individu maupun kelompok masyarakat yang bergerak dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Setiap kelompok memiliki dinamikanya yang masing-masing.

Dinamika Kelas Perempuan
Melalui kelas perempuan kami melakukan pendekatan dengan mengajak peserta memahami ketidakadilan yang terjadi pada dirinya sebagai perempuan, dilanjutkan dengan proses-proses diskusi untuk membangun kesadaran potensinya. Kesadaran potensial menjadi sangat penting untuk dibangun karena selama ini perempuan secara sosial dilemahkan oleh budaya patriarkhi. Standar sosial perempuan di masyarakat mengakibatkan ia lebih banyak memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri.

Hal ini sangat terlihat ketika dalam proses diskusi. Saat fasilitator bertanya tentang “Apa yang membuatmu bangga sebagai perempuan?” rata-rata peserta menjawab : “Bangga punya anak”, “Bangga bisa merawat keluarga”, “Bangga bisa merawat orang tua”, “Bangga bisa melayani suami”. Sebaliknya sedikit perempuan yang bercerita bangga terhadap dirinya tentang potensi yang dimilikinya. Bahwa, “Saya perempuan mandiri. Saya bisa melakukan pekerjaan rumah yang sangat banyak, saya bisa naik motor, saya bisa bekerja, saya bisa mencangkul.” Sedikit dari mereka yang mengapresiasi dirinya. Baru saat diskusi selesai mereka menyadari “Ternyata banyak hal yang patut kita banggakan yang ada dari dalam diri kita”.

Budaya patriarki membuat cara pandang kita lebih mengunggulkan satu dibandingkan dengan yang lainnya, dan memandang satu pihak lebih baik dibanding dengan yang lain. Kontruksi gender dalam budaya patriarkhi membuat perempuan dipandang lebih rendah dibanding laki-laki, begitu pula sifat-sifat yang dilekatkan pada laki-laki seperti kuat, tegas, berani akan dianggap lebih baik dibanding sikap emosional, sabar, lemah yang dilabelkan pada perempuan. Oleh karenanya, banyak perempuan yang kemudian berusaha untuk selalu kuat, berani, dan tegas bahkan ingin menjadi laki-laki saja. Seperti diungkapkan Rere (bukan nama sebenarnya) peserta kelas remaja perempuan “Aku pengen dadi wong lanang, biasane wong wadon sering dikalahke. Wong lanang luwih bebas tinimbang wadon” (Saya ingin menjadi laki-laki, karena perempuan seringkali dikalahkan, dan laki-laki lebih bebas daripada perempuan). Rere merasa tidak banyak ruang untuk dirinya, karena dalam banyak hal ia merasa diatur. Padahal sifat-sifat tersebut tidak perlu didikotomikan satu sama lain.
Pada perempuan, kontruksi gender berdampak pada dilemahkannya perempuan secara sosial yang mempengaruhi cara pandang dan sikapnya. Perempuan sendiri akan memandang dirinya lemah, harus nurut, harus mengikuti aturan, sensitif. Situasi ini membuat banyak perempuan tidak terbiasa untuk bertanya, mengungkapkan uneg-uneg atau perasaanya. Mengingat sejak kecil dibiasakan dengan dengan standar nilai terkait keharusan sifat menjadi perempuan oleh masyarakat setempat.

Dinamika Kelas Laki-laki
Sementara itu, pada kelas laki-laki pendekatan yang digunakan agak berbeda dengan perempuan. Jika perempuan didorong untuk meningkatkan pemahaman tentang potensinya, sebaliknya pada laki- laki dilakukan dengan menurunkan keistemewaan (privilege) yang dimilikinya. Hal ini dilakukan dengan membongkar nilai-nilai maskulinitas yang selama ini melekat di dalam dirinya; terutama berkaitan dengan kontruksi gender laki-laki yang lebih banyak berhubungan dengan soal harga diri. Membagi keistemewaan sama halnya berbagi kuasa. Sehingga relasi satu sama lain tidak lebih rendah dan setara. Hal ini juga bisa diterapkan dalam keluarga. Sehingga kesepakatan tentang siapa melakukan apa di dalam keluarga, atausiapa yang mau menjadi pemimpin di dalam keluarga, tergantung pada kapasitas dan tentang kesadaran dalam membangun keluarga secara bersama.

Pada laki-laki yang tidak mampu mengatasi tuntutan-tuntutan sosial di masyarakat, ia akan mengalami konflik diri. Bapak Arman (bukan nama sebenarnya) pada saat diskusi kelas ayah menceritakan pengalaman dirinya sebagai seorang suami yang berprofesi sebagai buruh bangunan, “Ya tahu sendiri Mas, pekerja buruh kan uang gak tentu.Dapat uang kalau ada kerjaan, sedangkan kebutuhan mili terus. Seharuse wong wedok diwehi jatah sepiro yo dicukupke. Pengen saya, ya uang dikelola oleh istri, supaya dadi wong lanang gak kebingungan ngecakke. Wis kerjo dikon ngecakke”. (Ya tahu sendiri Mas, pekerja buruh uang tidak menentu. Dapat uang jika ada pekerjaan sedangkan kebutuhan jalan terus. Seharusnya perempuan kalau diberi uang ya bisa dicukupkan Keinginan saya, uang dikelola oleh istri, supaya sebagai laki-laki gak kebingungan mengelolanya. Sudah bekerja, diminta mengelola. Pak Arman sebenarnya mengalami kebingungan dengan situasinya

