Ia adalah putri seorang Kiai Ageng Derpoyudhi, seorang kiai terkemuka dari Majangjati Sragen. Kiai Ageng Derpoyudho sendiri adalah putra dari Kiai Ageng Datuk Sulaiman atau sering akrab disebut Kiai Sulaiman Bekel. Kealimannya juga tak lepas dari darah yang mengalir dari silsilah keturunannya. Silsilahnya sampai pada Sultan Abdul Kahir I, Sultan Bima yang bertakhta di Sumbawa pada 1621-1640.

Peter Carey (2016) menyebutnya sebagai sosok perempuan Tangguh; ia mendampingi suaminya, Sultan Hamengkubuwono I, dalam Perang Giyanti (1746-1755). Setelah Perjanjian Giyanti, dia bersama sang suami membentuk Kesultanan Yogyakarta, melahirkan pewaris takhta Sultan. Nyi Ageng Ratu bukan saja sebagai perempuan istri raja yang lemah lembut, dia adalah perempuan perkasa. Ini terlihat dari posisinya sebagai panglima pasukan kawal istimewa perempuan kerajaan yang merupakan satu-satunya barisan pasukan militer Keraton Yogya.

Selain itu dia adalah sosok perempuan yang agamis dengan kemampuan spiritual yang tinggi. Ia dikenal sebagai salah satu ulama perempuan di Jawa yang disegani karena ilmunya dan kemampuan spiritualitasnya. Sebagai seorang ulama, kegemarannya ialah membaca kitab-kitab agama. Ia juga merupakan seorang penganut tarekat Syattariyah. Dia belajar tasawwuf dan ilmu agama dari orang tua dan kakeknya yang juga seorang ulama dan mursyid tarekat.

Sikap Zuhud Nyi Raru Ageng terlihat dari keberaniannya meninggalkan hingar bingar dunia istana ketika terjadi konflik dengan anaknya, Sundoro (kelak HB II) yang dianggap telah menyepelekan tatanan dan ajaran Islam. Ia kemudian memilih menyingkir dan tinggal di Tegalrejo, sebuah desa yang terletak di tenggara Keraton. Karena itulah Nyi Ratu Ageng kemudian dikenal dengan sebutan Nyai Ageng Tegalrejo Di Tegalrejo. Nyai Ageng Tegalrejo giat bertani tanpa meninggalkan ibadah. Tidak hanya itu, dari padepokan Tegalrejo ini, dia membangun kekuatan untuk menyebarkan dan mengajarkan Islam serta melakukan perlawanan terhadap tindakan yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Meski dia seorang alim yang menguasai khazanah kitab kuning dan pengamal tarekat yang konsisten, namun sebagai keturunan bangsawan Jawa, kehidupannya juga tidak bisa dilepaskan dari filosofi dan tradisi Jawa. Dalam sebuah artikel bertajuk “Ratu Ageng Tegalrejo: Wanita Perkasa yang Tercuri Sejarah”, Nyi Ageng Tegalrejo adalah nenek buyut Pangeran Diponegoro.

Milal Bizawi (2018) menyebut Nyi Ageng Tegalrejo-lah yang mengasuh dan mendidik Pangeran Diponegoro baik di dalam ilmu agama, tarekat maupun politik. Dalam beberapa sumber juga disebutkan sang nenek inilah yang menjadi mursyid tarekat dan membaiat Diponegoro dalam tarekat.

Selain sebagai guru agama dan tarekat, Nyi Ageng Tegarejo ini juga seorang ahli strategi perang. Pengalaman sebagai Panglima Pasukan Kawal Kerajaan Perempuan telah menampatkan dirinya daam posisi yang vital dan strategis dalam perang Jawa. Nyi Ratu Ageng yang juga disebut Nyi Ageng Tegalrejo tidak saja menjadi penasehat spiritual dan guru agama bagi Diponegoro, tetapi sekaligus juga penasehat perang dan pengatur strategis yang menggerakkan kekuatan para kyai dan pesantren di Jawa dalam Perang Jawa yang dipimpin oleh Diponegoro.

*Rangkaian tulisan ini merupakan serial Wali Perempuan Indonesia yang ditulis oleh Ngatawi El-Zastrow dan telah dipublikasi di https://fin.unusia.ac.id/. Menurut penulis, karena data-datanya yang secara akademik belum teruji kesahihannya, maka tulisan ini dimaksudkan sebagai pintu masuk untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “wali” perempuan penyebar Islam di Nusantara dengan penggalian data-data yang lebih valid dan ilmiah. Dengan kata lain, tulisan ini hanya merupakan rangsangan bagi para peneliti dan akademisi untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “wali” perempuan di Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here