Oleh: Helmy Ali

Ikhlas adalah sikap, perbuatan atau tindakan. Dengan mengacu kepada akar katanya (kh-l-sh), Ikhlas  bermakna  ‘bersih’,  ‘jernih’, ‘tidak bercampur dengan sesuatu yang lain’. Dalam bahasa Indonesia, biasa disamakan artinya dengan ‘tulus’ atau ‘tanpa pamrih’. Jadi Ikhlas itu adalah sikap atau perbuatan yang dilakukan tanpa pamrih, tanpa berharap memperoleh balasan atau imbalan; entah dlm bentuk materi, atau penghargaan. Biasanya perbuatan atau tindakan ikhlas itu, spontan, tidak direncakan sebelumnya. Mungkin karena ikhlas itu lebih banyak bertumpu pada hati.  Kalau dalam bahasa agama, ikhlas dimaknai sebagai perbuatan yang dilakukan semata-mata karena Allah, semata-mata hanya mengharap keridoan  Allah Swt. 

Jadi tidak atau bahkan tidak boleh dikatakan, hanya dilakukan atau dilakoni saja. Ada kalimat dalam bahasa Bugis yang menggambarkan ikhlas itu dengan bagus, yakni tampeddingngi naleppa lila. Kira-kira artinya tidak boleh sama sekali tersentuh lidah, atau tidak (boleh) terkatakan. Dengan makna seperti itu, ikhlas menjadi unik. Begitu dikatakan (saya ikhlas) maka maknanya menjadi hilang. Bahkan sesungguhnya, karena memang lebih banyak bertumpu pada hati, begitu dikatakan maka orang mungkin sudah terjebak dalam apa yg disebut penyakit hati, yang mengakibatkan munculnya sikap yang aneh. Bisa terjebak ‘ujub (bangga dengan segala macam atribut dan aksesoris yang melekat pada diri sendiri; lalu pamer dan takjub dengan diri sendiri; pakaian atau aksesoris mungkin memang  bagus, tetap kelihatan aneh, karena tidak sesuai dengan waktu atau tempatnya) dan riya (selalu mengagungkan atau memuji diri sendiri; ‘sayalah yang berjasa’, atau ‘kalau bukan saya, maka (kamu, dia, situasi) tidak akan begitu’); pokoknya orang lain itu tidak ada, yang ada hanyalah dia. Padahal, mana ada pekerjaan yang bisa dilakukan sendirian. 

Ujub dan riya menurut Sa’id Hawwa (dalam Tazkiyatun Nafs), mengeksplorasi pikiran Imam al Ghazali (dalam Ihya Ulumudin), adalah salah dua dari sejumlah  penyakit hati.  Di antaranya tidak (pandai) bersyukur, munafik (tidak konsisten), menyimpang, mengada-ada, sombong, pelit, dan seterusnya. Hal yang disebut penyakit hati itu, ketika dibicarakan, memang bisa dipilah dan diurai sendiri-sendiri. Tetapi sesungguhnya dempet,  melekat satu sama lain. Di balik ujub, ada riya, ada sombong, ada dengki, pelit, serakah dan seterusnya. Di balik riya ada ujub, dengki, serakah, dan seterusnya. 

Kalau mengacu ke Alquran, surah al Baqarah ayat 10-20, (lekat pada kelompok orang yang disebut munafik, yang mempunyai daya rusak sangat besar di muka bumi). Penyakit hati itu mempunyai kecenderungan bertambah terus menerus. Penyakit hati itu seperti merambat, semakin lama semakin meluas dan membesar, memenuhi hati, pikiran dan pada akhirnya jiwa. Orang seperti itu, yang di dalam hatinya ada penyakit yang terus menerus bertambah, pada akhirnya, tidak bisa lagi mendengarkan. Punya telinga, tetapi tidak bisa mendengarkan, punya mata, tetapi pandangannya gelap. Segala aturan, etika bisa ditabrak begitu saja jika kepentingannya terganggu. Maka sikap dan tindakannya pun menjadi semakin aneh, mungkin (sebenarnya) tidak normal. Daya rusaknya pun semakin besar. Entah di mana nanti tempatnya orang seperti itu. Maka tampaknya perlu selalu memeriksa diri agar bisa terhindar atau bebas dari penyakit hati ini, sebelum merusak diri sendiri dan orang lain (masyarakat). 

Tiba-tiba saya ingat dosen saya dulu, Prof. Thariq Syihab Allah Yarhamh (ahli perbandingan agama), di Fakultas Ushuludin, IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN). Salah satu dosen favorit, selain keilmuannya (dia seperti ensiklopedia berjalan), karena sikap dan penampilannya yang keren (tinggi besar, necis, dengan dasi kupu-kupu yg selalu bertengger di leher); dengan gaya bicaranya yang khas Betawi. Suatu ketika (kalau tidak salah bulan puasa), dia menjadi kesal di kelas. Mungkin karena merasa sudah  menjelaskan, bolak-balik, detail, masih ada  saja tidak paham tentang tema yang dikuliahkan. Maka ketika seorang mahasiswa bertanya kembali apa yang sudah dijelaskan, beliau spontan berkata, sambil berkacak pinggang “hei Jabrik, itu yang nempel di kepale, telinge ape tanduk!” Maka kelas pun meledak, riuh, penuh derai ketawa dari  mahasiswa yang tidak seberapa jumlahnya. Dia sendiri, akhirnya terkekeh-kekeh. Prof. Tharik Syihab, tidak secara spesifik bicara tentang ikhlas dan penyakit hati. Beliau tampaknya hanya tidak bisa membedakan antara tanduk dan telinga, ketika telinga dianggapnya tidak lagi berfungsi dengan baik. Entahlah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here