Tidak banyak sejarawan dan masyarakat yang mengenal tokoh sufi perempuan ini. Kisah perjalanan hidup Dyah Roso Wulan dalam menjalani laku tasawuf dan menyebarkan Islam tertuang dalam naskah Babat Gedhongan (BG). Naskah ini menceritakan petualangan Dyah Roso Wulan dan Syekh Wali Lanang , teks tersebut juga menguraikan tasawuf martabat tujuh, hingga penjelasan tentang gambaran kehidupan di alam kubur. Taufiq Hakim pernah melakukan penelitian terhadap naskah ini dan menuliskan hasil penelitiannya yang dimuat di jurnal Jumantara Volume 8 Nomor 2 Tahun 2017.

Disebutkan, Dyah Roso Wulan merupakan adik Kandung Raden Sahid, Sunan Kalijaga, putri Adipati Tuban, Wilwatikto. Dia melarikan diri meninggalkan istana kadipaten karena menolak dijodohkan dengan anak adipati Doho. Dyah Roso melakukan pengembaran fisik dan spiritual, menjalani riyadloh (laku batin) sehingga bertemu dengan Syekh Wali Lanang. Sejak saat itulah Dyah Roso terlibat secara intens dalam penyebaran Islam yang dilakukan oleh Syekh Wali Lanang.

Naskah BG merupakan naskah koleksi pribadi. Menurut keterangan yang terdapat di awal teks naskah, BG digubah pada hari Kamis, tanggal 5 Sapar tahun 1845 M, oleh seorang pujangga yang menggunakan sandi. Peneliti belum berhasil menemukan nama penggubah maupun penulis naskah.

Secara implisit naskah tersebut menjelaskan peran Dyah Roso dalam penyebaran tasawwuf di wilayah Jawa Tengah khususnya di kawan Tunggak, Tarub (sekarang berada di wilayah Purwodadi). Dalam naskah BG II: 12-16 disebutkan  Dyah Roso menyebarkan langsung ajaran tasawwuf kepada para tokoh masyarakat Tunggak.

“Diceritakan Dyah Roso Wulan duduk bersama orang Tunggak di sebuah halaman. Sesepuh Tunggak, Karta Ngayun, bertanya ikhwal hakikat hidup kepada Roso Wulan. Dijawablah dengan disertai senyum oleh Roso Wulan, bahwa hidup yang abadi yaitu sudah tidak dirasakan lapar, ngantuk, kelelahan, dan selamanya seperti demikian. Roso Wulan mencontohkan hewan yang mengalami sakit dan kelaparan semasa hidup. Kata Roso Wulan, dalam hidup pastilah mengalami sakit dan mati, ngantuk, lapar, dan susah. Berbeda ketika hidup di jaman nanti, tidak akan ngantuk, lapar, sakit, dan tidak mati. Mendengar penjelasan Roso Wulan, Karta Ngayun merasa gembira. Seperti mendapat gunung perasaannya karena ia telah diberi tahu tentang hal gaib” (Taufiq Hakim, 2017; 146-147).

Setelah itu dipaparkan peran penting Dyah roso dalam dalam mendukung aktivitas pengajaran tasawwuf yang dilakukan oleh oleh Syekh Wali Lanang. Ini bisa dilihat dalam BG I: 16-29 yang menarasikan pertemuan Syekh Wali Lanang dan Dyah Roso Wulan yang dramatik dan mistik. Yaitu saat Dyah Roso sedang bertapa di dalam Goa di Hutan Tarub. Pertemuan itu terjadi pada hari Sabtu tahun 1481, berbarengan dengan Gunung Merapi dan Kelud yang meletus, serta gerhana matahari (Taufiq Hakim; 147-148).

Posisi sosial Dyah Roso sebagai anak Adipati dan kemampuan olah batin dan laku spiritual menempatkannya sebagai perempuan hebat baik secara sosial maupun spiritual. Karena itulah, Dyah Roso memiliki peran penting bagi perjalanan hidup Syekh Wali Lanang  dalam menyebarkan Islam melalui ajaran tasawwuf. Karena kedalaman laku spiritual melalui tasawwuf inilah maka diyakini dialah yang akan melahirkan raja-raja Jawa.

*Rangkaian tulisan ini merupakan serial Wali Perempuan Indonesia yang ditulis oleh Ngatawi El-Zastrow dan telah dipublikasi di https://fin.unusia.ac.id/. Menurut penulis, karena data-datanya yang secara akademik belum teruji kesahihannya, maka tulisan ini dimaksudkan sebagai pintu masuk untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “wali” perempuan penyebar Islam di Nusantara dengan penggalian data-data yang lebih valid dan ilmiah. Dengan kata lain, tulisan ini hanya merupakan rangsangan bagi para peneliti dan akademisi untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “wali” perempuan di Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here