Hari masih pagi ketika seorang perempuan datang dengan sedikit tergopoh. Ia lalu mengulurkan tangan untuk memperkenalkan nama, setelah itu berbincang dengan salah seorang staf Rahima. Hari itu Rahima sedang ada gawe di salah satu pesantren terbesar di Banyuwangi Selatan, dan perempuan itu dengan tangan takdir Tuhan dijadikan bagian dari keluarga Rahima. Ia menjadi tangan lain Rahima untuk mbauhurekso pada progam penguatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi (PKRS)  untuk komunitas muslim di wilayah Banyuwangi. Kejadian itu berlangsung hampir tiga tahun yang lalu, tepatnya pada awal tahun 2012.

Nama perempuan itu Zulfi Zumala Dwi Andriani (29 tahun). Ia merupakan salah satu keturunan dari trah kyai masyhur yang menghidupkan denyut dukuh Blok Agung, Tegalsari, Banyuwangi, Kyai Syafa’at. Ning Zulfi, begitu ia biasa disapa adalah anak kedua yang terlahir dari rahim Nyai Masruroh, putri ke-5 Kyai Syafa’at yang menikah dengan Kyai Mudhafar. Bersama suaminya, Nyai Masruroh mendapatkan amanah mengasuh santri putri Darussalam bagian utara yang jumlahnya tak kurang dari 2000-an santri.

Menginjak masa remaja, Ning Zulfi ngangsu ilmu di Gresik, pada sebuah pesantren salaf. Di Pesantren itu juga ia menamatkan pendidikan menengah atasnya di Mamba’us Sholihin, sedang pendidikan pertamanya ia tamatkan di Darus Salam, Blok Agung. Pada tahun 2008 , Ning Zulfi berhasil mempertahankan tesisnya yang berjudul “The Impact Of 9//11 Event On The life Of American Muslims As Depicted In Laila Halaby`s Once In A Promised Land”, setalah sebelumnya menyelesaikan pendidikan strata satu di UIN Malang dengan mengambil jurusan Sastra Inggris.

Ning Zulfi menghabiskan hari-harinya untuk belajar, mengajar dan belajar lagi. Selain mengampu mata kuliah Bahasa Inggris untuk perguruan tinggi yang ada di naungan pesantren Darus Salam, ia juga menjadi juru daras untuk santri-santri diniyah memahami kitab-kitab klasik. Sembari berkelakar ia berujar “Saya dipaksa Abah untuk mengajar kitab-kitab klasik untuk santri-santri”. Mengajar kitab klasik adalah sebuah tantangan yang diberikan Abahnya agar ia terus belajar bukan hanya pada kitab-kitab putih saja. “Karena tantangan mengajar kitab klasik itulah saya menjadi terpacu untuk membaca kitab-kitab fikih dengan perspektif kesetaraan, bukan hanya sebatas penentu hukum”, lanjutnya. Ikhtiar untuk mempromosikan isu kemanusiaan, kesetaraan dan kesehatan reproduksi dilakukan perempuan beranak dua itu pada setiap kesempatan. Pada teks-teks wajib mahasiswa yang diajarnya sengaja ia pilih teks-teks yang mengundang diskusi, disitulah ruang bagi Ning Zulfi untuk bisa menyebarkan Islam yang ramah pada siapapun, termasuk perempuan. Ia juga sering diundang oleh instansi pemerintah Banyuwangi untuk berbicara tentang potret kesehatan reproduksi remaja (pesantren) dan bagaimana Islam memandangnya.

 

Menolak Bayang-bayang

Terlahir dari lingkungan pesantren  dan meyandang nama besarnya, membuat Ning Zulfi tak tahu siapa sebenarnya dirinya. Ada banyak bayang-bayang yang mengikutinya, nama besar simbah beserta Abah dan ibunya tak mungkin tak melekat pada dirinya. Tapi ia emoh untuk nunut tenar disana, ia memilih pergi belajar ke  Gresik untuk bisa menemukan siapa sebenarnya dirinya, seberapa besar kemampuannya. Pun ia tak mau menjadi bayang-bayang kakak perempuannya yang sedari kecil sudah menonjol. Ning Zulfi menempuh jalannya sendiri, mencoba menemukan dirinya yang otentik pada sebuah perjalanan yang bernama proses.

Di suatu sore saat sedang bersama-sama mengikuti sebuah halaqah untuk para guru, Ning Zulfi berkata pada saya “Saya seolah terlahir kembali setelah mengenal Rahima”. Saya selalu gembira mendengar kata kelahiran, karena itu berarti sebuah kebaharuan, dimana masing-masing kebaharuan itu bisa diisi dengan segala kebaikan. Ning Zulfi seolah menemukan siapa dirinya, dan menegaskan bahwa dirinya bukanlah sekedar bayang-bayang dari nama besar keluarganya. Ia adalah pribadi yang otentik, yang orisinil. Yang melakukan perbuatan atas nama dirinya sendiri, bukan lantaran menempel pada nama besar keluarga yang disandangnya. Singkatnya, ia berhasil memotret dirinya yang terlepas dari bayang-bayang.

Dalam progam PKRS di komunitas muslim wilayah Banyuwangi, Ning Zulfi berperan sebagai staf lokal. Seseorang yang berperan aktif dalam mengorganisir pesantren penerima manfaat dan juga pemangku kebijakan untuk turut serta secara aktif terselenggaranya hak remaja dalam mendapatkan pendidikan, informasi dan layanan terkait kesehatan reproduksi. Sekarang, ia semakin intens mengisi ruang-ruang kosong atau ruang yang memang sengaja disediakan baginya untuk berbagi ilmu tentang pentingnya kesehatan reproduksi remaja.

 

Bekerja Untuk Keabadian

Bila selama ini orang selalu menyebut di belakang laki-laki hebat ada perempuan luar biasa, mungkin kiranya bisa sedikit kita pilih diksi yang menenangkan semua, yaitu “bersama” dan bukan di “belakang”. Bahwa bersama laki-laki hebat ada perempuan yang luar biasa. Laki-laki hebat yang bersama Ning Zulfi adalah sang suami yang bernamaMuhammad Alaika, mereka tumbuh untuk saling menguatkan. Tidak ada yang posisinya di belakang hanya untuk sekedar pelengkap, keduanya bersama-sama menghebatkan satu sama lainnya. Mereka berdua diberi amanah Tuhan untuk mengasuh dan membesarkan Ahmad Risyad Arraihan (4 tahun) dan Sabrina Kulla Azmina (3 bulan), kedua putra mereka.

Sekarang, bersama dengan suaminya, Ning Zulfi mengelola sebuah perpustakaan komunitas. Harapannya adalah meski berada jauh di pelosok akan tetapi wawasannya harus menjelajah dunia. Mungkin juga Ning Zulfi mengamini kata Pramoedya Ananta Toer yang sastrawan itu “Orang boleh pintar setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” dan membaca adalah salah satu jalan untuk keabadian itu; menulis.{} Nurkhayati Aida

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here