Perhimpunan Rahima bersama Tanoker Ledokombo, Komnas Perempuan, Rutgers, LPKP, dan LAKPESDAM menyelenggarakan lokakarya bagi tokoh agama pada tanggal 22 hingga 23 September 2019 lalu. Lokakarya berjudul “Penguatan Tokoh Agama dalam Mewujudkan Desa yang Damai Bebas dari Berbagai Kekerasan terhadap Perempuan Khususnya pada Buruh Migran dan Keluarganya” ini diselenggarakan di Tanoker Ledokombo, Jember, Jawa Timur. Kegiatan ini dihadiri sekitar 120 orang peserta (perempuan maupun laki-laki) yang berasal dari daerah Jawa Timur, seperti Jember, Malang, Bondowoso, Banyuwangi, Pamekasan, Lamongan, Kediri, Jombang, Probolinggo, dan lain-lain. Peserta terdiri dari beragam latar belakang, yakni ulama perempuan yang pernah mengikuti pelatihan Rahima, guru agama, ormas, pengasuh pondok pesantren, maupun mitra-mitra Tanoker.

Kegiatan ini diadakan dengan beberapa tujuan, yakni (1) adanya penguatan pengetahuan bagi ulama perempuan dan tokoh agama dalam upaya membangun desa damai termasuk pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Timur khususnya pekerja migran dan keluarganya; (2) adanya penguatan pengetahuan tokoh agama terkait analisis sosial terhadap berbagai persoalan perempuan dan anak khususnya terkait persoalan perempuan dan buruh migran dan keluarganya dalam mewujudkan desa yang damai; (3) mengidentifikasi permasalahan yang dialami oleh pekerja migran perempuan dan anak-anaknya yang merupakan bentuk ekslusi sosial; (4) menggali gagasan dari para ulama perempuan untuk pemecahan permasalahan esklusi sosial serta upaya mewujudkan inklusi sosial bagi pekerja migran dan keluarganya; (5) penguatan jaringan ulama perempuan di Jawa Timur dalam upaya mengatasi berbagai persoalan perempuan dan anak yang krusial dalam konteks buruh migran dan keluarganya yang ada di lokal dan nasional.

Sebagaimana tema lokakarya mengenai desa damai, Ibu Ciciek Farhah menceritakan tentang pengalamannya dalam membangun Tanoker Ledokombo. Ibu Ciciek menceritakan bahwa Tanoker dibentuk untuk mewujudkan ruang bermain anak yang tidak main-main. Artinya, anak-anak dapat belajar berbagai hal tanpa merasa bosan melalui permainan. Tidak hanya itu, Tanoker juga dibentuk akibat adanya situasi sosial, banyak anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya untuk mencari nafkah keluar kota hingga luar negeri. Akibatnya, anak-anak tersebut banyak yang mengalami masalah termasuk pada obat-obatan terlarang. Melalui Tanoker, setiap minggunya ada ratusan anak desa dapat bimbingan gratis, seperti fotografi, Bahasa Inggris, matematika, bahkan nilai-nilai kehidupan melalui egrang. Menurut penuturan Ibu Ciciek, anak-anak sering diundang mengisi acara di luar daerah, lalu agar tetap lestari, diadakan festival egrang tiap tahunnya.

Ibu Pera Sopariyanti selaku direktur Perhimpunan Rahima juga turut menjelaskan terkait sejarah singkat Rahima, kerja-kerja yang dilakukan, serta fokus isu yang digarap oleh Rahima. Rahima sebagai lembaga yang berfokus pada pendidikan Ulama Perempuan, memilki berbagai materi pendidikan. Beberapa di antaranya adalah sensitivitas gender, kesehatan reproduksi, metodologi kajian Islam yang adil gender dengan melihat tafsir dan hadiis yang bias gender, Istimbatul ahkam dengan fiqih dan asal usul fiqih, HAM dan HAP, hak konstitusional perempuan, analisis gender, globalisasi, dan lain-lain.

Lokakarya ini juga dihadiri oleh Musawah Global Movement, sebuah organisasi berskala global yang berfokus pada kesetaraan dan keadilan pada keluarga muslim. Organisasi ini sudah melakukan banyak mengikuti konferensi, mengumpulkan 250 aktivis perempuan dan laki-laki dari 47 negara. Salah satu fokus Musawah adalah menyebarkan ilmu pengetahuan dan bagaimana Islam dipelajari dengan benar dan menjadi way of life, serta bagaimana mencapai kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Terdapat 12 isu utama yang menjadi fokus musawah, mulai dari pernikahan anak, pembagian warisan, dan sebagainya. Kehadiran Musawah menjadi sangat penting bagi ulama perempuan maupun tokoh agama untuk memperkuat dan menginspirasi gerakan di tingkat lokal sekaligus berbagi pengalaman terkait gerakan muslim di tingkat global.

