Oleh: Wa Ode Zainab ZT

Abdul Sattar Edhi tak hanya kebanggaan Pakistan, tapi juga dunia Islam. Pendiri Edhi Foundation tersebut telah mengejawantahkan nilai-nilai Islam; Islam rahmatan lil ‘alamin. Ini tercermin pada kerja kemanusiaan yang dilakukannya hampir sepanjang hayatnya. Ia wafat pada Juli 2016 silam, tapi bagi masyarakat Pakistan, nama ‘Sattar Edhi’ tetap terpatri dalam hati.

Pelayanannya terhadap kemanusiaan menembus sekat-sekat ras, suku, dan agama. Dalam sebuah wawancara, Edhi mengatakan: “Agama saya ialah mengabdi kepada kemanusiaan dan saya percaya bahwa semua agama di dunia punya dasar-dasar kemanusiaan… Agama harus terpancar dari jiwamu… Bukalah hatimu dan lihatlah para hamba Tuhan ini. Dalam penderitaan mereka, kamu akan menemukan-Nya.”

Rakyat memberinya gelar ‘Malaikat Belas-Kasih’ dan ‘Bapak Kaum Miskin Pakistan’, sedangkan penghuni ‘Edhi Homes’ memanggilnya dengan ‘Nana’(kakek). The Huffington Post menyebutnya sebagai ‘tokoh kemanusiaan terbesar dunia’. Bahkan kematiannya pun diiringi dengan upacara kenegaraan. Nawaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan mengungkapkan, “Edhi permata sejati dan aset Pakistan. Kami kehilangan pelayan kemanusiaan yang luar biasa. Dia manifestasi cinta kepada orang-orang yang lemah, miskin, dan tertindas.”

Meskipun Edhi memiliki latar belakang Islam tradisional, ia memiliki pikiran yang terbuka, moderat, dan progresif. Ia sangat mendukung gagasan perempuan bekerja. Di Edhi Foundation sekitar 500 pekerja adalah perempuan yang bertanggung jawab atas beberapa program dan penggalan dana, bahkan sebagai pemimpin beberapa pusat layanan.

Berkat pelayanan kemanusiaannya, Edhi telah menerima sekitar 250 penghargaan dari dalam dan luar negeri, antara lain Gandhi Peace Award, Madanjeet Singh Prize dari UNESCO tahun 2007, London Peace Award tahun 2011, Seoul Peace Award tahun 2008, dan Hamdan Award for Volunteers in Humanitarian Medical Service. Meskipun banyak yang mengusulkan Nobel Perdamaian baginya, namun hingga akhir hayat ia belum mendapatkannya.

 

Berbuat Sesuatu, Bahkan Saat Tak Memiliki Apapun

Edhi lahir pada tahun 1928 di sebuah desa kecil Bantva, Gujarat (India). Ketika Edhi berusia 11 tahun, ibunya lumpuh dan sakit mental. Edhi ‘muda’ mengabdikan dirinya untuk mengurus semua kebutuhan ibunya; mandi, berganti pakaian, dan memberi makan. Sang ibunda meninggal dunia ketika Edhi berusia 19 tahun. Jalan hidupnya berbeda dengan anak seusianya. Ia pun tidak bisa menyelesaikan pendidikan tingkat SMA-nya. Baginya, penderitaan hidup ialah guru dan sumber kebijaksanaannya.

Edhi dan keluarganya bermigrasi ke Pakistan pada tahun 1947, tepatnya di Karachi. Saat ia datang, kondisi Pakistan paska memisahkan diri dari India sangat memprihatinkan. Di negara Islam itu terdapat konflik komunal yang menimbulkan kekerasan, bahkan penghapusan etnis. Pada awal kepindahannya, Edhi bekerja sebagai seorang buruh pasar dan hidup di jalanan Karachi. Ia miskin, tak memiliki apapun. Namun Edhi memiliki visi besar, berbuat bagi kemanusiaan, terutama bagi rakyat Pakistan.

Menurut Edhi, demokrasi yang digaungkan, termasuk di negerinya, hanya tampak sempurna di atas kertas belaka, tapi penerapannya tidak. Hal itu tercermin masih adanya kesenjangan antara orang miskin dan orang kaya, sehingga kriminalitas merajalela. Ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk membantu masyarakat sekitarnya, ini diungkapkan dalam sebuah wawancara oleh Vice. Edhi dan beberapa anggota komunitasnya mendirikan apotek dan klinik gratis. Pada awalnya gerakan amal ini dinamakan “Edhi Trust”. Gerakannya semakin berkembang dengan sumbangan dana dari publik, akhirnya mereka dapat mendirikan rumah bersalin dan layanan ambulans darurat.

Edhi menikah pada tahun 1965 dengan Bilquis, seorang perawat yang bekerja di apotek Edhi. Pasangan itu memiliki empat anak, dua putri dan dua putra. Edhi dan istrinya mendirikan klinik bagi orang miskin, serta mendirikan penampungan bagi anak yatim piatu. Mereka memandang kesehatan publik di Pakistan masih kurang memadai, sektor inilah yang menjadi perhatian utama mereka.

Saat Edhi Foundation berkembang pesat, ia tetap menyatakan bahwa dirinya ‘faqir’, “Faqir dihadapan Tuhan-Nya”. Isterinya, yang sejak awal mendukung perjuangannya, menyatakan bahwa ia tak pernah sekali pun memikirkan dirinya. Edhi tak pernah membeli rumah untuk diri dan keluarganya. Namun, ia mendirikan setidaknya 375 center atau rumah singgah bagi orang miskin. Di rumah tersebut menerima perempuan sebanyak 8 dari 10 orang setiap harinya. Mayoritas perempuan yang datang diperlakukan seperti budak dalam keluarga dan lingkungannya. Mereka datang dengan membawa anak-anaknya untuk belajar di Lembaga Edhy karena tidak memperoleh penghidupan yang layak, serta tak memiliki biaya untuk sekolah.

