Foto: Reuters.com

Selandia Baru atau New Zealand adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di Barat Daya Samudera Pasifik  atau yang sering disebut dengan kawasan Oceania. Ia memiliki luas sebesar 268.838 km2 dengan jumlah penduduk (berdasarkan estimasi Juli 2018) sebanyak 4.545.627 jiwa.  Beribukotakan Wellington, negara ini memiliki bentuk pemerintahan Monarki Konstitusional, dan mengakui  Ratu Elizabeth II (Ratu Britania Raya) sebagai kepala negaranya, yang di wilayah ini diwakili oleh Gubernur Jenderal Dame Patricia Lee Reddy (sejak 28 September 2016). Sementara sejak 26 Oktober 2017 Kepala Pemerintahan dipimpin oleh Jacinda Ardern,  perempuan termuda yang  pernah menjabat  sebagai  Perdana Menteri setelah 150 tahun negara ini terbentuk.

Pada 2017 Bank Dunia atau The World  Bank  menempatkan  negara ini  sebagai negara terkaya di urutan ke-22 di dunia berdasarkan  jumlah  pendapatan per kapita  atau GDP-nya ya­itu US$ 41.824. Sementara World Happiness Report telah menobatkan Selandia Baru sebagai negara paling berbahagia di dunia pada urutan ke-8 di tahun 2019.  Sedangkan Institute for Economics and Peace dalam rilisnya, Global Peace Index 2018, memasukkan Selandia Baru sebagai negara paling damai kedua di dunia. Oleh peneliti Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari dalam “How Islamic are Islamic Countries?” dalam Global Economy Journal 2010, Selandia Baru  ditempatkan pada posisi pertama negara paling Islami di dunia dari 208 negara. Sebutan negara Islami ini tidak hanya  berpatokan pada nilai-nilai moral sebagai indikatornya, melainkan pada nilai-nilai budaya yang mencerminkan keadilan, saling menghormati, saling ber­bagi, dan kebebasan, termasuk di dalamnya kebebasan beragama itu sendiri. Penegakan hukum, pemenuhan hak-hak warga negara atas dasar keadilan sosial, dan anti korupsi juga merupakan indikator sebuah negara dikatakan Islami.

 

Tragedi Penembakan dan Kedamaian Yang Sempat Terkoyak

Namun predikat sebagai negara yang paling damai tersebut sempat terusik dengan kejadian aksi teror berupa penembakan brutal terjadi 15 Maret 2019 di Masjid Al-Noor dan Linwood di pusat Kota Christchurch, Selandia Baru. Teror ini telah menewaskan setidaknya 50 orang, termasuk seorang warga Indonesia, dan puluhan lainnya terluka. Kejadian teror itu mendapat kecaman dari banyak pihak, dan menorehkan catatan kelam dalam kehidupan sosial  di Selandia Baru. Adalah Brentont Tarrant, seorang lelaki 28 tahun berkebangsaan Australia yang menyebut dirinya sebagai penganut supremasi kulit putih, yang telah secara membabi buta melepaskan tembakannya yang mengarah pada jamaah Muslim yang sedang beribadah shalat Jumat di kedua masjid tersebut. Tak puas dengan itu, ia mengunggah aksinya dalam video di laman media sosial Facebook.

Kejadian ini tentu disayangkan dan menuai kecaman dari berbagai pihak, mengingat Selandia Baru adalah sebuah negara multikultural yang penduduk aslinya masyarakat asli Kiwi yakni suku Maori bertahun-tahun hidup berdampingan dengan para imigran dari berbagai belahan dunia. Kristen adalah aga­ma dominan di Selandia Baru, meskipun hampir 40 persen populasinya tidak memiliki agama. Menurut hasil sensus, agama minoritas lain adalah Hindu, Budha, dan Islam.

Kelompok Muslim mulai hadir di Selandia Baru sejak abad ke-19. Peter Lineham dari Massey University dalam tulisannya “Islam in New Zealand: Historical Demography” mengatakan umat Muslim sudah ada di Selandia Baru pada 1855.  Islam berkembang pesat di Selandia baru dan data terakhir jumlah Muslim di Selandia Baru menurut sensus 2013 mencapai 46.149 jiwa atau naik 28 persen dari 36.072 pada sensus 2006. Menurut The Journal of Muslim Minority Affairs, Muslim Selandia Baru diprediksi bakal mencapai 100.000 jiwa pada tahun 2030. Perasaan insecure  atas  pertumbuhan yang luar biasa inilah yang mungkin dirasakan sebagai ancaman oleh pelaku di samping perasaan kebencian yang ada di hatinya.

