Oleh: Rika Iiffati Farihah

Pada bagian kesimpulan tulisannya yang berju–dul “Pokok-Pokok Ceramah Pengertian Antar Mazahib dan Toleransinya” di majalah Gema Islam (1962), Khoiriyah  Hasyim menulis: “tasamuh hanya  dapat tercipta dengan kepenuhan ilmu.”

Keyakinan bahwa ilmu adalah kunci  kehidupan damai penuh toleransi (tasamuh) terefleksikan dengan jelas pada perjalanan hidup anak kedua K.H. Hasyim Asyari ini. Bisa dibilang sepanjang hayatnya, Khoiriyah Hasyim mengabdikan diri untuk pendidikan, terutama pendidikan untuk kaumnya, yakni sesama perempuan. Khoiriyah Hasyim pernah mendirikan dan menjalankan sebuah sekolah untuk perempuan yang pertama di Makkah. Di tanah air, beliau memimpin madrasah dan pondok pesantren yang  lebih banyak menerima santri putri, sembari tetap aktif berorganisasi. Khairiyah Hasyim tercatat pernah menjadi ketua Fatayat NU (1958-1962) dan anggota Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1960-an).

Perempuan hebat ini lahir pada 1906 di Jombang. Sebagaimana perempuan-perempuan luar biasa yang seolah mendahului zaman seperti Kartini, Khoiriyah Hasyim beruntung terlahir dalam keluarga berada dan terdidik. Pendidikan bukan hal yang lazim diterima perempuan pada masa itu. Sejak kecil dia mendapat gemblengan langsung dari ayahanda, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari. Potensi keilmuannya juga semakin terasah karena selalu dikelilingi oleh orang-orang berilmu. Suami pertamanya, KH. Maksum Ali adalah penulis kitab sharafAmtsilat At-Tashrifiyyah” yang legendaris, sementara suami keduanya, KH. Muhaimin Lasem merupakan ulama Indonesia yang tinggal dan mengajar di Makkah.

Tak mengherankan Khoiriyah menjadi  sosok perempuan dengan keilmuan mumpuni. Dengan bekal keilmuannya, beliau dapat ikut menghadiri dan berpendapat dalam bahtsul masail yang biasanya didominasi laki-laki. Di lain kesempatan beliau juga dengan percaya diri menolak mengajarkan kitab “Uqud Al-Lujain”. Kitab yang membahas tentang hubungan suami istri dan hak kewajiban perempuan ini, menurut Khairiyah berat sebelah karena ditulis oleh seorang lelaki. Dia berpendapat seharusnya ada kitab semacam ini yang ditulis oleh perempuan.

Tinjauan keagamaan dari sudut pandang perempuan memang hal langka di zaman itu. Salah satu sebabnya adalah karena perempuan tak banyak mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Hal ini dipahami betul oleh Khoiriyah. Oleh karena itu, saat  tinggal di Makkah, Khoiriyah Hasyim berinisiatif mendirikan sekolah untuk anak perempuan. Dia tak tega melihat anak-anak perempuan di sana yang tidak bisa bersekolah. Madrasah Kuttabul Banat yang didirikannya adalah sekolah pertama bagi perempuan di Makkah. Awalnya, pendirian madrasah untuk anak perempuan ini mendapat banyak tentangan, terutama dari pihak-pihak yang berpandangan bahwa perempuan tak layak memperoleh pendidikan. Untunglah, Khoiriyah Hasyim bukan pribadi yang mudah gentar atau gampang menyerah. Madrasah tersebut berhasil terus bertahan selama Khoiriyah tinggal di sana. Namun sepeninggal sang suami, pada 1952 Khoiriyah memutuskan pulang ke Indonesia, memenuhi permintaan Soekarno, Presiden Indonesia saat itu.

Setiba di tanah air, Khoriyah kembali memimpin Pondok dan Madrasah Seblak yang selama beliau di Makkah dikelola oleh sang putri sulung, Abidah dan suaminya. Ketika kesehatannya memburuk di awal 1970-an, putri keduanya, Jamilah, yang awalnya tinggal di Singosari Malang, datang untuk membantu.

Kedua pondok pesantren,  baik  Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak yang dikelola putra-putri Jamilah maupun Pondok Pesantren Salafiyah al-Machfudz yang dikelola putra-putri Abidah masih lebih banyak menerima santri putri hingga sekarang, meneruskan kepedulian mengenai pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan. Lembaga-lembaga tersebut juga meneruskan tradisi kepemimpinan perempuan yang telah dimulai sejak zaman Khoiriyah Hasyim. Para perempuan di kedua pondok pesantren tersebut tidak hanya berkiprah di balik layar atau mengurusi hal-hal terkait domestik saja. Direktur Madrasah di Yayasan Khoiriyah Hasyim adalah seorang perempuan, Nur Laili Rahmah. Pengasuh pondoknya juga seorang perempuan, Mahshunah Faruq. Cucu Khairiyah yang lain, Lily Zakiyah Munir mendirikan Cepdes (Centre for Pesantren and Democracy Studies).

Sepertinya inilah salah satu warisan terbesar Khoiriyah Hasyim: memberi teladan bagi generasi selanjutnya, menginspirasi para perempuan di kedua pondok pesantren ini bahwa dengan berbekal ilmu, siapa saja, baik lelaki maupun perempuan layak untuk ikut berkontribusi di ranah publik.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here