Ratu Nahrisiyah sering juga disebut Nahrisyah, merupakan ratu dari kerajaan Samudra Pasai yang berkuasa dari 1405-1428M. Meski berkuasa lebih dari 20 tahun, namun namanya kurang dikenal masyarakat. Hanya sedikit sejarawan yang menulis sejarah Ratu yang fenomenal ini. Namanya seolah tenggelam dalam kebesaran  Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, dan Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan tokoh perempuan aceh lainnya. Salah satu sejarawan yang menulis tentang Ratu Nahrisyah adalah T. Ibrahim Alfian.

Menurut Ibrahim Alfian Ratu Nahrasiyah dikenal sebagai sosok yang bijak dan arif. Selama berada di tampuk kepemimpinan, ia memerintah dengan sifat keibuan dan penuh kasih sayang. Selama masa pemerintahan Ratu Nahrisyah harkat dan martabat perempuan begitu mulia. Banyak perempuan terlibat aktif dalam penyebaran Islam, beberapa diantaranya  menjadi penyiar agama. Jejak sejarahnya bisa dilihat dari nisannya yang ada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, sekitar 18 km sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Makam tersebut berada di kompleks II (Kuta Karang), dan tidak jauh dari makam Sultan Malikussaleh yang terletak di kompleks I makam Raja-Raja Samudera Pasai.

Makam Ratu Nahrisyah sangat mewah, saking mewahnya C Snouck Hourgronje terkagum-kagum melihat makam peninggalan Kerajaan Samudra Pasai ini. Kekaguman ini disampaikan dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai guru besar di Rijksuniversiteit Lainden.pada 23 Januari 1907. Tidak hanya itu dia juga menuangkan kekaguman ini dalam buku Arabie en Oost-Indie, yang diterbitkan di Leiden pada 1907. Dalam buku ini Snouck Hurgronje mengakui makam Sultanah Nahrisyah yang terbuat dari pualam itu sebagai makam terindah di Asia Tenggara.

Di makam itu terdapat ukiran-ukiran bahasa Arab yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu kira-kira bermakna, “Inilah kubur wanita yang bercahaya yang suci Ratu yang terhormat almarhumah yang diampunkan dosanya Nahrasiyah … putri Sultanah Zainal Abidin putra Sulthan Ahmad putra Sulthan Muhammad Putra Sulthan Al Malikul Salih. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampuni dosanya meninggal dunia dengan rahmat Allah pada Senin, 17 Dzulhijah 832 (T. Ibrahim Alfian).

Pada tahun 2013 penulis sempat berziarah di makam tersebut bersama dengan seluruh anggota Ki Ageng Ganjur dan artis-artis Ibu kota; Fadli Padi, Tuty KDI dan Niken KDI (artis ibu kota yang berasal dari Aceh) saat tourshow konser religi di Aceh.  Saat kami berziarah, kondisi makam sudah tidak seindah yang digambarkan Snouk. Meski masih terlihat sisa-sisa kemegahannya, namun terlihat kotor dan tidak terawatt. Bahkan tulisan yang ada di makam tertutup lumut. Menurut pengakuan juru kunci makam itu jarang dikunjungi peziarah. Hanya sesekali ada peziarah dari jawa. Dan pada saat kami berziarah memang ada dua orang peziarah yang mengaku dating dari kediri dan sudah hampir seminggu tianggal di makam tersebut.

Selain keterangan yang ada di makam, catatan sejarah mengenai Ratu Nahrisyah juga terdapat pada sejarah Cina, yakni kronik Ying-yai sheng-lan. Dalam naskah  tersebut terdapat  laporan umum mengenai pantai-pantai Sumatra waktu itu serta menyebutkan raja-raja yang berkuasa. Dalam kronik dinasti Ming (1368-1643) buku 32 diceritakan, Sekandar (Iskandar) keponakan suami kedua Ratu bersama ribuan pengikutnya menyerang armada Cheng Ho yang sedang melakukan ekspedisi ke Nusantara. Tapi, serdadu-serdadu Cina berhasil mengalahkan penyerang tersebut hingga kemudian Sekandar ditangkap dan dibawa sebagai tawanan Istana Maharaja Cina. Di sana, Sekandar dijatuhi hukuman mati. Menurut Ibrahim, Ratu yang dimaksud dalam cerita Cina tersebut adalah Ratu Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin atau dalam literatur Cina sebagai Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki.

Sejarawan lain yang menulis kebesaran Ratu Nahrisyah adalah JP Moquette.Dia menulis buku De Grafsteenen Te Pase En Grissee Verge Liken Met Dergelijke Mo Menten Uit Hindoestan, diterbitkan dalam Tijdschrift Voor Indishe Taal Land-en Volkenkunde, Deel LIV, 1921. Menurut  JP Moquette Ratu Nahrisiyah meninggal pada 27 September 1428 M. Sultanah Nahrisiyah dikenal sebagai Malikah Muazzamah, yang memiliki arti ratu yang dipertuan agung. Epitaf pada makamnya menyebutkan bahwa Ratu Nahrasiyah bergelar Ra-Baghsa Khadiyu (Penguasa yang Pemurah). Kata dalam gelar tersebut seperti dari bangsa Persia.

 

  1. Ibrahim dan beberapa sejawarawan lain mencatat Ratu Nahrasiyah adalah sosok pemimpin besar yang disegani. Menurut keterangan juru kunci makam dan sesepuh yang ada di sekitarnya, pada era kemepimpinan Ratu Nahrisyah Samodra Pasai menjadi kerajaan yang mampu mengendalikan ekonomi di Kawasan Asia Tenggara. Pada saat itu beredar enam mata uang asing di Pasai, selain dinar yang menjadi mata uang kerajaan Pasai yang waktu itu berbentuk koin emas. Meskipun Ratu Nahrisyah merupakan pemimpin kerajaan yang masyur namun namanya tidak dicantumkan dalam mata uang dinar yang beredar saat itu. Padahal, pencantuman nama sultan di mata uang emas merupakan kebiasaan. Justru nama Salahuddin yang tertera dalam mata uang tersebut dengan gelar Sulthan al Adillah. Salahudin adalah suami Ratu Nahrisiyah yang kedua. Dia kawin dengan Salahudin setelah suami pertamanya wafat.

Dari bangunan makam yang ada, bisa terlihat kemegahan dan kemakmuran masayarakat Samudra Pasai pada zamannya. Bisa dimaklumi kalau kerajaan Samudra Pasai pada masa pemerintahan Ratu Nahrisyah menjadi pusat perekonomian Kawasan Asia Tenggara. Di sini menunjukkan, perempuan Nusantara tidak hanya menjadi permaisuri dan selir raja, tetapi bisa menjadi pemimpin hebat. Siti Nahrisiyah adalah contoh nyata perempuan Nusantara yang bisa terlibat aktif dalam persoalan ekonomi dan politik dalam penyebaran Islam. Oleh karenanya tidak berlibuhan kalau dia dianggap sebagai “wali” perempuan Nusantara.

 

*Rangkaian tulisan ini merupakan serial Wali Perempuan Indonesia yang ditulis oleh Ngatawi El-Zastrow dan telah dipublikasi di https://fin.unusia.ac.id/. Menurut penulis, karena data-datanya yang secara akademik belum teruji kesahihannya, maka tulisan ini dimaksudkan sebagai pintu masuk untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “wali” perempuan penyebar Islam di Nusantara dengan penggalian data-data yang lebih valid dan ilmiah. Dengan kata lain, tulisan ini hanya merupakan rangsangan bagi para peneliti dan akademisi untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “wali” perempuan di Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here