Edhi tak mau terikat dengan dunia, ia mengungkapkan dalam sebuah wawancara untuk Think Twice Pakistan: “Saya memilih hidup dengan kesederhanaan. Cukuplah baju dan sepatu sederhana karena saya ingin fokus pada kemanusiaan…Sayangnya, banyak orang berpendidikan, tapi mereka belum menjadi manusia… Kita harus menjadi manusia, bekerja untuk kemanusiaan.”

Edhi Foundation memiliki berbagai program pelayanan kemanusian, yaitu pelayanan ambulans, rumah sakit, pelayanan anak-anak, pusat dan rumah anak yatim-piatu, layanan saluran bantuan, pelayanan pendidikan, jasa pemakaman, pelayanan orang hilang, bantuan pengungsi, layanan biro pernikahan, layanan dapur gratis, toko amal, hostel hewan, pusat rehabilitasi, pusat kesejahteraan, toko roti, dapur, tanaman rooti, workshop, rumah mayat, dan layanan qurban online.

Edhi Foundation berperan dalam menyelamatkan hidup ribuan bayi yang baru lahir dengan menempatkan pengasuhan, membina bayi, dan anak-anak terlantar, merawat orang cacat, merawat dan memberi makan perempuan dan orang tua yang menjadi sasaran penyiksaan atau diabaikan oleh keluarga mereka, mendukung pasien yang sakit dengan menyediakan obat-obatan gratis dan obat-obatan melalui apotek keliling, rumah sakit, dan pusat diabetes di Karachi.

 

Kesehatan yang Terabaikan, Jiwa Manusia yang Sakit

Edhi tidak mengi­nginkan adanya diskriminasi antara orang kaya dan miskin dalam akses kesehatan. Hal inilah yang mendorongnya untuk mendirikan pusat pengobatan gratis, serta memusatkan perhatian pada pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Dalam mengelola Edhi Foundation, ia tak pernah meminta bantuan politisi dan pemerintah, melainkan dari dirinya dan bantuan sukarela masyarakat.

Berkat ketulusan dan dedikasinya, Edhi Foundation tercatat sebagai Yayasan/lembaga amal dan sukarelawan terbesar di Pakistan, bahkan di dunia. Yayasan ini mempunyai sekitar 1.800 ambulans yang siap melayani masyarakat miskin selama 24 jam gratis tanpa melihat ras dan agama. Selama bertahun-tahun, selalu saja ada orang yang bertanya kepadanya “Kenapa ambulans-ambulansmu dipakai untuk membawa orang-orang Kristen dan Hindu?” Ia pun selalu menjawab: “Karena ambulan-ambulan ini lebih Islami daripada kalian”.

Layanan ambulan darat telah memiliki armada ambulan terbesar di dunia. Selain itu, terdapat layanan ambulan udara yang memiliki 2 pesawat terbang dan 1 helikopter untuk memberikan bantuan selama bencana alam. Kemudian ada layanan ambulan laut yang memiliki 28 kapal penyelamat untuk menyediakan bantuan dan mencari orang-orang dari daerah yang terkena banjir serta memulihkan orang-orang yang tenggelam di sisi pantai lautan Arab, dan sebagainya.

Ada juga layanan kamar mayat, yakni ruangan untuk menyimpan peti mati. Misalnya bagi mayat-mayat yang tidak dapat diidentifikasi, yang telah meninggal karena kecelakaan, ledakan bom, penembakan, dan lain-lain. Edhi Foundation juga memiliki pemakaman untuk mengubur mayat, setidaknya terdapat 96.000 mayat yang telah dikubur di pemakaman ini.

Selain ambulan, di bidang kesehatan, Edhi Foundation juga mendirikan rumah sakit yang di dalamnya terdapat klinik konsultasi gratis, laboratorium, pusat pre-diabetic, pusat pelatihan keperawatan, pusat imunisasi, dan layanan utilitas pasien. Yayasan ini juga telah menyelamatkan lebih dari 20.000 bayi dan balita yang ditinggal orang tuanya, mengasuh lebih dari 50.000 anak yatim-piatu, serta melatih lebih dari 40.000 tenaga medis untuk menjadi relawan kemanusiaan.

Edhi Foundation juga memiliki sekitar 330 ‘pusat-pusat kesejahteraan’ di desa dan kota yang bisa digunakan sebagai dapur, klinik, rumah rehabilitasi, tempat pengungsian, dan sebagainya semua gratis untuk fakir-miskin. Kecintaannya terhadap kerja kemanusiaan tercermin dalam kesehariannya.

Dalam sebuah wawancara yang diberikan kepada seorang jurnalis di Lahore pada tahun 1991, Edhi berkata, “Saya meminta orang-orang untuk tidak mengundang saya kepertemuan sosial dan upacara pelantikan. Ini hanya membuang waktu saya yang sepenuhnya dikhususkan untuk kesejahteraan rakyat kita.” Pada kesempatan lain, Edhi mengungkapkan, “Setiap hari ia merasa menghadapi kematian, tapi hidup tetap berjalan saya harus melakukan kebaikan….kalian akan menemukan saya di tengah orang-orang biasa, cerita saya di sana bersama mereka.”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here