Kondisi tersebut tidak jauh beda oleh yang dialami Pak Suryanto, salah seorang peserta diskusi tahun 2017 sebelum terlibat diskusi Kelas ayah. Menurutnya, hal yang dialami Pak Arman juga banyak dialami laki-laki lain. Ia bertanya-tanya, apakah menafkahi keluarga hanya mesti dengan uang? Apakah ini yang hanya dibutuhkan dalam keluarga”. Setelah banyak terlibat sebagai peserta diskusi, beliau menemukan hal lain. Bahwa hubungan rumah tangga tidak hanya sekedar soal laki-laki mencari uang dan perempuan mengasuh anak. Keluarga juga terkait tentang “Bab jaga perasaanne dhewe, perasaan istri, bab piye carane supaya bojo dados konco” (tentang bagaimana menjaga perasaan sendiri, perasaan istri dan bagaimana caranya menjadi teman). “Terangane niku ngenehi dhuwit semampune. Ora kudu okeh, dadi ora mentingke wong lanang dhewe. Ternyata niku dereng cukup”. (Jelasnya bahwa memberi uang semampunya tidak perlu banyak, jadi tidak hanya laki-laki yang bekerja sendiri, karena ini tidak lah cukup). Sejak itu beliau belajar bahwa mencari uang termasuk pengelolaan keuangannya merupakan tanggung jawab bersama,. Pernikahan bukan hanya soal laki-laki mencari uang, namun soal soal hidup yang dijalani bersama-sama dengan pasangan kita.

Lain halnya Erwin, peserta kelas ayah tahun 2017. Pandangannya tidak jauh beda. “Aku sing wong biyen nganggep dadi wong lanang sing penting aku isa ngingoni anak bojo, aku yo wis lanang. Iku cara pikirku, aku nuruti senengku dewe, rampung golek duwit, wis. Lalu tak tinggal mancing, tak tinggal golek manuk. “ (Sebagai orang zaman dulu dulu, aku menganggap bahwa aku bisa menghidupi anak dan istri, aku sudah laki-laki. Itu cara pikirku, aku mengikuti apa yang aku senangi, lalu saya pergi mancing dan mencari burung). Sekarang Erwin menyadari bahwa itu tidaklah cukup, karena dalam keluarga perlu pasangan berbagi peran dan berbagi perasaan, karena apa yang dilakukan istri juga berat. Kini ia dan pasangan lebih bisa terbuka satu sama lain dan hal ini juga berdampak semakin dekatnya sang anak kepadanya.
Cara pandang di atas akibat dari kontruksi gender laki-laki di masyarakat. Seringkali pandangan tersebut merugikan pihak perempuan, namun di sisi lain juga merugikan laki-laki. Namun bila cara pandang tersebut bisa dikomunikasikan, hal ini membuat pasangan bisa saling mengerti satu sama lain.

Tantangan dan Pembelajaran
Cerita diatas beberapa peserta yang sedang berproses dan mau berubah. Namun, proses itu seringkali mengalami berbagai tantangan; mengingat masyarakat memandang acapkali menganggap peserta yang terlibat di dalam diskusi bagian dari keluarga yang bermasalah. Persoalan keluarga dianggap tabu dibicarakan. Namun positifnya kelas ini menjadi ruang berbagi cerita maupun support group antar keluarga. Proses diskusi membuat antar peserta saling belajar untuk menemukan solusi menghadapi persoalan-persoalan tentang keluarga entah itu dengan pasangan, anak, mertua, keluarga besar.
Sebagaimana dituturkan Suryanto, bapak dari satu anak. “Berawal dari ketidaktahuan tentang membangun keluarga, apalagi saat itu umur saya masih kecil. Kini saya berfikir bahwa membangun mental keluarga dan memahami kondisi pasangan serta situasi-situasi yang dihadapi menjadi penting untuk dikomunikasikan. Baik tentang hal yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan.”

Selain itu, peserta juga merasakan ketrampilan berbicara di depan umum yang semakin meningkat. “Awalnya saya nggak bisa ngomong, grogi jika di depan umum. Kini saya bisa mengungkapkan pendapat saya di dalam forum-forum dusun maupun desa”, ungkap Ratini yang juga sebagai fasilitator komunitas kelas Ibu.
Baik laki-laki dan perempuan yang terlibat di program ini merasakan manfaatnya, terutama untuk keluarga. Satu sama lain menjadi saling terbuka, kepercayaan diri semakin meningkat, anak menjadi lebih dekat, mampu mengontrol emosi dan bisa berbagi peran dalam keluarga. Di level komunitas, masyarakat bergerak bersama menjadi fasilitator komunitas melakukan upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.{}

*) Penulis adalah aktivis Rifka Annisa, Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here