Melalui kegiatan ini, para ulama perempuan dan tokoh agama mendapatkan pengetahuan sekaligus informasi mengenai musyawarah desa, Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), Rancangan Anggaran pendapatan dan belanja desa (RAPBDes), sertifikat gratis, dan lain-lain. Dalam refleksi para peserta, mereka mengungkapkan bahwa perwujudan desa damai memiliki kendala tersendiri, sebab pemerintah desa belum bekerja secara sinergis dengan masyarakatnya. Tidak hanya itu, mereka juga menjelaskan bahwa program-program yang diajukan oleh kepala desa kurang menyentuh masyarakat desa, seperti RABDes yang tidak menyentuh persoalan sosial yang ada di masyarakat. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa terdapat problem di konteks kesadaran masyarakat dan karena itu, diperlukan peran lembaga tokoh agama terkait penyadaran pendidikan serta peranan dalam sistem yang bottom up. Dalam hal ini, para peserta yang telah berefleksi sekaligus mengidentifikasi permasalahan di desanya diharapkan mampu berperan untuk mengisi ruang/ konteks kesadaran masyarakat guna mewujudkan desa damai.

Selain itu, para peserta juga berefleksi dan berbagi pengamaman terkait persoalan Anak Pekerja Migran (APM) yang ada di desanya masing-masing. Berikut kutipan pengalaman beberapa para peserta dari daerahnya masing-masing.

“Saya baru menyadari kalau APM butuh kasih sayang, di rumah ada 2 anak, sekarang kelas SMA. Ketika saya bertanya mamanya mereka menangis, ternyata kita butuh tahu apa yang mereka butuhkan. Mereka ditinggal mamanya ke Taiwan, ayahnya nikah lagi. 2 anak berprestasi, yang satu pemalu. Ikut sama ayah dan ibu tiri, adiknya ikut neneknya dan lebih aktif dan nggak malu-malu. Dia merasa sangat kangen jadi saat ada yang ngebully tentang ibunya dia merasa sedih, jadi kita lebih hati-hati ya. Lalu ada orang tuanya kerja di Arab Saudi, adiknya masih balita sekaraang jadi anak yang sangat nakal, tidak mau dipondokkan, mungkin karena salah didik ya. Kira-kira apa yang harus dilakukan mengenai hal itu? Lalu kemarin kami sempat mendampingi APM yang menjadi korban pelecehan seksual dan yang melakukan adalah tokoh agamanya, malah mau dikeluarin sekolahnya, padahal yang melakukan ada tokoh, kepercayaan dari ayahnya.” (Sampang, Madura)

“Mengenai buruh migran, sebelum ini tidak terpikir ternyata ada banyak buruh migran di sekitar tempat tinggal saya, di rumah saya disebutnya TKI atau TKW. Belakangan ini, di daerah saya kalau ke luar negeri kan sudah banyak, sekarang banyak yang ke Jakarta dan Kalimantan meninggalkan anaknya. 1 bulan lalu terpikir ada penggerebekan anak muda yang memakai narkoba lokasinya dekat pesantren besar, warganya banyak yang jadi buruh migran. Melihat mas yoga dan video yang diputar kemarin saya merasa tergabung di komunitas tapi kok belum bisa apa-apa. Ketika akan melakukan sesuatu, di Madura saya tidak punya kekuatan di masyarakat, kalau misalkan respek tokohnya kurang jadi kurang bisa berkembang, barangkali saya harus memulai darimana?” (Sumenep)

Dengan berbagi pengalaman di daerahnya masing-masing, para peserta mencoba untuk mendiskusikan hambatan yang dialaminya untuk didiskusikan bersama. Hal ini memperlihatkan bahwa ruang-ruang diskusi bagi para ulama perempuan dan tokoh agama sangat penting untuk diadakan secara simultan agar dapat memperkuat sinergi dan gerakan bersama.

Rahima sebagai CSO yang fokus pada penguatan hak-hak perempuan dalam Islam memandang penting menghadirkan para ulama perempuan di Jawa Timur dalam lokakarya ini. Selain melihat secara langsung perubahan-perubahan yang dilakukan Tanoker, kegiatan ini secara khusus bertujuan untuk memperkuat kapasitas dan skill ulama perempuan dalam merespon berbagai persoalan di komunitas. Melalui penguatan kapasitas dan berdiskusi bersama, ulama perempuan dan tokoh agama diharapkan dapat terinspirasi serta membangun strategi untuk membangun desa damai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here