Oleh: Khotimatul Husna

Tetaplah di rumah saja. Begitu pemerintah resmi mengumumkan wabah Covid-19 sudah masuk Indonesia dan mengambil kebijakan social distancing. Kami, PW Fatayat NU DIY segera menginstruksikan struktur ke bawah agar menunda semua kegiatan yg bersifat massal. Padahal, berbagai rencana harlah untuk Fatayat sudah disusun rapi sedemikian rupa. Diklat Terpadu Dasar (DTD) IV dan Diklat Terpadu Menengah Garda Fatayat NU (DTM Garfa) juga sudah dipersiapkan untuk pelaksanaannya, namun akhirnya tertunda.

Tetapi, sebagai organisasi besar Fatayat tentu tidak bisa diam dalam situasi ini. Harus tetap ada gerakan yang bermanfaat untuk masyarakat sebagai respon atas kondisi ini. Sebagai respon awal, kami memutuskan membuat gerakan doa bersama setiap minggunya sebagai ikhtiar batin dengan pelaksanaan di rumah masing-masing, dan masih berlangsung hingga sekarang.

Di tengah situasi yang sedang prihatin ini, kami juga ingat bagaimana nasib warga miskin dan kelompok rentan lainnya. Kalau kita bisa memasak dengan berbagai menu baru setiap harinya, lalu bagaimana dengan mereka yang kurang beruntung. Fatayat tidak bisa diam saja dan sangat tergugah rasanya. Setelah koordinasi singkat dengan bidang sosial budaya PW Fatayat (PWF) dan Kepala Satuan Koordinator Wilayah (Kasatkorwil) Garfa sahabat Fetra, kami menggalang donasi untuk membantu warga rentan yang terdampak. Alhamdulillah, gerakan ini didukung penuh oleh ketua PC Fatayat dan Kepala Satuan Koordinator Cabang (Kasatkorcab) Garfa. Sedikit bantuan dari PWF dikelola dan dikembangkan lebih dari yg kami berikan. Semua bergerak membantu.

Bahkan, inisiatif dan gerakan untuk membantu dan mendukung tenaga medis, juga datang dari sahabat PCF Kulonprogo yang luar biasa. Karena jangkauan mereka terbatas, maka untuk kabupaten lain difasilitasi oleh PWF. Hingga saat ini, alhamdulillah sudah ribuan masker, ratusan paket sembako, ratusan hand sanitizer, dan sabun cuci tangan, disalurkan kepada 35 fasilitas kesehatan se-Yogyakarta. Adapun Alat Pelindung Diri (APD) seperti mantel, face shield, masker, dan nutrisi disalurkan oleh Fatayat.

Hampir setiap hari, pesan permintaan bantuan masih masuk ke ponselku, “Bu, panti kami butuh masker.” Permohonan yang serupa ini masih banyak. “Mbak, faskes kami butuh APD.” Ada juga tukang laundry, “Bu, sudah jarang yang nitip nyuci dan nyetrika karena sekolah dan kantor libur.” Baru saja, “Mbak, ini desa kami jauh dari kota, tidak bisa akses masker.” Ada juga curhatan tukang kayu, “Order sepi, Bu, ya kami dirumahkan.” 

Rasanya tidak bisa mendiamkan saja. Tapi kami juga bukan malaikat yang bisa segera mengulurkan bantuan. Jadi, dengan sedikit yang kami bisa, kami bermitra dengan beberapa pihak untuk menyalurkan bantuan dan dibantu para donatur yang budiman. Terimakasih PT Ansva (mbak Ulfah), Gusdurian, Garasi Sedekah, Afkaruna, PSKP UGM, PP Ulul Albab Jogja, Satgas PWNU DIY, PCF se DIY, donatur, dan lain-lain. Setiap hari mobil PW Fatayat digunakan untuk menyalurkan bantuan ke beberapa kabupaten. 

Hal yang membuat kami bersemangat membantu juga ketika ucapan terimakasih datang dari beberapa yang kami bantu, baik dari tenaga kesehatan atau dari warga. Dengan wajah berbinar, mereka mengulas senyum bahagia dan menyampaikan, “Terimakasih Fatayat.” Rasanya senang sekali meski hanya bisa sedikit membantu.

Kami berharap semua sahabat Fatayat tetap di rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Tinggal di rumah juga dapat bermanfaat melalui aktivitas positif lainnya, seperti berkebun (untuk ketahanan pangan keluarga dan Fatayat sedang mengkampanyekan ini). Imbauan saya kepada para relawan Fatayat dan Garfa, tetaplah patuhi protokol sebagai relawan kemanusiaan agar kita tetap selalu sehat dan bisa membantu sesama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here