Oleh: Nyai Hj. Umdah El-Baroroh

Banyak orang bertanya tentang bagaimana sebenarnya konsep Islam tentang hubungan atau relasi laki-laki dan perempuan. Banyak orang yang bingung atau tidak memahami sehingga seringkali kita mendapatkan atau melihat praktik-praktik di masyarakat yang mendiskreditkan perempuan atau menganggap perempuan sebagai makhluk di bawah laki-laki atau makhluk nomor dua. Sebenarnya bagaimana Islam berbicara tentang laki-laki dan perempuan?

Ada salah satu ayat di dalam Alquran yang sangat terkenal dan sering dikutip oleh banyak orang yaitu dalam surat al-Hujurat yang berbunyi, “Yaa ayyuhannaasu innaa kholaqnaakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qobaa`ila lita’aarafu inna akromakum ‘indallahi atqookum”. Artinya, wahai manusia sesungguhnya telah Aku ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.”

Ayat ini sesungguhnya menegaskan kepada kita, bahwa Islam menganggap laki-laki dan perempun adalah sama-sama makhluk Allah. Baik Laki-laki maupun perempuan sama-sama diciptakan oleh Allah, tidak ada yang lebih baik di antara yang lain kecuali hanya karena ketakwaannya kepada Allah. Oleh karena itu, kita sebagai perempuan tidak perlu lagi merasa rendah diri atau merasa tidak berani, takut, malu dan seterusnya, atau laki-laki merasa semena-mena atau sewenang-wenang memperlakukan perempuan.

Nabi dalam satu haditsnya juga menunjukkan atau memberikan penjelasan kepada kita bahwa, An-nisaa`u syaqoo`iqur rijaal (perempuan adalah saudara kandung laki-laki).  Saudara kandung di dalam keluarga memiliki kedudukan yang sama. Sama-sama memiliki tanggung jawab, sama-sama memiliki hak dan kewajiban, harus saling bekerjasama. Ini adalah perumpamaan yang sangat indah di dalam Islam.

Laki-laki dan perempuan mestinya juga membangun relasi seperti itu, sehingga tidak ada yang disebut bahwa perempuan itu jadi makhluk nomor dua. Kita tahu bahwa ketika Nabi datang membawa risalah Islam, para masyarakat jahiliyah menganggap perempuan sebagai makhluk yang sangat memalukan. Ketika perempuan lahir dianggap sebagai aib, sehingga ketika perempuan lahir harus dikubur hidup-hidup dan harus dibumihanguskan dari kehidupannya.

Ini kemudian ditentang oleh Allah melalui ayat-ayat Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan kemudian Nabi Muhammad menghentikan praktik penguburan hidup-hidup bagi perempuan. Ini menunjukkan bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad melalui ajaran tauhid menegaskan kepada kita bahwa melalui ajaran tauhid, kita harus menyadari sepenuhnya bahwa yang berhak untuk diagungkan, dimuliakan, dan disembah hanyalah Allah Swt. Kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” memberikan deklarasi yang tegas bahwa kita semua ini adalah hamba Allah.

Hanya Allah-lah yang menjadi Tuhan. Selain Allah adalah hamba, baik itu manusia, hewan, tumbuhan, alam semesta, ada langit, bumi dan seterusnya. Oleh sebab itu, kita tidak perlu memperhamba diri kepada mereka. Kita hanya berhak menghambakan diri kepada Allah.

Dalam ayat yang lain di dalam Alquran juga memberikan gambaran yang sangat indah, misalnya di dalam surat At-Taubah Allah berfirman, “Wal mu’minuuna wal mu’minaatu ba’dhuhum auliyaa’u ba’dh.” Artinya, para laki-laki yang beriman dan para perempuan yang beriman satu dengan yang lain adalah menjadi penolong bagi yang lainnya.

Ini menunjukkan hubungan kesalingan yang setara, tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih rendah. Ajaran-ajaran semacam ini harus terus-menerus kita praktikkan, kita ajarkan kepada masyarakat bahwa Islam tidaklah mengajarkan praktik penindasan, bukan hanya laki-laki terhadap perempuan, tapi juga manusia kepada alam semesta.

Kita harus melakukan hubungan yang setara. Jika hari ini masih banyak masyarakat yang memahami bahwa ada ayat-ayat yang dianggap mendiskreditkan perempuan atau merendahkan perempuan, ini sebenarnya adalah penafsiran yang kurang tepat.

Dalam Islam dikenal ajaran Tadriij. Jadi turunnya Alquran itu sendiri melalui prinsip tadrij atau penahapan. Di dalam penahapan tentu saja ini menunjukkan atau mengajarkan kepada kita tentang proses yang harus dilalui. Artinya kita melakukan perubahan itu tidak bisa sekali waktu selesai, tetapi harus melalui proses penahapan, dari mulai dasar kemudian naik hingga mencapai tujuan utamanya.

Ayat yang masih menunjukkan bahwa perempuan seakan-akan di bawah laki-laki atau menjadi separuh dari kemanusiaan laki-laki adalah ajaran yang masih sifatnya tadrijiy, yang masih antara, yang pada tujuan akhirnya nanti akan mencapai tujuan kesetaraan bahwa manusia adalah laki-laki dan perempuan sekaligus dan tidak ada yang lebih utama dibanding yang lain. Penafsiran tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata dan membangun relasi yang adil terhadap laki-laki dan perempuan sehingga kehidupan kita menjadi kehidupan yang sangat maslahah, karena laki-laki dan perempuan esensinya adalah manusia, sama-sama memiliki tanggung jawab sebagai khalifah Allah di bumi, dan harus menjalankan fungsi beribadah kepada Allah atau ‘ibaadatullah dan juga imaarotul ardhi atau memakmurkan kehidupan.

Tanpa ada kerja sama antara laki-laki dan perempuan, maka tugas kekhilafahan akan terasa berat. Kita harus bersama-sama bergandengan tangan, saling mendukung, membantu, dan menguatkan sehingga fungsi atau tugas kekhilafahan benar-benar dapat direalisasikan. Melalui upaya tersebut, kita dapat mencapai kebahagiaan di dunia sekaligus akhirat.

Video ceramah ditayangkan di kanal Youtube Swararahima dotcom : (https://www.youtube.com/watch?v=hxVS3PS8-JI)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here