Oleh: Nyai Hj. Hanifah Muyassarah

Banyak yang beranggapan bahwa orang-orang yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender adalah orang-orang yang tidak mengindahkan agama dan tidak taat kepada agama. Begitu juga dengan perempuan yang menuntut hak, keadilan dan kesetaraan, dianggap bukan perempuan yang salihah. Lebih-lebih ia akan dianggap sebagai seorang yang merusak tatanan ajaran agama.

Tentu saja pendapat tersebut tidak benar. Dalam ajaran dasar agama kita, yaitu akidah Islam atau lebih dikenal dengan tauhid, ajaran dasarnya yang pertama yaitu mengenal sifat-sifat Allah. Sifat-sifat wajib, sifat-sifat mustahil dan sifat-sifat jaiz. Dalam sifat wajib, ada sifat wujud, qidam, baqo’, mukkholafatu lil hawaaditsi, qiyaamuhu binafsihi, wahdaniyah, qudroh, irodat, ‘ilmu, sama’, bashor, kalam, hingga sampai sifat mutakallimat. Sifat qidam artinya bahwa Allah itu tidak ada yang mendahului keberadaannya, sifat wujud artinya bahwa Allah itu ada, sifat baqo’ itu kekal, wahdaniyah artinya Allah itu Esa, lam yalid wa lam yuulad, artinya Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Begitu juga Allah memiliki sifat ‘ilmu, yakni Maha mengetahui. Allah memiliki sifat qudrot artinya berkuasa, dan irodat berkehendak. Allah juga memiliki sifat mendengar, melihat, dan berbicara. Sifat-sifat tersebut menggambarkan bahwa Allah-lah yang Maha tinggi, memiliki keagungan, kekuasaan, dan keabadian. 

Orang-orang yang beriman kepada Allah, beriman kepada sifat-sifat Allah, dan memahami sifat-sifat Allah, sangat bisa dimengerti bahwa ia tidak pernah menganggap dirinya memiliki kemuliaan. Ia tidak akan menganggap dirinya lebih  mulia dari orang lain. Ia tidak akan menganggap dirinya lebih terhormat atau memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding orang lain, karena sifat-sifat Allah menunjukkan bahwa yang memiliki kemuliaan, keagungan, kebesaran, dan kekuasaan hanya Allah Swt. 

Manusia sebagai makhluk Allah diciptakan dalam kondisi yang sama. Dalam posisi dan derajat yang sama. Seperti yang disampaikan Allah dalam surat al-Hujuraat ayat 13. A’uudzubillahi minasy syaithoonir rojiim, bismillaahirrohmaanirrohiim, “Yaa ayyuhannaas, innaa kholaqnaakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qobaa`ila lita’aarofuu, inna akromakum ‘indallahi atqookum.” Ayat tersebut menyebutkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berjenis kelamin perempuan dan laki-laki, tujuannya adalah untuk saling mengenal. 

Sifat-sifat Allah yang wajib menunjukkan bahwa hanya Allah Swt yang memiliki kemuliaan, keagungan, dan kekuasaan. Orang-orang yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender sejatinya sedang mengajarkan tentang keagungan Allah. Mereka sedang mengajarkan tentang kekuasaan Allah dan tentang kebesaran Allah. Artinya apa? Seseorang yang memperjuangkan hak dan derajat yang sama bagi laki-laki dan perempuan, artinya sedang mengajarkan nilai-nilai yang paling dasar dalam ajaran Islam yaitu akidah islamiyah.

Bagi orang-orang yang memahami sifat-sifat Allah, hakikat Allah (memiliki kebesaran, keagungan, dan kekuasaan), maka meyakini bahwa dirinya sebagai manusia tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Kita semua berada dalam kondisi, derajat, dan posisi yang sama. Hal yang membedakan adalah ketakwaan di hadapan Allah Swt.

Oleh sebab itu, mari kita mengajarkan kepada lingkungan kita dan anak-anak kita untuk mengenalkan sifat-sifat Allah. Ada hubungan yang sangat erat antara keimanan kepada Allah Swt dengan sifat-sifat Allah Swt melalui perjuangan, keadilan dan kesetaraan gender. Mudah-mudahan hal yang kita lakukan dan perjuangkan adalah bagian dari upaya mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

Video ceramah ditayangkan di kanal Youtube Swararahima dotcom: (https://www.youtube.com/watch?v=nor_Mev0vho&t=21s)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here