Namun tindakan kekerasan yang dilakukannya tentu tak bisa dibenarkan. PM  Jacinda Ardern sendiri telah mengucapkan belasungkawa kepada masyarakat muslim yang menjadi korban, bahkan turut menge­nakan kerudung (penutup kepala) sebagai tanda solidaritas yang diikuti oleh perempuan-perempuan lintas agama di sana. Di hadapan anggota parlemen Selandia Baru, PM Ardern berkata, “Saya mohon, ucapkan nama-nama mereka yang meninggal ketimbang nama pelakunya.  Dia adalah teroris. Dia adalah pelaku kriminal. Dia adalah ekstremis. Tetapi ketika menyangkut diri­nya, ketika harus menyebutnya, dia akan menjadi seseorang tanpa nama.”

 

Kembali Merajut Damai dan Kepemimpinan Feminis PM Jacinda 

Untuk memulihkan ne­geri ini dari lukanya, Jacinda tak segan mengungkapkan empa­tinya dengan turut mengenakan kerudung, mengucapkan  Assalamu’alaikum dan menyatakan bela sungkawa, memeluk serta turut menenangkan keluarga korban. Ia juga menyegerakan proses pemakaman keluarga korban deng­an mendatangkan relawan dari luar negeri maupun menyediakan layanan imigrasi bagi anggota keluarga korban yang berada di luar negeri  yang ingin menghadi­ri pemakaman anggota keluarga mereka. Namun, jauh lebih penting dari itu, ia segera merevisi kebijakan tentang kepemilikan senjata api di Selandia Baru. Sebab, selama ini akses kepemilikan senjata api seperti AR-16 yang digunakan oleh pelaku begitu mudah di sana.

Jacinda tentu tak akan membiarkan luka dalam merusak kehidupan warga negeri Kiwi nan damai ini. Tindakan tegasnya untuk memperketat pemilikan senjata api dan empati serta toleransinya yang besar terhadap masyarakat muslim, menjadi suri tauladan bagi masyarakat antar agama di Selandia Baru untuk turut menjaga masjid saat saudara sebangsanya ini tengah beribadah agar mereka merasa aman. Semua yang dilakukan Jacinda, mencerminkan nilai-nilai kepemimpinan feminis yang berperspektif kesetaraan, keadilan, dan nir kekerasan.

Rekam jejak kepemimpinan seorang Jacinda yang luar biasa ini sebenarnya telah ditunjukkan dari perjalanan karir dan kehidupan kesehariannya. Politikus Partai Buruh Selandia baru dengan nama lengkap Jacinda Kate Laurell Ardern, lahir pada 26 Juli 1980 ini adalah Perdana Menteri perempuan termuda. Alumnus  jurusan komunikasi politik di Universitas Waikato pada tahun 1999 ini mengawali karirnya sebagai staf Perdana Menteri yang menjabat saat itu, Helen Clark,  perempuan kedua yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Selandia Baru.  Jacinda  terpilih sebagai Perdana Menteri perempuan ketiga setelah Jenny Shipley (1997-1999) dan Helen Clark (1999-2008).

Jacinda merupakan pemimpin dunia pertama yang membawa bayinya menghadiri Sidang Umum PBB. Ia adalah perdana menteri termuda di negaranya dan yang pertama mengambil cuti hamil saat menjabat.  Bayi  Jacinda  yang bernama Neve Te Aroha  ini lahir di Rumah Sakit Auckland pada 21 Juni 2018. Setelah cutinya usai, Jacinda Ardern kembali bekerja dan terus menyusui putrinya. Neve harus bepergian dengan ibunya, termasuk selama sidang umum PBB. Bersama dengan pasangannya, Clarke Gayford, yang juga sekaligus penjaga utama Neve. Mereka berdua saling membantu untuk mengasuh putri mereka. Rupanya, cinta kasih yang besar yang senantiasa dimiliki Jacinda ini,  menjadi modal utamanya untuk membangun negeri  Kiwi ini agar damai senantiasa. Kia kaha! [AD Kusumaningtyas]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here